
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja. Maaf update telat soalnya kuotanya habis lagi, hehehe.
Patih Wirabumi kembali mengambil bola dari dalam kotak. "Ki Supala melawan Kamandanu!" Teriak Patih Wirabumi.
Kedua peserta memasuki arena, gemuruh penonton riuh memecah keheningan. "Bukankah itu dari perguruan angin barat, aku yakin pasti menang." Ucap penonton satu.
"Tidak mungkin perguruan pohon kemangi pasti menang. Aku berani bertaruh!" Ucap penonton dua.
"Baik aku bertaruh untuk Ki Supala dari perguruan angin barat 100 mega, bagaimana?" Tanya Penonton satu menyodorkan tangan.
"Ok setuju! aku bertaruh untuk Kamandanu dari perguruan pohon kemangi." Jawab penonton dua menyambut tangan penonton satu untuk berjabat tangan.
Kamandaka membawa gladiosa sedangkan Ki Supala hanya tangan kosong. "Baik mulai!" Teriak Patih Wirabumi.
Wijaya juga memperhatikan pertandingan ini, meskipun ia pasti menang tapi apa salahnya tidak meremehkan orang lain.
Kamandaka berlarian mengelilingi arena sesekali menerjang dengan menusukan gladiosa miliknya. Ki Supala hanya memiringkan badan menghindari tusuka gladiosa Kamandaka. "Pertandingan yang membosankan!" Teriak Ki Supala setelah menghindari semua tusukan Kamandaka dengan mudah. "Sekarang giliranku!"
SYAT...SYAT...SYAT...
Ki Supala memundurkan satu langkah memasang kuda-kuda yang kuat lalu melesat denhga cepat, tubuhnya berkedip dan muncul di hadapan Kamandaka menghantamkan pukulan. Kamandaka tidak kalah cepat juga mengantamkan pukulan, kedua pukulan beradu.
BANG...SRAAAK....
Keduanya terpundur dengan telapak kaki bergesekan dengan tanah, Ki Supala melemparkan lanka (jarum). "Ajian bedhama lanka, sahasra lanka (lemparan seribu jarum)!" Ki Supala dengan tangan yang sangat cepat melemparkan jarum tanpa henti.
SHUA...SHUA...SHUA...TRANG...TRANG...JLEB...
Kamandaka berhasil menangkis serangan lemparan Jarum Ki Supala dengan mengayunkan gladiosa secara cepat juga, namun ayunan gladiosa Kamandaka tidak secepat lemparan jarum Ki Supala. Kaki Kamandaka terkena tusukan banyak jarum dan membuat pergerakannya melambat.
__ADS_1
"Sial, aku salah perhitungan tapi aku masih punya jurus pamungkas!" Gumam Kamandaka. "Ajian pancer agni, bola agni(elemen api, bola api)!" Kamandaka mengambil nafas dalam-dalam dadanya menggembung dan melepaskan bola api yang cukup besar ke arah Ki Supala.
SWUSH...SWUSH...BOOM...SHUA..M
Ki Supala yang masih melempar jarum, tidak menyadari serangan bola api Kamandaka. Ki Supala terkena bola api dan terpental keluar dari arena.
"Pemenangnya Kamandaka!" Teriak Patih Wirabumi.
"Haaaaaa, prok, prok, prok!" Gemuruh penonton berteriak dan menepukan tangan.
"Sini uangnya!" Pinta penonton dua.
"........" Penonton satu dengan raut wajah muram memberikan sekantong uang sejumlah 100 mega pada penonton dua.
"Baik pertandingan semakin seru, tersisa 6 peserta lagi. Kita akan melanjutkan pertandingan ini!" Teriak Patih Wirabumi.
"Tunggu gusti Patih! aku ingin menantang semua peserta yang tersisa!" Teriak Wijaya Kusuma.
Prabu Raksa memeprhatikan Wijaya yang memakai topeng kelinci dan baju pasukan Wasesa Jaya. "Tubuh itu seperti aku mengenalnya tapi siapa? Dan nama Wasesa Jaya seperti nama pasukan bawah tanah kekosawaan kurusetra. Tapi bajunya sangat asing, aku pernah bertemu dengan wakil komandan pasukan Wasesa Jaya, Manggala Saputra tapi lencananya tak seperti itu." Pikir Prabu Raksa yang sedang duduk bersama Ratu Darapuspita.
"Guru sungguh edan. Padahal lawannya di tahap praburata asor semua!" Batin Anarghya dengan raut muka khawatir.
