
Apakah itu ajian kanuragan bhandayuda sewu mwazi tudla? tapi totokannya sangat tepat dan akurat di 321 titik aliran tubuh. Perbedaanya juga sangat jelas dengan ajian sewu mwazi tudla milik pamilya Kusuma yaitu bisa membuat lumpuh seketika baik aliran energi dan aliran darah."
" Sungguh totok yang sempurna, jika dikombinasikan dengan ajian kanuragan bhandayuda zotsalira dewata bisa membuat tubuh menjadi bubur darah sangat mengerikan pangeran Wijaya!" Pikir Senopati Kamandaka sambil mengelus dagunya.
Wijaya yang masih mengarahkan telapak tangannya pada kening Asmarini, melepaskan ajian jagat saksana kusuma jiwa. Untuk menyembuhkan semua luka luar dan dalam serta mengalirkan kembali aliran darah dan energi di dalam tubub Asmarini.
Tubuh Asmarini di selimuti aura berwarna hijau, aliran energi dan darahnya kembali mengalir lancar semua luka luarnya menutup serta kulitnya kembali mulus tanpa lecet sedikit pun.
"Terima kasih tuan Wijaya, maaf pangeran Wijaya!" Asmarini berdiri dan menundukan kepala dengan pipi merah merona. "Jangan sungkan kita kan teman, bagaimana mungkin seorang teman membiarkan teman lainnya terluka!" Wijaya tersenyum ramah.
"Yang mulia gusti prabu! hamba melapor!" Ksatria binting berlutut dengan satu kaki sambil meninju telapak tangannya.
"Ada apa ksatria, adakah hal penting yang ingin di laporkan?" tanya Raja Surya dengan suara berat menambah kesan wibawa.
"Pemuda yang ditemukan terdampar di istana Fonsamari telah sadar, yang mulia gusti prabu!" Ksatria binting yang masih menundukan kepala.
"Baik, mari kita melihatnya! tunjukan jalannya!" Raja Surya mempersilahkan dengan melambaikan tangannya ke depan. Semuanya mengikuti ksatria binting di depan menuju ruangan Manggala Saputra dirawat yaitu ruangan khusus pengobatan.
Mereka semua akhirnya sampai, wajah Manggala Saputra pucat pasi, "Mohon permisi! biar aku yang memeriksanya!" Pinta Wijaya. "Silahkan pangeran!" Raja Surya dengan suar berat mempersilahkan.
Wijaya menonaktifkan maputi aksa dan menggantinya dengan Reinka Aksa yang kini berubah bentuk. Tadinya pupil mata berwarna jingga dikelilingi 7 tomoe berwarna jingga. Kini berubah menjadi mata beriak seperti ripela aksa namun berwarna jingga.
__ADS_1
Manggala yang melihat mata Wijaya tertegun dan berpikir, "bukankah itu evolusi reinka aksa, mata reinkarnasi yang bisa mengidentifikasi penyakit apapun dan menyembuhkannya. Bagi penggunanya bisa meregenerasi luka luar dan dalam serta luka di dalam jiwa, pamilya Saputra saja, belum pernah ada yang bisa mengaktifkan evolusi reinka aksa. Itu hanya tertulis dan tergambar jelas di kitab warisan lelulur pamilya Saputra yaitu kitab pancer banu, aigua rumi. Darimana pemuda itu mendapatkannya?"
Wijaya mulai meneliti secara detail tubuh Manggala dengan urat otot menghitam dengan reinka aksa, " berbahaya! cepat keluar semua. pemuda ini akan meledak tubuhnya! evakuasi semua warga cepat!" Teriak Wijaya dengan suara panik.
Semua orang yang di dalam istana Fonsamari panik dan berlari menuju tempat evakuasi, "tak ada cara lain aku harus melakukannya!" gumam Wijaya langsung memeluk Manggala dan menggunakan ajian sagisaga gamana katakawa dan ajian baladewa brabata naga terbang melesat keluar dari gelembung pelindung istana Fonsamari.
SHUA...SWUSH...JGAAR...
Air laut berhamburan ke atas akibat gelombang kejut yang dihasilkan Wijaya terbang melesat cepat ke atas langit, "sial! orang yang melakukan hal ini sangat pintar, yaitu menanamkan racun peledak di dalam tubuh targetnya." Gumam Wijaya Kusuma.
