
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Tubuh Virna yang dipenuhi segel dewa api perlahan hilang tanda segelnya dan berganti menjadi jaring laba-laba berbentuk rantai yang mengikat seluruh tubuh Virna. Rantai jaring laba-laba itu menyusut ke dalam perut Virna. "Aaaaaargh, sial apa yang kau lakukan! aku pasti akan membunuhmu, bangsat!"
"Aaaaargh, aaaargh, aaaaargh!" Teriakan Virna begitu keras karena kehilangan seluruh kekuatan pancer agni dari dalam tubuhnya. Wijaya telah mengunci kekuatan pancer agni Virna.
"Ya sudah selesai." Ucap Wijaya dengan nada datar lalu melepaskan cengkaraman tangan pada perut Virna.
"Aku akan membalaskan dendam padamu awas aku!" Virna memakai cadar untuk menutupi wajahnya lalu pergi berlari entah kemana.
"Terima kasih guru telah menyelamatkanku. Izinkan aku menjadi muridmu!" Anarghya Wijaya berlutut di depan Wijaya memohon dengan muka penuh iba.
"Maaf aku tak mengangkat murid, lagian umur kita kan sama, masa orang yang seterpesona ini jadi guru." Ucap Wijaya sambil mengupil hidungnya. Dalam pikiran Wijaya seorang guru itu umurnya harus lebih tua bahkan sepuh, dan juga wajahnya harus kakek-kakek atau nenek-nenek. Ya Wijaya juga masih kecil sekarang umurnya 6 tahun meskipun badannya seperti pemuda berusia 20 tahun.
Wijaya kembali ke penginapan padang bulan. "Pelayan tolong ambilkan makanan yang banyak dan enak, perutku lapar lagi gara-gara menghajar berandalan itu!" Teriak Wijaya lalu duduk di meja makannya. Anarghya mengikuti Wijaya masuk juga lalu berdiri di sampingnya.
Semua orang tak mengenali jika yang berada di samping Wijaya adalah pangeran Anarghya. "Ku mohon guru jadikan aku muridmu!" Pinta Anarghya dengan raut muka iba. Perut Anarghya tiba-tiba berbunyi keras, dan Anarghya memegang perutnya.
__ADS_1
"Lapar? ayo duduk! payah sekali kau ini, hmmm! masa calon guru mentraktir muridnya, seharusnya murid yang mentraktir gurunya. Lain kali kau yang harus traktir aku ini!" Cibir Wijaya. "Pelayan tambahkan lagi makanannya!"
"Siap Gusti!" Pelayan membawakan makanan yang sangat banyak ke meja Wijaya. "Ini tuan makanannya!"
"Sudah jangan diam saja, makan! jangan sungkan! tenang saja aku yang bayar." Suruh Wijaya.
"Ya gusti terima kasih." Anarghya makan dengan lahapnya seperti orang belum makan satu minggu. Ya semenjak dikucilkan dan di usir oleh Prabu Raksa hidupnya seperti gelandangan, meskipun ia diperbolehkan kembali ke istana. Namun Prabu Raksa memberinya syarat asal dia bisa membawa bawana yang bisa menyembuhkan dirinya.
Mereka berdua selesai makan lalu pergi keluar kotaraja untuk berburu di hutan Joyoboyo. "Baik, aku akan menjadikanmu murid tapi kau harus bisa membunuh 1000 kidang kencana, waktunya 1 hari, sebagai bukti bawakan kepala kidang kencana. Ini untukmu sebagai tempat untuk menyimpan kepala kidang kencana." Ucap Wijaya dengan wajah datar lalu memberikan gelang.
"Sial, 1000 kidang kencana dalam 1 hari. Seperti melakukan sesuatu yang mustahil, kidang kencana itu siluman yang sangat cepat." Umpat Anarghya dalam batinnya. "Tapi aku tak boleh menyerah untuk menjadi murid pemuda sakti mandraguna ini."
Wijaya menempelkan telapak tangan pada kening Anarghya, diam-diam Wijaya mentransfer pemahaman ajian pancer agni dari kitab sansinu dan bab pancer semesta dari kitab jagat buana. "Aneh sekali tubuhku seperti sangat berenergi dan membara, tidak seperti biasanya." Batin Anarghya." Mungkin karena aku lagi bersemangat saja, tapi muncul bayangan-bayangan seperti seorang mempraktekan gerakan-gerakan jurus dan ajian. Dan Yang kulihat bayangan itu diriku sendiri."
