
**Jangan lupa dukung author dengan memberikan like, koment vote dan gift jika sudah membaca.
Author doakan yang memberi like, koment, vote dan gift rizkinya berlimpah**.
Semua pasukan kerajaan Bantani dari divisi prajurit berkuda dengab total 5.000 orang perlahan mundur dalam keadaan waspada. "Siapkan serangan pasukan bargawa sura! Serang ke atas!" perintah Patih Ambarawa dengan berteriak.
1000 pasukan bargawa sura (pemanah jitu) siap dalam posisi menembak Manggala yang berada di ketinggian 500 meter. Karena waktu mengejar pasukan kerajaan Bantani yang bergerak ke arah perbatasan Dharma Ayu, Manggala menurunkan ketinggiannya untuk menghalau musuh sementara.
Manggala yang melihat pasukan bargawa sura mulai membidiknya, bergerak ke atas langit lagi untuk menghindar jangkauan serangan pasuka bargawa sura.
Seorang bargawa sura biasa hanya mampu menembakan anak panah hanya sampai 700 meter dari posisi atas. Namun jika menembak ke atas langit yang dipengaruhi suhu, tekanan angin dan juga pergerakan angin hanya sampai 550 meter.
Manggala masih masuk dalam jangkauan serangan pasukan bergawa sura. 1000 anak panah dilesatkan ke atas langit untuk menjatuhkan Manggala.
SHUA...SHUA...SHUA...
Manggala bergerak ke atas sambil terus mengelak anak panah yang menargetkan dirinya. Sementara itu Wijaya menghadang 5000 pasukan baladika adilaga yang akan kembali ke Wilayah perbatasan kerajaan Bantani.
"Hai cecunguk jangan harap kalian bisa kembali!" teriak Wijaya menyeringai licik dari dalam topengnya dan langsung melesat ke arah pasukan berkuda baladika adilaga yang bersenjatakan buntar jagala.
"Hahahaha, kau pikir hanya seorang diri mampu mengalahkan 5000 pasukan kami dasar tolol! seraang!" teriak Senopati baladika adilaga Cukdana yang memimpin pasukan. Senopati juga menarik tali kekang kuda sekeras-kerasnya dan menodongkan bunta jagalanya(tombak dan pedang bergagang panjang seperti gagang tombak namun lebih pendek) ke arah Wijaya.
Wijaya melompati buntar jagala Senopati Cukdana dengan salto ke depan, dan menendang kepala Senopati Cukdana. Namun berhasil ditangkis dengan jagala yang berada di tangan kiri Senopati Cukdana.
STANG...
__ADS_1
Wijaya terpundur dengan salto ke belakang dan mendarat di atas ujung tombak Senopati Cukdana dan Wijaya melesatkan ajian braza, kamatayana slasha, dengan menebas horizontal. Muncul siluet warna merah dengan lebar 10 meter berbentuk sabit, melesat ke arah kepala Senopati Cukdana.
Namun Senopati Cukdana menengadahkan kepalanya ke belakang dan terlentang di atas pelana kuda. Siluet bulan sabit berwarna merah berhasil dihindari Senopati Cukdana, dan terus melesat menuju pasukan berkuda baladika adilaga (komandan perang).
SLASH...SWUSH...CRASH...CRASH...
Tebasan Wijaya sangat kuat dan cepat hingga berhasil memotong 1000 kepala pasukan baladika adilaga. Semua pasukan yang terpenggal kepalanya langsung jatuh ke tanah dengan kepala mereka melihat badan mereka sendiri. Kuda mereka juga berlari tak tentu arah karena ketakutan, setelah ujung telinga para kuda tertebas siluet berbentuk sabit yang dilesatkan oleh Wijaya.
BRUK...BRUK...BRUK...
100 pasukan berkuda baladika adilaga yang lain juga ikut menyerang Wijaya dengan geram setelah 100 teman mereka tewas tertebaa ajian Wijaya. Mereka menerjang Wijaya dengan menusuk-nusukan buntar jagala ke arah Wijaya. Namun dengan cekatan Wijaya hanya memiringkan badan, dan kepalanya ke kanan serta ke kiri untuk menghindari tusukan buntar jagala 100 pasukan baladika adilaga.
"Sial, pengecut kau hanya bisa menghindar. kalau berani seranglah jangan jadi ayam sayur!" teriak salah satu prajurit baladika adilaga. "Ajian braza sewu mabilis slasha (teknik pedang, seribu tebasan cepat)" gumam Wijaya merapal ajiannya.
