
Wijaya tak ingin kota julang emas di bawah kepemimpinannya, makanya Wijaya menyerahkan kota julang emas pada Shintadewi untuk menjadi sumber pendapatan yang banyak untuk kerajaan Brabang Sari.
Setelah pengumuman Shintadewi, Raja Angga, dan Senopati Arya tiba di kota Julang Emas untuk menentukan nasib 1000 tawanan bandit Dirgacitra dan pasukan perunggu neraka.
Sebelum Wijaya pergi ke Kadipaten Maung Bahari menaiki Karbara Sayuta. Wijaya berhasil membuat ramuan orja untuk 1000 tawanan, jika mereka setia pada kerajaan Brabang Sari maka mereka tidak akan meledak menjadi bubur darah. Namun jika berkhianat maka akan menjadi bubur darah.
Meskipun begitu Raja Angga memberikan mereka pilihan mati di tangan algojo atau bersumpah setia pada kerajaan Brabang Sari.
1000 tawanan ingin hidup meski harus meminum ramuan orja yang dibuat Wijaya. Wijaya menarik 200 pasukan Maung Lodaya dan 100 pasukan bargawa untuk kembali ke Kadipaten Maung Bahari.
Kekuatan tempur kota Julang Emas meningkat drastis, tambahan dari kerajaan 1000 pasukan di tingkat ksatria terdiri dari 200 berah adilaga, 200 ksatria inggil, 10 baladika adilaga, 10 dewata adilaga. 100 Ksatria binting, 150 ksatria bujaga, 200 ksatria binting dan 10 ksatria ambek pati. 50 bargawa, 30 bargawa slira, 30 bargawa sura dan 10 balakosawa.
Penambahan dari pasukan perunggu neraka 100 baladika adilaga (pasukan berkuda), 200 hajdut (ninja), 350 vrases (ninja elite), 100 ereti vrashes (ninja sekelas ANBU), 150 samura dan 100 bargawa.
Penduduk yang baru mendaftar militer ada sekitar 4000, Wijaya menyuruh 12 ksatria penjaga untuk melatih 4000 warga yang ingin ikut menjadi ksatria dengan menunjuk Prasetya menjadi kepala perguruan Julang Emas.
Wijaya memakai pakaian set ereti vrashes menaiki Karbara, di ikuti 200 pasukan Maung Lodaya dan 100 pasukan bargawa yang menaiki Maung Lodaya menuju Kadipaten Maung Bahari melewati sungai basudara dan bekas markas Bandit Dirgacitra.
Setelah dua jam perjalanan terlihat dinding benteng yang cukup besar menjulang tinggi, sebagai batas antara wilayah kekadipaten dan sawah.
Tiga meriam bledog jurig di tempatkan di atas pintu gerbang depan, di menara pengintai di bagian tengah kekadipatenan, dan menara pengintai bagian tengah bukit batu karang.
Semua pembangunan sudah selesai sesuai apa yang diperintahkan Wijaya Kusuma tempo hari. Wijaya berjalan melewati pintu gerbang Lembarawa, warga mulai sibuk beraktivitas.
Ada perdagangan antar bimantala lain dari kekosawaan Kutai kertanegara, setelah Jatmiko membangun pelabuhan di tepi laut Maung Bahari. Wilayahnya mulai ramai pengunjung dari kerajaan Martapura.
Untuk wilayah kerajaan sekitar Jatmiko belum bisa membuka jalur perdagangan karena adanya halangan para bandit di kedua perbatasan kadipaten Maung Bahari dengan kerajaan Caruban Nagari dan Demak bintoro.
Karbara terus berlari menuju bukit batu karang, 100 pasukan bergawa kembali ke perguruan, sedangkan 200 pasukan Maung Lodaya kembali ke barak pasukan Maung Lodaya.
Wijaya akhirnya sampai di bekas markas Jauhetu Rota yang sudah seperti istana keraton.
__ADS_1
Di dalam aula markas ada singgasana raja, Maung Bodas, Bleta Bora, Drona duduk di bagian kanan singgasana. Empu Culuk dan Jatmiko di bagian kiri singgasana, ya mereka tak mau dipisahkan karena masih rindu baru bertemu.
