KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
MASA LALU EMPU CULUK BAGIAN 1


__ADS_3

Sementara itu Wijaya terdampar di dalam air terjun dan di tolong oleh seorang kakek berjanggut hitam, berkuncung hitam, dua gigi bawah menonjol ke depan melewati bibir atas dan memakai pakaian pertapa serba hitam.


Sudah Hampir 4 hari Wijaya Kusuma belum sadarkan diri, kakek kuncung hitam telah banyak memberikan ramuan pada Wijaya namun belum kunjung sadar, membuat kakek kuncung hitam agak frustasi.


Ditambah suhu tubuh Wijaya terus naik tak pernah turun dan sering mengigau memanggil Shintadewi, membuat kakek kuncung hitam sangat khawatir. Mata kakek kuncung hitam lekat setiap hari memandangi tubuh Wijaya yang seperti cucunya sendiri.


Sesekali kakek kuncung hitam pergi meninggalkan Wijaya yang berada di dalam goa air terjun dan menyusuri sungai di dalam goa air terjun, hanya untuk mencari obat dan makanan.


"Aku hanya seorang empu pembuat senjata dan sudah terkurung lama di gua air terjun ini, rasanya rindu untuk pergi ke dunia luar namun aku tak bisa," gumam kakek kuncung hitam bernama culuk dengan raut wajah yang sedih, dan beramatia seorang pandai besi setingkat empu.


Sebelum Wijaya terjun dan masuk ke dalam sungai, Wijaya sempat menyarungkan dan mengikat taiga maung loka pada pinggangnya. Wijaya berpikir sudah tak sempat menyimpan taiga maung loka pada ripela aksa.


"Pedang bertipe braza ini aku baru pertama kali melihatnya, dari tekstur material yang di gunakan merupakan bahan yang sangat ringan dan keras serta bisa menimbulkan daya rusak yang sangat besar. Tapi siapa yang menbuatnya?" Tanya Empu Culuk dalam batinnya dengan raut muka yang bingung.


Empu Culuk adalah Empu yang sangat terkenal dalam membuat senjata, seluruh kekosawaan di semua bimantala banyak yang mencarinya.


Senjata yang pernah di buat Empu Culuk untuk hadiah kekosawaan Majapahit yaitu keris Kiai panca giwala, hadiah untuk kekosawaan Siliwangi yaitu kameya (belati) yaitu kujang maung kembar , hadiah untuk kekosawaan Sriwijaya yaitu Nuolia (panah) Pasopati, hadiah untuk kekosawan Kutai kertanegara miekha (pedang) naga puspa, hadiah untuk kekosawaan Giwa Pranala buntar (tombak) kidang kober, hadiah untuk kekosawan Papiva Nagana Kilopa (pedang dan perisai) Damar sasongko, dan hadiah untuk kekosawaan tri nusa dua bali Vajra (trisula kembar) Garuda Driserda.


Namun keberadaan Empu culuk setelah ribuan tahun hilang bagai di telan bumi. Wijaya mulai siuman kesadarannya perlahan mulai kembali, " Dimana aku?" tanya Wijaya yang masih memegangi kepalanya yang masih sakit dan masih berbaring di kasur jerami milik Empu Culuk.


Wijaya Kusuma melihat sekelilingnya ternyata dia berada di dalam yang cukup luas namun penerangannya cukup terang, untuk bisa melihat jarak pandang sejauh 10 meter.


"Nak,kamu sudah bangun?" Empu culuk sambil memegang cawan dari bambu yang di dalamnya ada ramuan vahvistina (penguat tubuh), Empu Culuk sengaja membuat ramuan Vahvistina untuk Wijaya jika sudah siuman nanti, minumlah ramuan ini untuk mengembalikan staminamu, nak?."


"Baiklah kakek, terima kasih sudah merawatku," Wijaya menerima cawan bambu lalu meminumnya.

__ADS_1


"Kakek, aku disini sudah berapa lama?" tanya Wijaya pada Empu Culuk.


"Nak, kamu sudah 4 hari pingsan. Aku menemukanmu di tepi air terjun ketika aku sedang bersemedi, lalu ketika membuka mata ada suara keras jatuh dari atas air terjun. Aku pikir itu batu ternyata kamu nak!" Empu Culuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa? aku sudah empat hari aku pingsan, uhuk uhuk uhuk! teriak Wijaya karena kaget, lalu menyandarkan badannya di dinding gua sambil terbatuk-batuk.


