KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
TANTANGAN RAJA SURYA BAGIAN 3


__ADS_3

"Apa!" teriak serentak semua yang berada di aula singgasana herehuisa pamilya Kusuma. Semua yang hadirnya menjatuhkan rahangnya. "Kakek Empu sudah menceritakan semua padaku, makanya aku mau membantu kerajaan Dharma Ayu. Tapi masalah harga senjata mohon maaf tidak bisa membantu, heheheh. Aku minta dua kali lipat!" Wijaya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dasar pemuda licik!, dasar mata duitan!" umpat mereka berempat kecuali Raja Surya dalam batinnya. "Berapa yang kau tawarkan nak Wijaya untuk Ardhiona Nayaka ini?" tanya Raja Surya. "Cukup murah gusti prabu! senjata tingkat ajisaka ini hanya aku yang bisa membuatnya kakek Empu saja tak mampu, hahahaaha. Baik 50 tera!" Wijaya kembali terkekeh.


"Apa! brengsek kau bajingan tengik mau memeras ayahandaku ya?" teriak pangeran Wiralodra.


"Tenanglah nak!, terlalu murah hanya 50 tera. Kau tau Empu Culuk dulu, sebelum menghadiahkan kujang maung kembar kepada kosawa Sri Maharaja Baduga, padahal hanya senjata tingkat Konta berapa yang Empu Culuk minta? 1000 tera. Namun akhirnya menyerahkannya kepada Kosawa Sri Maharaja Baduga, karena dikejar-kejar terus oleh pembunuh bayaran, hahahaha!" Raja Surya terkekeh.


Semua yang hadir disana menjatuhkan rahangnya setelah mendengar apa yang dikatakan Raja Surya, pusaka tingkat konta dijual 1000 tera. "Baiklah aku memberimu 2000 tera sekaligus pembayaran untuk 1000 senjata lainnya, bagaimana?" tanya Raja Surya.


"Baik aku menerimanya gusti prabu sekarang juga akan diselesaikan." Jawab Wijaya dengan mata berbinar-binar.


Wijaya melanjutkan membuat senjatanya sampai 5 jam tanpa henti menggunakan ajian sagisaga formasi pagporma dan berdheva agni. Kali ini Wijaya hanya menggunakan energi Reiki meskipun tinggal 19% tapi efektifitasnya lebih akurat untuk membuat senjata.


Dengan mengkonsumsi 19% energi reiki dan 40 % energi Qi, Wijaya berhasil membuat 1000 senjata tingkat Ajisaka tanpa esensi jiwa. 200 kilopi, 100 miekha, 100 gladiosa, 300 buntar jagala, 200 nuolia, 100 braza.


Wijaya menggunakan ajian jagat saksana, kusuma jiwa untuk memulihkan staminanya dan menelan 20 pil tehostin untuk mengembalikan semua energinya. Gunungan senjata yang dibuat Wijaya, memenuhi aula singgasana herehuisa pamilya Kusuma.


Gunungan senjata segera disimpan ke gudang senjata milik pamilya Kusuma oleh para anggota pamilya Kusuma yang lain. Raja Surya menyerahkan 20 kotak berisi 100 tera setiap kotak pada Wijaya.


Wijaya menyimpan kotak uang ke dalam ripela aksa di telapak tangan kanannya, membuat semua orang di dalam aula singgasana tercengang, tangan bisa menghisap benda dan menyimpannya ke dalam telapak tangan.


"hah, hah, hah, baik syarat yang ketiga ayo kita mulai jangan membuang waktu!" Wijaya kehabisan nafas karena 5 jam tanpa henti membuat senjata.


"Mari kita keluar aula" perintah Raja Surya. Mereka semua pergi ke sebuah arena latihan di belakang herehuisa, atap bertahtakan gelembung air, panorama ikan yang berlalu lalang yang begitu indah di dasar laut.


"Aku tidak akan sungkan padamu tuan Wijaya!" teriak Asmarini yang sudah berada di atas arena dengan melompat. "Tentu, aku juga tak ingin kecantikan nona lecet lalu berubah menjadi kepala babi!" ledek Wijaya Kusuma dengan mengedipka matanya menggoda Asmarini.


Asmarini mengaktifkan maputi aksa namun berbeda dengan milik Wijaya, hanya pupil matanya saja yang putih. "Ajian pancer bantala, bumi thera (tusukan bumi)," Asmarini memukul-mukul tanah. Tanah di bawah Wijaya membentuk ujung yang runcing, Wijaya melompat untuk menghindar dan setiap kali Wijaya hampir menyentuh tanah. Tanah itu selalu membentuk ujung yang runcing setinggi 1 meter.


DUG...DUG...DUG...KRAK...KRAK...KRAK...

__ADS_1


"Ajian baladewa, brajamusti!" Tangan Wijaya di selimuti aura merah seperti api berkobar-kobar lalu memukulkannya pada tanah runcing yang terus muncul tanpa henti.


BANG...SWUSH...BOOM...


Gelombang kejut menghempaskan seluruh tanah runcing yang berada di arena latihan istana Fonsamari. Semua orang yang berada di arena latihan istana Fonsamari terkena hempasan gelombang kejut. Bahkan pelindung gelembung air istana Fonsamari pun, mendengung keras terkena hempasan gelombang kejut pukulan Brajamusti Wijaya.


"Hati-hati hempasan anginnya sangat kuat! berlindung!" teriak Prabu Surya mengalirkan energi mana pada telapak kakinya sebagai medan penahan hempasan gelombang kejut.