Wijaya salto tiga kali ke belakang untuk menghindari tusukan buntar jagala 100 pasukan baladika adilaga dan mwmbwri jarak dirinya untuk menyerang. Pedang Raivaja ditarik dari sarungnya dan bilah pedang diselimuti aura berwarna biru pekat. Wijaya bertumpu pada tumit kaki kiri dan melesat ke arah 100 pasukan baladika adilaga.
Wijaya menebas secara acak 1000 pasukan baladika adilaga, ada yang terkena sabetan di kepala, dada, leher mereka. Meskipun mereka menangkis Wijaya dengan buntar jagala, tindakan itu sangat percuma karena tebasan Wijaya mampu memotong besi yang keras sekalipun.
Erangan dan pekikan menggema di medan perang, darah memancur dan berceceran tak tentu arah, suasana sangat mencekam, aura membunuh Wijaya mengintimdasi 3800 pasukan baladika adilaga termasuk Senopati Cukdana.
"P-p-pu-pu-pusaka macam apa itu?" Senopati Cukdana terbata-bata dengan raut wajah takut, dan wajah pucat pasi serta buntar jagala di tangannya tanpa sadar terjatuh ke tanah.
TRANG...
Semua pasukan baladika adilaga pun menjatuhkan buntar jagala mereka dan turun dari kuda mereka, kemudian berlutut ke tanah dengan tubuh yang lemas dan lunglai.
__ADS_1
"Kami menyerah!" teriak mereka serentak. Wijaya hanya diam membisu, berjalan ke arah Senopati Cukdana. Wijaya berpikir ini sangat aneh kenapa 4800 pasukan yang begitu kuat tiba-tiba menyerah begitu saja.
Dugaan Wijaya benar ketika Wijaya sudah sampai di depan Senopati Cukdana, 10 pasukan dari belakang Wijaya melempar jagala mereka ke arahnya.
SHUA...SHUA...SHUA...JLEB
Wijaya telat sedikit mengelak kemudian merunduk, akhirnya pundak Wijaya terserempet ujung pedang jagala. Sayang sekali 10 jagala itu menusuk tubuh Senopati Cukdana dan saat itu pula dia tewa seketika tertikam 10 jagala pasukannya sendiri.
"Akh!" tubuh Senopati Cukdana tubuhnya berlumuran darah dan matanya melotot lalu mati mengenaskan. Wijaya melapaskan ajian braza elang prita biktima (teknik pedang elang menyergap mangsa). Wijaya melepaskan tebasan vertikal ke arah tanah, muncul siluet berwarna merah pekat ke arah pasukan baladika adilaga yang membelah permukaan tanah. Siluet berwarna merah itu terus melesat dan menghantam 1000 pasukan baladika adilaga.
SLASH...SWUSH...KRAK...KRAK...BOOM...
1000 pasukan baladika adilaga tewas seketika tanpa sempat menjerit, semua tubuhnya terpotong-potong tak beraturan, bahkan ada yang usus dan otaknya terburai keluar. "Sungguh gila! orang macam apa pria bertopeng itu. Ayo serang kita balaskan dendam teman-teman kita!" teriak Senopati Borotowali yang menjabat wakil komandan dari Senopati Cukdana yang telah tewas.
Para pasukan kerajaan Bantani sering menggunakan cara-cara licik dalam memenangkan peperangan, salah satunya berpura-pura menyerah. Ketika musuh lalai dan tidak menyadari rencana mereka, di saat itulah mereka membunuh musuhnya.
"Sial ! pasukan macam apa ini, mereka tiba-tiba melakukan hal seperti ini sungguh licik!" batin Wijaya dengan raut wajah kesal dari balik topeng. Wijaya tak sempat menyembuhkan dirinya, pasukan baladika adilaga sudah menerjang dengan berlari cepat menusukan buntar jagala ke arah Wijaya.
Wijaya menahan rasa sakit karena kedua pundaknya terluka, akhirnya oleng dan terkena beberapa tusukan buntar jagala pasukan baladika adilaga di paha, betis, serta lengannya.
SYAT...SYAT...JLEB...JLEB...
"Rasakan itu jahanam matilah kau!" umpat Senopati Brotowali dengan sumpah serapahnya.
"Akh!" pekik Wijaya dan akhirnya tumbang dengan tubuh terlentang bersimbah darah. "Apakah aku akan berakhir seperti ini?" tanya batin Wijaya dan mulai kehilangan kesadarannya hingga masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
__ADS_1
"Apakah ini kematian? aku berada di mana? apakah ini jalan menuju neraka atau syurga? selamat tinggal saudaraku semua?" tanya Wijaya membatin dengan linangan air mata di pipinya.