KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
DESA LEMBARAWA


__ADS_3

CWUSZH....


Muncul seketika rombongan rakyat Maung Bodas yang diteleportasi oleh raja Angga di padang rumput hijau seluas 2 kali lapangan yang dikelilingi persawahan, 500 meter dari pintu masuk desa Lembarawa.


"SAYUTA," Shintadewi melepas ajiaannya dan seluruh tubuh bayangannya hilang.


SYUUUT.....POFF...POFF...POFF...


"Kita sudah sampai di desa Lembarawa, Arya mohon berikan gulungan surat tentang informasi desa Lembarawa dan lencana kepengurusan lencana bangsawan Lurai kepada Wijaya!" titah raja Angga.


"Baik, yang Mulia prabu!" kata Arya sambil membungkuk hormat. Arya lalu memberikan gulungan surat tentang informasi desa Lembarawa kepada Wijaya.


"Terima kasih kakek arya!" ucap Wijaya sambil membungkuk hormat.


"Nak, kakek raja dan Kakek Angga sudah memberikan kamu hadiah sekarang tinggal ibu yang akan memberikanmu hadiah," Shintadewi sambil mengeluarkan batu bintang bharatayudaha dari ripela Aksanya.


"Batu bintang bharatayudha adalah batu yang sangat langka, karna batu yang mempunyai manfaat banyak. Pertama bisa untuk membuat senjata, kedua sebagai bahan campuran ramuan sehingga bisa meningkatkan efektifitas sampai maksimal 100%, ambilah nak!" ucap Shintadewi sambil menjelaskan.


Semua yang berada di sana rahangnya hampir jatuh mendengar Shintadewi menjelaskan tentang bintang batu bharatayuda. Bawana setingkat Mahadayana pun di benua nusantara hanya mampu membuat ramuan paling tinggi efektifitas 75%.


Jika tahu ada batu seperti itu sebagai bahan pembuatan ramuan para bawana akan memuntahkan seluruh asam lambungnya.


Wijaya menyimpan batu bintang Bharatayudha ke ripela aksanya, " mohon saudaraku semua merahasiakan ini semua. Aku tidak ingin benua nusantara gempar dan memburuku gara-gara batu ini, aku sudah cukup lelah dengan ketampananku ini."


Semua yang mendengar ucapan Wijaya menepuk jidat mereka, mengapa punya pangeran yang senarsis ini.


"Baik, kami akan kembali ke istana kerajaan jika perlu bantuan segera hubungi kami. Kuserahkan desa ini padamu dan temui lurai desa Lembarawa dab berikan surat ini!" ucap raja Angga sambil memberikan gulungan surat dan menepuk pundak Wijaya.


"Selamat tinggal nak, baik-baik disini!" Shintadewi sambil mencium kening Wijaya dan memeluknya.


"Oh, ya ini ada hadiah tambahan untukmu!, kitab dewata adilaga. Kitab ini berisi ammatia semua ksatria, jenis senjata ksatria, strategi perang, dan ilmu cara membuat senjata, kuserahkan padamu!" Arya sambil memberikan kitab dewata adilaga pada Wijaya.

__ADS_1


"Selamat tinggal cucuku," ucap raja Angga, ratu Adiningrum dan Arya sambil memeluknya bergantian.


Ada kesedihan di mata Shintadewi, air matanya pun turun bagai hujan rintik-rintik. Baru saja ia bertemu dengan Wijaya kini harus berpisah kembali demi sebuah tugas negara.


Melihat ibundanya meneteskan air matanya, Wijaya menyeka air mata Shintadewi, " Ibunda jangan Khawatir, san bersedih aku akan pulang 3 hari lagi dan berjanji nanti ajari aku ajian aksamala baureksa. Kalau ibunda menangis nanti ayahanda tidak akan mencintai ibu lagi."


"Ya ibunda tak akan menangis lagi, ibunda percaya padamu. Ya ibu akan ajari nanti jika kamu sudah pulang," Shintadewi sambil mengelap ingus di hidungnya.


"Hmmm, anak ini, ya aku bingung juga kalau di tanya ayahnya siapa. Gara-gara dewata agung jahanam itu malah aku yang repot begini, sial! dia yang membuat aku jadi perawan tua seperti ini, kampret!" Batin Shintadewi kesal.


