
Setelah 1 jam setengah Bleta Bora terbang, posisi mereka kini tepat berada di atas kota Julang emas, perbatasan antara hutan Urip Mokswa tempat bandit Dirgacitra dan Desa Lembarawa yang kini berubah nama menjadi Kadipaten Maung Bahari.
Setelah Wijaya Kusuma mengalahkan siluman jauhetu rota dan berhasil merebut wilayahnya, para orang kaya yang suka memeras rakyat diam-diam melarikan diri menuju benteng bandit Dirgacitra, dan berencana melakukan penyerangan untuk merebut kembali desa Lembarawa.
"Ibunda, dibawah ini kota apa? apakah bagian dari kota raja?" tanya Wijaya dengan raut muka penasaran.
"Bukan nak, itu adalah kota julang emas. Seperti namanya kota ini adalah penghasil emas yang sangat banyak dan terkaya di wilayah kerajaan Brabang Sari. Namun setahu ibunda mereka tak pernah membayar upeti pada kerajaan. Menurut informasi pemimpin bandit Dirgacitralah yang ada dibelakang mereka!" jelas Shintadewi dengan raut muka datar.
"Yang mulia gusti prabu!, yang mulia gusti prabu!" ucap Maung Bodas memanggil Wijaya melalui telepati.
'Ya, saudaraku Maung Bodas mendengarmu. Ada hal penting apa yang ingin engkau sampaikan?" tanya Wijaya kusuma dengan raut muka penasaran.
"Yang mulia gusti Prabu!, trio naria astuci telah kabur diam-diam semalam. Menurut informasi ksatria binting yang mengejar, mereka masuk kawasan hutan urip Mokswa kawasan benteng Dirgacitra!" lapor Maung Bodas.
"Kalian perkuat penjagaan! semua penduduk ungsikan menuju markas baru kita!, nanti ada ibundaku yang kesana bersama paman Drona dan 12 penjaga Brabang Sari!, aku akan menangani mereka sendiri!, sepertinya aku tahu mereka kabur kemana!" perintah Wijaya Kusuma.
"Sendiko yang mulia gusti prabu, hamba akan segera laksanakan!" jawab Maung Bodas melalui telepati.
"Ada apa anaku, sepertinya ada hal yang penting?" tanya Shintadewi dengan raut muka penasaran.
"Oh ya ibunda, saudaraku Maung Bodas memberi kabar bahwa trio naria astuci telah kabur!" jawab Wijaya.
"Mohon maaf yang mulia putri mahkota! mereka adalah para orang kaya yang semena-mena di desa Lembarawa yang memonopoli hasil panen padi dan ikan. Mereka bernama Kongkeng, Bongkeng, dan Congkeng. Kami pernah mengirim telik sandi untuk mematai-matai mereka dan mencari bukti tentang kejahatan mereka. Mereka terlalu licik selalu berhasil mengelabui pihak kerajaan bahkan menhilangkan beberapa telik sandi. Sampai saat ini jasad telik sandi kerajaan belum di temukan," sela Drona sambil membungkuk hormat.
"Terima kasih paman Drona atas infomasinya!" ucap Wijaya dengan raut muka tersenyum kecil.
"Hm," ucap Shintadewi menggembukan pipi karena masih sedikit kesal dengan kejadian di halaman ujian perguruan Brabang Sari.
"Maafkan saya tuan putri, hamba benar-benar menyesal. Hamba bersumpah setia pada pangeran Wijaya, jika hamba melanggar hamba rela terkena kentut seseorang yang telah memakan kadal rawa api selama satu tahun," ucap Drona dengan raut wajah penuh penyesalan.
Shintadewi yang mendengar ucapan Drona tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, "hahahahahahahaha, baik paman Drona aku akan memaafkanmu. Sudah lupakan saja masalah yang telah lalu."
__ADS_1
"Terima kasih yang mulia putri Mahkota," Drona dengan raut yang sangat sumringah setelah Shintadewi memaafkannya, "fyuuh, hampir saja, kalau tidak aku bisa babak belur di hajar putri monster itu" batin Drona.
"Ibunda, paman Drona dan Ksatria 12 penjaga kalian teruskan perjalanan, nanti temui paman jatmiko dan bawakan gulungan surat ini padanya. Saudaraku Bleta Bora, kamu langsung menuju markas baru kita dan turunkan mereka semua di sana. Aku akan menuju kota julang emas, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Mungkin beberapa hari aku tak pulang ke Kadipaten Maung Bahari," perintah Wijaya Kusuma.
"Baiklah ibu mengerti!" ucap Shintadewi sambil mengelus lembut rambut Wijaya kusuma.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" Bleta Bora sambil menganggukan kepala.
