KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
AGNI PITAYAN (PEDANG TUJUH API)


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Anarghya masih berlarian cepat mencari kidang kencana (rusa) di hutan Joyoboyo. "Masih 450 kepala lagi, cari dimana lagi ya?" Pikir Anarghya. Tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang sangat cepat dan banyak. Anarghya naik ke atas pohon dan mengedarkan persepsi dengan wiel aksa hanya menjangkau radius 15 meter. "Sepertinya di sana ada kidang kuning (raja siluman kidang kencana). Pasti banyak yang berkumpul di sana!".


Anarghya berlari cepat dan langsung menebaskan pedang api ke kepala kidang kencana.


SLASH...TRANG...DUK...


Tebasan pedang api Anarghya berhasil di tangkis tanduk kidang kuning yang melindungi kawanannya. "Raja yang memikirkan rakyatnya sungguh hebat!"


Tubuh Anarghya berkedip cepat. "Ajian pancer agni, kabasaran agni (tarian perang api)!" Tubuh Anarghya diselimuti aura merah kehitaman pekat, kulitnya yang putih berubah putih kemerahan, urat ototnya menonjol keluar di seluruh tubuh, pedang apinya berkobar lebih besar dan lebih cepat berwarna merah keemasan.


"Hebat juga bocah udik itu bisa mengelurkan ajian tingkat pamungkas pancer agni. Ya meskipun aku sendiri yang memberinya, tapi terlalu cepat juga berani mengambil resiko tinggi untuk menggunakan ajian itu!" Gumam Wijaya yang masih membuat senjata untuk Anarghya dengan bersila di udara.


Anarghya meliuk-liuk dengan sangat cepat menebas kepala kidang kencana satu persatu. Gerakannya lemah gemulai dan sangat lentur seperti orang yang sedang menari membawa pedang.


SLASH...SLASH...SLASH...


Waktu semakin malam tapi karena tubuh Anarghya yang bersinar dengan ajian kabasaran agni, kali ini agak lama sampai jam baru mendapatkan 300 kepala kidang kencana. Meskipun kawanannya sangat banyak namun setiap kali Anarghya menyerang kidang kuning selalu menghadang dan kecepatannya juga satu tingkat lebih cepat dari gerakan Anarghya.


"Hah, hah, hah, sial kidang kuning itu selalu menghalangiku. Raja yang sangat setia pada kawanannya, tidak membiarkanku sedikitpun membuat celah. Tanduknya juga sangat keras pedang apiku tak mampu menebas tanduk sialan itu!" Umpat Anarghya dengan nafas terengah-engah. "Chakraku memang tak terbatas sekarang tapi staminaku sudah mencapai puncaknya."


"Payah! sungguh payah! bagaimana aku bisa menerimamu sebagai murid kalau begitu saja mulai menyerah. Dalam pertarungan siapa yang tahu kelemahan musuh dia yang akan mengendalikan pertarungan! ini gladiosa untukmu!" Wijaya berbicara dengan energinya lalu melemparkan gladiosa dari atas langit.


SHUA....WUNG...WUNG...WUNG...JLEB...

__ADS_1


"Terima kasih guru! berarti kau sudah menerimaku ya! sampai repot-repot memberikan bedhama ini untukku! Teriak Anarghya sambil menengadah ke atas.


"Kata siapa, itu senjata tingkat ajisaka mana mungkin ku berikan untukmu. Jika kau gagal tentu saja aku ambil kembali karena itu barang pinjaman!" Ucap Wijaya yang sudah berada di samping Anarghya.


"Wadidaw! kau mengagetkanku saja guru!" Ucap Anargya dengan raut muka terkejut.


"Coba saja ambil gadiosa itu kalau kamu mampu!" Cibir Wijaya.


"Hanya mengambil pedang saja guru, masa harus mengeluarkan tenaga! kacang saja!" Ucap Anarghya dengan nada meremehkan.


Anarghya mulai mengambil gladiosa yang tertancap. Anarghya ambil tapi tak bisa dicabut, "jadi berat begini, aaaaargh!" Anarghya meraung keras sambil menarik gladiosa namun belum bisa di cabut.


"Sial berat sekali gladiosa ini! aaaargh!" Anarghya mengeluarkan chakra, lengannya membesar, tanah disekitarnya terangkat oleh tekanan aura merah yang membara ditubuh Anarghya. "Hah, hah, hah, aku sudah tak kuat!" Anarghya langsung terkapar.


"Sesekali gunakan otakmu, payah! sungguh payah. Tak semua masalah bisa diselesakan dengan otot, masa harus selalu memberitahumu, calon murid yang payah!" Wijaya menepuk jidatnya sendiri lalu menggeleng-geleng pelan.