Kesadaran Manggala sudah hampir hilang urat otot tubuhnya yang menonjol semakin membesar dan mulai berubah warna, dari warna hitam menjadi warna hitam kemerahan.
Wijaya dan Manggala sekarang yang melayang di atas awan. Langit yang cerah di penuhi bintang-bintang dan bulan purnama bersinar terang.
Wijaya mengaktifkan segel bulatan kepala naga di dahinya, yang dikelilingi 7 bulu berwarna merah, jingga, kuning, hijau dan 3 bulu berwarna hitam. Wijaya menotok 321 titik aliran energi pada tubuh Manggala dengan ajian sagisaga, sewu mwazi tudla.
Wijaya meminumkan 10 pil parantaja efektifitas 25% dan 10 pil tehostin efektifitas 100% pada Manggala. Stamina dan luka di tubuhnya kembali pulih serta kesadarannya kembali. "Wadah jiwa energi apa yang kau punya?" Tanya Wijaya pada pemuda itu yang melayang. "Wadah jiwa energiku dari bayi sudah tingkat Prana, tak ada yang lain?" jawab Manggala dengan suara parau.
"Baik gunakan semua energimu, keluarkan!" pinta Wijaya. Tanpa pikir panjang Manggala melakukannya, tubuhnya bersinar terang, otot urat yang menonjol juga semakin membesar dan lama kelamaan berwarna kuning terang. Lama kelamaan sinar itu hanya membentuk bola sebesar kepalan tangan di dalam dada Manggala. Wijaya memukul bola di dalam dada Manggala dengan menghentakan telapak tangannya.
Manggala memuntahkan bola itu dari mulutnya dan Wijaya secepat kilat menendang bola seukuran kepalan tangan itu ke atas langit menuju atmosfer bumi. Bola itu melesat cepat dan meledak di atmosfer bumi. Suara ledakannya sangat besar dan membentuk ukuran jamur yang besar di atmosfer bumi serta gelombang kejutnya menghempaskan semua awan yang menutupi bulan purnama.
__ADS_1
BANG...SHUA....BOOM...JDAAAR...JGAAAR...
Fenomena ledakan ini juga terlihat sampai di ketiga Kekosawaan yaitu Sriwijaya, Siliwangi dan Majapahit. "Ledakan apa itu?" gumam kosawa Sri maharaja Baduga. "Sungguh menyebalkan ledakan apa lagi ini!" teriak kosawa Kertarajasa Jayawardhana. "Sial, bocah keparat! bajingan kampret itu berhasil selamat! cari bocah tengik itu dan cincang dia!" Umpat Hyang Dapunta Sri Jayanasa.
Pusaka yang dimiliki kosawa Hyang Dapunta Sri Jayanasa bisa membuat racun peledak, jika target yang diserang berhasil selamat dari ledakan. Meskipun hanya terkena gelombang kejut dari serangan pusaka nuolia itu. Racun peledak itu seperti bom waktu semakin banyak mengeluarkan energi maka semakin cepat pula racun itu membentuk bola peledak seperti bola rajahtava di dalam tubuh target.
Wijaya dan Manggala terbang perlahan masuk kembali ke dalam istana Fonsamari, tubuh mereka berdua terlindungi bola air yang dibuat manggala dengan ajian pancer banu, bola binting.
Semua orang di dalam istana Fonsamari masig terlihat panik setelah suara dentuman bola racun rajahtava meledak di atas langit. Wijaya berjalan ke halaman evakuasi istana Fonsmari, "sudah! semuanya aman terkendali, jangan panik kembalilah seperti semula!" Teriak Wijaya Kusuma.
Raja Surya, Ratu Endang, dan Asmarini mendekat ke arah Wijaya, "Bagaimana keadaan pemuda itu?" tanya mereka bertiga serentak. "Semuanya baik-baik saja, hanya tadi terkena racun peledak seperti bom waktu!" ucap Wijaya dengan raut wajah yang tenang.
"Maaf kalau kehadiranku membuat gaduh disini. Aku meminta maaf, namaku Manggala Saputra dari Kerajaan Banjar Betung kekosawaan Sriwijaya, aku Adipati di Kadipaten Bakaheuni. Namun-" Ucap Manggala dengan raut muka yang sangat sedih hingga menitikan airmata.
****Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
__ADS_1
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong******.