"Kenapa? apakah masih sakit?" tanya Empu Culuk sambil memegang dahi Wijaya dan membolak-balikan tangannya, "ah tidak panas," Empu culuk memasukan tangannya pada ketiaknya lalu menempelkan tangannya lagi pada dahi Wijaya.


"Kakek bau tahu!" Wijaya sambil menutup hidungnya.


"Mana mungkin pria tertampan di benua nusantara ini ketiaknya bau!" Empu culuk mencium tangan yang sudah dimasukan ke sela-sela ketiak, "Tuh kan wangi!."


"Hahahahaha, kakek memang lucu, hahahaha!" Wijaya berguling-guling di kasur jerami dan memegang perutnya.


"Aku sudah lama tidak melihat tertawa manusia lainnya sudah berapa lama aku terjebak disini, ah sial!" Empu Culuk bergumam dalam hati.


"Namaku Wijaya Kusuma dari Brabang sari tepatnya Desa Lembarawa sekarang berubah nama menjadi Kadipaten Maung Bahari, kakek. Kalau nama kakek siapa? Wijaya dengan nada sopan sambil menunjuk Empu Culuk dengan jempol kanannya.


"Namaku Wiharja jayantaka, dulu aku punya anak namanya Jatmiko Jayantaka, waktu masih bayi aku menitipkannya pada saudaraku Resi Syudawirat!" jelas Empu Culuk.


Jatmiko tidak mengetahui jika Empu Culuk adalah ayahnya, karena sedari bayi sudah dalam pengasuhan Resi Syudawirat.


"Nama Jatmiko aku mengenalnya kakek, namun apakah nama Jatmiko yang kakek sebutkan itu sama dengan paman Jatmiko yang sudah aku anggap saudara. Paman jatmiko menjadi Lurai di desa Lembarawa, jika kakek ingin menemui untuk memastikannya aku akan mengantar kakek bertemu paman Jatmiko nanti!" ucap Wijaya dengan nada yang sopan.


"Aku tak bisa keluar dari sini!" ucap Empu Culuk.

__ADS_1


"Memangnya kenapa kakek? tanya Wijaya dengan raut muka penasaran.


"Hmm, baiklah aku akan menceritakakannya padamu," Empu Culuk menghela nafas panjang.


*Flashback Empu Culuk*


Wiharja Jayantaka adalah seorang pemuda yang sangat berbakat, ayahnya adalah seorang dewata baladika senopati di kekosawaan Siliwangi bernama Jayantaka. Jayantaka adalah kepala pamilya sekaligus leluhur pamilya Jayantaka.


Wiharja senang sekali mengoleksi batu-batu dari berbagai pegunungan. Tak ayal Wiharja sering sekali di marahi jayantaka, karena sering bepergian sendiri untuk mencari batu.


Hingga suatu hari ia bertemu Syudawirat yang sedang bertapa di gunung tangkuban perahu, Wiharja pun ikut bersemedi di dalam gua seperti Syudawirat.


Pada malam bulan purnama selanjutnya, terjadi gempa di dalam gua atas munculnya sebuah kitab pandai besi bernama kitab Bruta Zambala, salah satu bagian dari kitab jagat buana.


Syudawirat hampir saja mati tertimpa batu gua, namun Wiharja tersadar dan langsung menubruk Syudawirat untuk menyelamatkannya.


Syudawirat sangat berterima kasih pada Wiharja dan memberikan kitab bruta zambala (kitab pandai besi) pada Wiharja sebagai balas budi.


Syudawirat dan Wiharja berteman sangat baik, sampai-sampai Wiharja tinggal bersama Syudawirat dan mempelajari kitab bruta zambala.


Syudawirat mempunyai adik perempuan bernama Sawitri, dan Sawitri sangat menyukai Wiharja. Syudawirat mengetahui jika adiknya jatuh cinta pada Wiharja dan meminta Wiharja untuk menikahi Sawitri.


Selang satu tahun Wiharja menikah dengan Sawitri dan Jayantaka merestuinya, namun karena Wiharja suka bepergian mencari batu, Wiharja tak pernah tinggal di herehuisa pamilya jayantaka.


Di usianya sangat muda Wiharja berhasil membuat 7 senjata tingkat Konta yang di hadiahkan pada semua kosawa di benua nusantara. Wiharja yang sangat jenius dalam membuat senjata di beri gelar Empu Culuk.

__ADS_1


**Mohon maaf jika updatenya gak teratur waktunya author lagi banyak pekerjaan maklum profesi author sebagai teknisi dokter lampu hahaaha.


Mohon harap maklum masih di usahakan satu hari up 2 chapter**


__ADS_2