Karbara juga dudu di bagian kiri singgasana bersama Jatmiko dan Empu Culuk. Sedangkan Wijaya tak mau duduk di singgasana, Wijaya pun duduk di depan meja bundar yang sudah dikelilingi petinggi kadipaten Maung Bahari.
"Terima kasih paman Jatmiko dan saudaraku Bleta Bora karena sudah bekerja keras membangun kadipaten Maung Bahari! kerja kalian memuaskan" puji Wijaya dengan suara agak berat.
"Sama-sama yang mulia prabu ini sudah menjadi tugas hamba!" ucap Bleta Bora dan Jatmiko Serentak sambil menunduka kepala dan meninju telapak tangan.
"Terima kasih juga saudaraku Maung Bodas yang sudah menjaga keamanan dan berhasil merampas harta jarahan di markas Bandit Dirgacitra, kerjamu sangat luar biasa!" puji Wijaya dengan suara agak berat.
"Sama-sama yang mulia prabu ini sudah menjadi tugas hamba!" ucap Maung Bodas sambil menunduka kepala dan meninju telapak tangan.
"Terima kasih juga Paman Drona karena sudah melatih dengan baik para ksatria yang baru, kemampuan paman memang di luar nalar!" puji Wijaya dengan suara agak berat.
"Sama-sama yang mulia prabu ini sudah menjadi tugas hamba!" ucap Drona sambil menunduka kepala dan meninju telapak tangan.
"Paman Drona berapa banyak total ksatria kita yang baru sekarang?" tanya Wijaya Kusuma sambil mengupil.
"Paman rekrut lebih banyak ksatria lagi dari warga, ajukan juga ke kota julang emas!" seru Wijaya.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap Drona sambil menundukan kepala dan meninju telapak tangannnya.
"Paman Jatmiko bagaimana hasil panen dan stok lumbung ikan kita?" tanya Wijaya yang masih mengupil.
"Hasil panen kita naik 10% karena beberapa lahan terkena serangan bledog jurig tempo hari, seharusnya naik hingga 200% memang lebih banyak karena siluman jauhetu rota telah binasa."
" Stok lumbung ikan kita terlalu banyak yang mulia prabu kita tak bisa menjualnya keluar, karena kita tak bisa membuka jalur perdagangan ke desa sebelahnya. Hanya beberapa pedagang dari kerajaan Martapura saja yang membelinya." Jawab Jatmiko.
"Kami berhasil menemukan 50.000 ton padi di markas bandit Dirgacitra, yang mulia gusti prabu." Sela Maung Bodas.
"Terima kasih saudaraku Maung Bodas kamu luar biasa kamu selalu bisa diandalka. Bawa ke kadipaten Maung Bahari untuk tambahan stok padi kita, karena sebentar lagi musim kemarau. Untuk mengamankan stok makanan di musim kemarau." Puji Wijaya Kusuma.
__ADS_1
"Terima kasih paman Jatmiko sudah bekerja keras. Mungkin kita akan membuka jalur irigasi dari sungai basudara, supaya kita bisa terus menanam padi dan membuat ramuan peningkat hasil panen padi."
"Perintahkan 1000 petani untuk membuka jalur irigasi dengn gaji perorangan 2 mega, untuk ramuan nanti aku akan membuatnya sendiri. Lebih cepat lebih baik. Untuk pengiriman ikan ke kerajaan Dharma ayu biar nanti aku akan berangkat sendiri ke sana." Perintah Wijaya Kusuma.
Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap Jatmiko sambil menundukan kepala dan meninju telapak tangannnya.
"Kakek Empu! aku punya permintaan khusus untukmu. Bisakah kau membuat meriam seperti bledog jurig?, kita harus banyak membuatnya untuk pertahanan kadipaten dan ini ada beberapa bahan untuk membuat bola peledak."
Dan jenis senjata untuk para ksatria, untuk berapa kebutuhan ksatria di kadipaten Maung Bahari, tanyakan langsung ke paman Drona jika kakek butuh orang untuk membantu rekrut saja. Aku juga akan mencari beberapa panda besi untuk membantu kakek di kerajaan Caruban Nagari dan Dharma Ayu." Perintah Wijaya Kusuma.
Terima kasih kepada
kak adi kusn
kak he****r**yzon mustafa
dan kak Sutrisno Yohanes
Atas boom likenya**
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.
__ADS_1