Semua peserta sudah memasuki arena. "Aku menantang kalian semua. Siapa yang bisa menahan satu pukulanku, aku akan menyerah dan mengaku kalah!" Ucap Wijaya dengan muka datar dari balik topengnya, auranya menekan semua orang yang berada di dalam dan luar arena.
"Cuih!" Ki compal meludah ke tanah. "Dasar bocah tengik! kau sombong sekali. Aku yang akan meladenimu. Silahkan kau pukul aku sesuka hati dimana pun kau mau!" Tantang Ki Compal yang sudah memasang badan dengan tegap.
"Gulung saja pak tua, Bocah udik mau membuat malu dirinya sendiri dengan menghadapimu!" Timpal Ki Broga.
"Ya benar Ki buat dia menderita Ki!" Timpal lagi Ki Brugul.
"Aku harus berhati-hati dengan pemuda bertopeng itu aura kematiannya sangat kuat. Dia bukan pendekar biasa." Gumam Setyaningsih dalam batinnya dengan wajah agak pucat.
"Pedangku ini yang akan membuktikannya padamu bocah udik!" Cibir Samana dengan mengayun-ayunkan miekhanya (Pedang besar).
__ADS_1
Wijaya menghilang lalu muncul di depan Ki Compal dan menempelkan telunjuknya tengah dada Ki Compal yang tegap dan kekar.
BANG...SHUA...BOOM...
"Guhak!" Ki Compal terpental dan menabrak dinding pembatas arena lalu memuntahkan darah yang banyak. Petugas bawana langsung merawat Ki Compal. "Ki Compal keluar arena dan dinyatakan kalah!" Teriak Patih Wirabumi.
Penonton ternganga dan menjatuhkan rahangnya, bagaimana tidak Ki Compal adalah sesepuh nomor satu di perguruan Harimau Petak yang terkenal kuat. Sungguh hal yang mustahil dikalahkan hanya dengan satu jari telunjuk.
"Ayo siapa lagi yang mau mencoba!" Tantang Wijaya.
"Aku Ki Broga yang akan menantangmu, sekarang kita gantian. Kalau kau bisa menahan 1 pukulanku aku akan menyerah." Teriak Ki Broga.
"Baiklah...." Ucap Wijaya dengan muka datar dari balik topengnya dan hanya terdiam dengan posisi badan biasa saja.
"Sial kau berani meremehkanku! ajian pancer bantala, lembu perak (elemen tanah, pukulan kerbau perak)! Hyaaaa!" Kepalan tangan Ki Broga berubah menjadi perak dan sangat keras, melesat cepat ke araha Wijaya dan menghantamkan pukulan ke perut Wijaya.
BANG...SHUA...BOOM....
"Guhak!" Ki Broga terpental dan menabrak dinding pembatas arena lalu memuntahkan darah yang banyak. Petugas bawana langsung merawat Ki Broga. "Ki Broga keluar arena dan dinyatakan kalah!" Teriak Patih Wirabumi.
Penonton tambah ternganga seakan rahangnya mau jatuh ke tanah. Pukulan Ki Broga terkenal sangat kuat bahkan batu karang yanh tebal dan tinggi pun jika terkena pukulannya langsung jadi debu. Wijaya menepuk-nepuk bajunya karena banyak debu menghinggapi bagian dadanya.
"Membosankan!" Wijaya langsung menghilang dan memukul miekha milik Samana. Pukulan Wijaya menghancurkan miekha yang terbuat dari material Roga batu satu tingkat di bawah batu bintang bhatatayuda dengan sekali pukul.
BAM...KRAK...PRANG....SHUAA...BOOM...
"Guhak!" Samana juga ikut terpental dan menabrak dinding pembatas arena lalu memuntahkan darah yang banyak. Petugas bawana langsung merawat Samana. "Samana keluar arena dan dinyatakan kalah!" Teriak Patih Wirabumi.
Kini hanya tinggal Ki Brugul dan Setyaningsih. "Aku menyerah!" Ucap Setyanigsih lalu keluar arena.
"Dasar wanita pengecut!" Umpat Ki Brugul sambil memakai sarung tangan besi sebagai senjatanya. Setyaningsih turun dari arena. "Setyaningsih dinyatakan kalah karena menyerah." Teriak Patih Wirabumi.
Kin hanya tersisa Ki Brugul dan Wijaya saja di arena. Ki Brugul dengan mata memerah seperti singa siap menerkam mangsanya. Tatapan itu di tujukan pada Wijaya yang telah membuat dua sahabatnya Ki Compal dan Ki Broga muntah darah.
__ADS_1