"Gunakan otaku, tunggu bedhama ini tingkat ajisaka. Dalam gulungan pengetahuan sejarah tentang bedhama di kerajaan kediri yang pernah aku pelajari waktu itu. Belum ada satu Empu pun yang berhasil membuat senjata tingkat Ajisaka. Empu Culuk yang sangat terkenal pun hanya mampu membuat bedhama hanya tingkat konta."


Anarghya menggigit jempolnya lalu meneteskan darah ke gladiosa di depannya. Gladiosa itu bersinar berwarna merah, lalu Anarghya memegang gagang gladiosa itu dan memejamkan mata serta mengalirkan energi chakra yang banyak ke gladiosa.


"Tarik!" Teriak Anarghya menarik gladiosa dan muncul sinar dengan 7 warna mewakili 7 agni yaitu :


Api tahap Chakra namanya Pulawa Agni (api merah).


Api tahap Mana namanya Azula Agni ( api biru).


Api tahap Chi namanya Dilawa Agni (api kuning).


Api tahap Qi namanya Berdeva Agni ( api hijau).

__ADS_1


Api tahap Reiki namanya Kahela Agni ( api jingga).


Api tahap Prana namanya Maputi Agni (Api putih).


Api tahap Quantum namanya Itima Agni (Api hitam).


7 api itu mengelilingi gladiosa, Anarghya berhasil menarik gladiosa yang diselimuti 7 api yang berkobar-kobar. "Haaaaaaah!" Anarghya berteriak dan mengeluarkan gelombang kejut, menghempaskan semua kidang kencana di sekitarnya. Gelombang kejut dengan radius 1 kilometer itu memotong semua kepala kidang kencana dan pepohonan yang ia lewati.


"........" Wijaya terdiam dengan muka datar menahan hempasan hanya dengan mengalirkan energi Quantum ke telapak kakinya "Anak yang menarik, sesuai yang aku duga. Wajar saja dia di angkat jadi putra mahkota oleh kakek prabu Raksa." Gumam Wijaya.


Dengan secepat kilat Anarghya langsung menghisap semua kepala kidang kencana yang mati ada seribu kidang kencana yang ia bunuh jadi totalnya 1850 kepala yang berhasil ia kumpulkan. Anarghya melesat cepat untuk ke arah kidang kuning dan akan menebasnya.


"Sudah hentikan! kita bisa membuatnya menjadi teman!" Teriak Wijaya lalu menahan tebasan gladiosa Anarghya dengan tangan kosong. Gladiosa mengeluarkan asap karena Gladiosa ditahan oleh dua jari Wijaya, 7 api yang mengelilingi gladiosa itu pun lenyap.


"Sungguh hebat hanya menahan tebasanku dengan dua jari, gila benar-benar gila. Padahal aku menebasnya dengan sekuat tenaga!" Batin Anarghya dengan mata terbelalak.


Wijaya mengelus kepala kidang kuning. "Maafkan aku dan muridku, aku ingin menjadikanmu keluarga. Aku akan mengembalikan semua rakyatmu asal kau mau menjadi keluargaku!"


"......" Kidang Kencana percaya dan menganggukan kepalanya.


"Ajian ciung wanara!" Wijay merapal ajian lalu menghentakan kedua telapak tangannya ke tanah.


POFF...


Muncul gulungan ciung wanara yang sangat besar. Wijaya membuka gulungan dan meneteskan darah dari jempol kanan pada salah satu slot gulungan lalu menuliskan nama kidang kuning. "Ajian beluk sandarawa, orja (teknik pemanggil segel budak)!" Dari telapak tangan kanan Wijaya muncul rune sihir berwarna emas.


Wijaya langsung menempelkan rune sihir ke kening Kidang kuning, tubuh kidang kuning membesar, bulunya berubah dari kecoklatan menjadi emas. Tanduknya yang panjang memendek dan berubah warna kekuningan terang. Tingkatannya juga baik dari dendawa inggil ke praburata inggil.


"Wow, sungguh keren!" Ucap Anarghya dengan mata yang berbinar-binar melihat keindahan perubahan kidang kuning.

__ADS_1


"Cepat keluarkan semua kepala kidang kencana!" Perintah Wijaya. Anarghya mengeluarkan 1850 kepala dari gelangnya. Kepala kidang kencana menumpuk seperti bukit. "Ajian jagat saksana, muling buhayina (teknik penyembuhan terlarang, menghidupkan kembal)!


Gundukan kepala kidang kencana diselimuti aura hijau terang, lalu terbang satu persatu mencari tubuh masing-masing dan menyatu, tebasan braka Anarghya seolah tidak ada, lalu semua kidang kencana bangun serta membuka mata.


__ADS_2