"Sendiko yang mulia pangeran!" Drona dan 12 ksatria penjaga serentak dan menganggukan kepala.
"Oh ya ibunda aku meminta satu hal lagi. Tolong pasang Formasi bintang binting pada seluruh bagian kadipaten Maung Bahari, takut ada musuh menyerang secara tiba-tiba!" mohon Wijaya.
"Di mengerti bos!" Shintadewi dengan pose cantik dan menggoda.
"Sungguh luar biasa yang mulia putri mahkota sangat cantik," batin Drona dan 12 ksatria penjaga, tak sadar darah keluar dari hidung mereka.
"Hahahaha," Shintadewi tertawa terbahak-bahak dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wijaya pun melompat dan terjun dari punggung Bleta Bora sambil melambaikan tangan. Bleta Bora terbang sangat tinggi diatas ketinggian 3000 meter.
Muka dan bibir Wijaya terkena hempasan angin membuat mukanya sangat jelek. Dengan kedua bibir mencuat keluar menutupi hidung dan mata terpejam.
Disaat sudah mendekat jarak kira-kira 200 meter, wijaya merapal ajian sagisaga, "ajian sagisaga gamana katakawa," tubuh Wijaya berhenti seketika melayang di atas awan, lalu turun menukik perlahan.
Wijaya mengamati dari atas, mencari pintu gerbang masuk kota julang emas. Wijaya tak mau menonjolkan diri terbang dari atas langsung masuk ke pusat kota. Tapi Wijaya turun agak jauh 1 km dari pintu gerbang masuk kota julang emas.
SYUUUT...TAP...TAP...
Wijaya berlari agak cepat menuju pintu gerbang masuk kota julang emas. Beberapa orang sedang mengantri ingin masuk ke kota julang emas, namun penjaga meminta upeti pada mereka sebagai biaya masuk.
Seperti biasa Wijaya menggunakan jurus suap menyuap, itu adalah salah satu ajian pamungkas Wijaya.
__ADS_1
Wijaya menyandarkan tubuhunya pada tembok pintu gerbang, lalu melempar pelan kantung yang berisi uang dan melambaikan tangan pada salah satu penjaga untuk mendekatinya.
"Tuan penjaga apakah kamu tidak mau uang, aku berikan 3 mega bagaimana?" pancing Wijaya Kusuma.
Salah satu penjaga terbatuk mendengar ucapan Wijaya, "uhuk,uhuk,uhuk, benarkah tuan? apakah tidak berbohong?" ucap penjaga memastikan.
"Tentu saja mana mungkin aku berbohong pada sahabat baiku!" Wijaya tersenyum lebar dan merangkul pundak penjaga sambil memberikan kantung uang. Penjaga membuka kantung uang itu lalu matanya berbinar-binar, "terima kasih tuan, apa yang bisa aku bantu?" tanya salah satu penjaga.
"Biarkan aku masuk, aku ingin membeli beberapa senjata!, apakah kamu tahu sahabatku dimana tempat membeli senjata yang terbaik di pusat kota?" tanya Wijaya sambil menaik-turunkan alisnya.
"Tentu saja tuan aku tahu, itu di toko trio naria astuci. Pemilik tokonya orang yang kaya raya disini, yaitu tuan Kongkeng, tuan Bongkeng, dan tuan Congkeng. Jika tuan ingin membeli senjata khusus, aku punya jalan khusus ini lencana trio keng dan sandinya adalah kongkongkow!" bisik pelan salah satu penjaga.
"Sungguh menarik dewa keberuntungan menghampiriku, satu dayung 100 pulau terlampaui!" batin Wijaya Kusuma dengan raut senyum jahat.
"Terima kasih sahabatku kamu memang terbaik, ini ada tambahan untukmu sebagai rasa terima kasihku. Di dalam kantung ini ada 7 mega, berikan pada temanmu itu 3 mega! bagaimanapun juga sahabatmu adalah sahabatku juga, hahahaha!" Wijaya terbahak-bahak sambil memukul-mukul punggung penjaga.
"Terima kasih tuan, tuan sangat dermawan. gajiku saja satu bulan hanya 100 kiga. Apakah perlu aku antar tuan?" tanya penjaga.
"Tidak perlu aku akan mencarinya sekalian cuci mata, hahahah!" Wijaya menaik-turunkan alisnya.
Wijaya pun masuk meninggalkan pintu gerbang penjaga sambil menyandarkan kepalanya pada tangkupan tangan yang berada di belakang kepalanya.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
__ADS_1
Jika suka silahkan klik tombol favorit.
Terima kasih juga untuk kak RIZA ID (QUATZER GOD) sudah membuatkan cover novel Ksatria langit nusantara