"Hei nenek tua peot, kenapa aku yang kau salahkan? bilang saja kau tak bisa berpaling dari ketampananku ini, hehehhe," ledek dewata agung jayalaksana di dalam pikiran Shintadewi.


"Hmm, dasar dewata agung jahanam!" umpat Shintadewi dalam hati.


"Selamat tinggal," Ucap Arya, Shintadewi raja Angga dan ratu Adiningrum serentak sambil melambaikan tangan.


Shintadewi, Arya, raja Angga dan ratu Adiningrum bergandengab tangan, dan berteleportasi kembali ke istana kerajaan Brabang Sari dengan Ajian pancer bumi, melipat bumi milik raja Angga.


CWUSZH...


Para rakyat Maung Bodas berjalan perlahan menuju pintu masuk desa Lembarawa. Terlihat dari luar bangunan yang kumuh dan agak rusak seperti memang tak terawat lapuk di makan usia.


Penduduk desa Lembarawa ada sekitar 3000 warga, dengan 2000 laki-laki, 500 perempuan dan 500 anak-anak. Mata pencaharian mereka rata-rata bertani dan bernelayan, hanya orang yang kaya dan terpandang saja yang berjualan. Mereka para orang kaya juga bekerjasama dengan para hajdut untuk memonopoli hasil pertanian dan perikanan.


Mereka tak segan-segan memaksa membeli hasil pertanian dan perikanan dengan harga yang sangat murah. Nasib penduduk Lembarawa memang sangat tragis, sudah jatuh ketimpa tangga lalu di timpa durian runtuh.


Mereka semua berbondong-bondong sampai di depan pintu masuk desa Lembarawa, ada dua orang penjaga yang bermalas-malasan menjaga pintu masuk desa Lembarawa


"Kalian tunggu di sini, aku akan melapor dahulu!, saudaraku Maung Bodas ikut denganku!" perintah Wijaya


"Permisi!, saya ingin bertemu dengan lurai desa Lembarawa, dia ada di mana?" tanya Wijaya dengan sopan sambil mengeluarkan uang 200 kiga dan memberikannya pada kedua penjaga serta menunjukan lencana bangsawan tingkat brahmacaraka V.

__ADS_1


Mereka berdua kaget melihat lencana itu, "pa_pa_pangeran, hamba memohon maaf tidak mengetahui pangeran. Maaf kami tidak dapat menerimanya. Kami akan hantarkan pangeran ke kediaman lurai Jatmiko."


"Sudah terima saja anggap saja hadiah dariku yang tampan ini, jarang-jarang aku yang tampan ini memberi hadiah. Baik, mohon tunjukan jalannya!". Wijaya dengan wajah narsisnya.


Melihat Wijaya seperti itu lagi dan lagi, para rakyat Maung Bodas tertawa cekikikan sambil menutup mulut mereka, "pfffft, ckckckck."


Mendengar dibelakangnya tertawa cekikikan felix menoleh dan menepuk jidatnya sendiri, kemudian tersenyum lebar, "heheheh."


Kedua penjaga berjalan di depan, Wijaya Kusuma dan Maung Bodas berjalan di belakang mengikuti mereka.


Setelah beberapa saat sampailah meraka di kediaman Lurai Jatmiko. Rumah yang cukup sederhana tapi tidak lusuh seperti rumah-rumah yang lainnya yang sudah hampir rapuh, salah satu penjaga mengetuk pintu.


"TOK...TOK...TOK..., Lurai ada yang ingin bertemu dengan lurai, mohon izinkan masuk."


"Masuklah," Ucap Jatmiko sambil meijat keningnya.


KRIEEET....


Terlihat seorang pria paruh baya dengan kumis tipis melintang ke atas, dengan wajah yang pucat pasi dan kondisinya sangat lesu.


"Permisi lurai, pangeran dari istana kerajaan Brabang Sari ingin bertemu," ucap salah satu penjaga.


"Hormat pada pangeran!" ucap Jatmiko sambil membungkuk hormat. "Silahkan, duduk pangeran!, maaf hamba tidak menyambut dengan baik kedatangan pangeran."


"Sudah paman jangan terlalu sungkan," ucap Wijaya.


Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.

__ADS_1


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit.


__ADS_2