Anarghya mulai masuk ke dalam hutan Joyoboyo dan mencari kidang kencana. Setelah masuk lebih dalam ke hutan Joyoboyo dengan berlari Anarghya belum menemukan satu pun kidang kencana. " Wiel aksa!" Anarghya mengaktifkan wiel aksa dan betapa kagetnya ternyata tomoenya bertambah dari satu ke tiga tomoe.
"Ini aneh biasanya tomoeku cuma satu tapi ini tiga sekaligus dan ini sangat langka di pamilya Wijaya, anggota pamilya Wijaya yang paling jenius pun hanya 2 tomoe." Gumam Anarghya yang terus berlari tak tentu arah di hutan bagian dalam.
Anarghya mulai mengedarkan pandangan dengan wiel aksa untuk mencari kidang kencana meskipun jarak pandang dan sensor geraknya hanya radius 15 meter. "Mungkin kekuatanku telah kembali bahkan meningkat 10-100 kali lipat. Aku akan mencobanya! ajian pancer agni, vashja agni (baju api)!"
Tubuh Anarghya diselimuti aura berwarna jingga lalu berkobar-kobar seperti api lalu melesat cepat mencari keberadaan kidang kencana. Gerakan Anarghya lebih cepat dan urat ototnya membesar.
__ADS_1
SHUA...
"Disana!" Anarghya menemukan banyak kidang kencana di padang rumput sisi utara hutan joyoboyo. "Ajian pancer agni, naga agni (naga api)!" Anarghya melepaskan semburan api dari mulutnya, api yang berbentuk naga untuk membakar kidang kencana.
SWUSH...BOOM...
Kawanan kidang kencana yang terkena api berbentuk naga banyak yang terluka parah. "Serangannya terlalu kuat apa yang terjadi dengan tubuhku?" Pikir Anarghya. "Ajian pancer agni, braka agni (pedang api)!" Anarghya membentuk siluet pedang berwarna jingga dari tangan kanannya, lalu menebas kepala kidang kencana yang terkapar dengan sangat cepat.
ZIING..SHUA..SLASH...SLASH...SLASH...
Anarghya langsung menghisap kepala kidang kencana ke dalam gelang yang diberikan Wijaya, totalnya baru ada 50 kepala. "Hmmm, kepala yang kubutuhkan masih sangat banyak." Anarghya mendengus lalu kembali mencari keberadaan kidang kencana yang lain.
Anarghya kembali menemukan kidang kencana di dalam gua bagian dalam hutan joyoboyo, mereka sedang berisitirahat totalnya sangat banyak 500 kidang kencana. "Sungguh panen besar, ayo semangat!" Anarghya segera melesat dan menebas kepala kidang kencana yang berlarian ketakutan.
SHUA...SLASH...SLASH...SLASH...
Meskipun kidang kencana sangat cepat, kecepatan Anarghya jauh lebih cepat dari kidang kencana. Efek ajian baju api bisa meningkatkan kekuatan serangan dan kecepatan 10 kali lipat. Hanya dalam 10 menit Anarghya berhasil membunuh 500 kidang kencana, total kepala yang didapatkan 550 kepala.
"Pemuda yang berbakat, tak salah aku memberikannya kekuatan." Ucap Wijaya yang sedang mengawasi Anarghya dari udara. "Hanya butuh kontrol yang baik dan bedhama yang cocok untuknya."
Wijaya membuat senjata di udara dengan ajian sagisaga pagporma dan tentu saja bahan utamanya batu bintang bharatayudha dan menambahkan batu mustika maung loka yang berpancer agni. Untuk menambahkan kekuatan pancer agni pada bedhama yang dibuat Wijaya.
__ADS_1
Wijaya telah menganalisa Anarghya hanya mempunyai wadah jiwa chakra yang cocok dengan pancer agni. Jadi Wijaya memutuskan untuk membuat jenis bedhama gladiosa (pedang cina) untuk Anarghya.