"Pemuda yang sangat sakti mandraguna. Hanya satu hentakan pukulan saja, ajian bumi thera dihancurkannya dengan mudah. Padahal itu adalah ajian andalan Asmarini, belum ada satu pun yang mampu mengalahkannya di kekosawaan Siliwangi." Gumam Putri Sukmasari sambil mengalirkan mana pada telapak kakinya.


SWUSH....


Ajian baladewa brajamusti sebenarnya adalah ajian terlarang, karena bisa menambahkan pancer atau elemen apapun pada serangannya. Contohnya saja untuk sekarang Wijaya hanya menambahkan pancer agni, karena pancer dasar yang di miliki Wijaya sekarang adalah api (agni). Untuk mengkolaborasikan pancer lain pada pukulan Brajamusti butuh kontrol pancer yang sangat mumpuni, saat ini Wijaya belum bisa.


"Ajian pancer bantala, bantala seina!" teriak Asmarini merapal ajiannya. Asmarini mengkonsumsi energi chakra 15% untuk membuat tiga lapis dinding tanah. Untuk menahan serangan hempasan gelombang kejut dari pukulan Brajamusti Wijaya.


BRAG...BRAG...BRAG...SWUSH...KRAK...


Namun sayang hempasan gelombang kejut akibat pukulan Wijaya terlalu kuat, tig lapis dinding tanah yang dibuat Asmarini hancur luluh lantak. Wijaya melihat Asmarini terdesak langsung melesat cepat menggunakan ajian brabata naga.


SHUA...SWUSH...


Dan mengahantamnya dengan pukulan, namun reflek Asmarini juga sangat cepat berhasil menangkis serangan Wijaya dengan menyilangkan tangan di tengah dada Asmarini. "Dasar laki-laki mesum apa kau mau, sial mau apa kau!" teriak Asmarini dengan mengumpat.


BANG...KRASAAK...


Asmarini terpundur kakinya bergesekan dengan permukan tanah di arena istana Fonsamari, lalu menahan kaki dengan tumpuan pada kaki kanan dan melesat cepat untuk menerjang Wijaya dengan tendangan kaki sebelah kiri Asmarini.


SHUA...BANG...BANG...BANG...


Wijaya menahan semua tendangan asmarini yang begitu keras dengan tangkisan tangan. Jika saja yang menahan orang biasa dapat dipastikan tulangnya pasti patah, namun yang menahan tendangan Asmarini adalah Wijaya jadi bukan masalah. Suara benturan kaki Asmarini dan tangan Wijaya suaranya sangat keras hingga memekakan telinga, gelombang kejutnya juga menghempaskan permukaan tanah arena menjadi retak.

__ADS_1


"Dua-duanya di tahap dendawa inggil tapi aku merasa cucuku bukan tandingan Pangeran Wijaya. Sepertinya Pangeran hanya bermain-main saja dengan cucuku." Gumam Prabu Surya mengelus dagunya.


Pertarungan sangat sengit hingga ribuan gerakan jurus dilontarka masing-masing, tapi belum ada tanda-tanda satupun staminanya terkuras meskipun sudah bertarung selama satu jam.


"Cih, apa hanya segitu kemampuanmu nona Asmarini. Sungguh membuatku kecewa!" ledek Wijaya yang masih menangkis serangan tendangan dan pukulan Asmarini sambil menyeringai jahat.


"Jangan berisik! aku akan tunjukan kemampuanku yang sebenarnya!" Asmarini salto ke belakang tiga kali lalu menangkupkan tangannya, urat otot di sekitar kelopak matanya menonjol keluar. "Ajian kanuragan bandayuda, sewu mwazi tudla (ajian totok seribu jari)!" teriak Asmarini merapal ajiannya lalu melesat cepat ke arah Wijaya dan menotok tubuh Wijaya dengan seribu totokan secara acak.


TSUK...TSUK...TSUK...


Wijaya hanya diam dan santai menerima seribu totokan Asmarini. Kemudian Wijaya menyeringai jahat dan tertawa terbahak-bahak, "hahahaha, sungguh menyedihkan! ajian seperti ini tak akan mempan padaku!"


Wijaya yang terus menerus terkena totokan Asmarini tertawa terbahak-bahak, seperti sedang dikelitiki oleh Asmarini, lalu meraung keras untuk mematahkan ajian sewu mwazi tudla milik Asmarini. "Hahahaha, lucu sangat lucu itu jurus apa serangan kelitikan hahaha. Akan aku tunjukan kesejatian ajian itu, aaaaargh!"


Asmarini terhempas 10 meter, melayang ke arah pelindung gelembung air istana Fonsamari, karena terkena gelombang kejut yang dikeluarkan dari tubuh Wijaya. Tubuh Wijaya diselimuti berwarna putih lalu melesat ke Asmarini melepaskan ajiam sagisaga sewu mwazi tudla. Wijaya menotok 321 titik aliran energi pada tubuh Asmarini secara tepat cepat dan akurat.


TSUK...TSUK...TSUK...


Aliran energi pada tubuh Asmarini berhenti seketika dan tubuhnya tidak bisa digerakan, Akhirnya Asmarini jatuh terduduk di samping batas pelindung gelembung air Istana Fonsamari.


BRUK...


Wijaya mengarahkan telapak tangan tepat di kening Asmarini, "aku menyerah!" teriak Asmarini dengan pipi merah merona karena dikalahkan oleh Wijaya.


**Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.

__ADS_1


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong****.


__ADS_2