KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
TERDESAK? JANGAN BERMIMPI!


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Prabu Angga terbang di udara dan memberikan ancaman dengan energi Qi, "Kosawa Kertajasa Jayawardhana, kami dari pihak kerajaan Brabang Sari tidak akan menyerah, apalagi tunduk kepada kekosawaan Majapahit. Kami hari ini melepaskan diri dari kekosawaan Majapahit dan bersumpah setia pada Kekosawaan Kurusetra. Lebih baik kalian mundur jika tidak kami pastikan kalian pulang tinggal nama." Teriak Prabu Angga.


"Hahahaha, sombong sekali kau Prabu Angga, mana mungkin kami akan mundur dengan pasukan macam rayap seperti itu. Harusnya kau yang menyerah prabu bodoh! serang!" Kosawa Kertarajasa melambaikan tangan ke depan.


Prabu Angga juga melambaikan tangan ke depan 200 bledog jurig membidik dan siap di tembakan. Jatmiko, Arya, Shintadewi, dan Sarja memimpin pasukan bledog jurig, kereta wewe gombel dan seblungan gondorukem dari empat sisi sejajar, utara, selatan dan dua tengah. "Serang!" Teriak serentak mereka berempat.


BLOOM...BLOOM...BLOOM...SHUA...BOOM...JDAAR...


25 bledog jurig dari empat posisi mengeluarkan amunisi bom energi dan menghantam pasukan Majapahit. Prabu Angga menginstruksikan sebelum perang di mulai, untuk tidak menyerang pasukan Kediri dan Mataram.


"Aaaaakh, aaaaakh, aaaakh!" Terdengar jeritan dan pekikan pasukan Majapahit yang terkena serangan bledog jurig. Tubuh mereka menjadi gosong, kawah sangat besar muncul di perbatasan Demak Bintoro dan 250.000 prajurit langsung tewas seketika dengan sekali serang.


"Aku peringatkan jika masih bersikeras menyerang aku pastikan semuanya rata dengan tanah." Teriak kembali Prabu Angga.


Pasukan kerajaan Mataram dan Kediri mulai ketar-ketir setelah melihat serangan pertama kerajaan Brabang Sari. Prabu Ageng Tirtayasa memutuskan untuk mundur, "Semua pasukan mundur, kita tak akan melakukan bunuh diri."


Pasukan kediri juga memutuskan untuk mundur, pasukan mereka dipimpin wakil pamilya wijaya Widura Wijaya. "Semua pasukan mundur, kita juga tak akan melakukan perlawanan bunuh diri!"


Kedua pasukan langsung mundur dari perbatasan Wilayah Demak Bintoro. "Kalian semua pengecut, hanya ayam sayur. Melawan kerajaan lemah seperti itu saja tak berani, jika berani kalian mundur aku pastikan kerajaan kalian akan rata dengan tanah." Teriak Kosawa Kertarajasa.


"Kami tak akan gentar!" teriak serentak Prabu Ageng dan Senopati Widura. Kedua kerajaan bergerak ke perbatasan Wilayah masing-masing.


"Hahaha, lucu sekali seorang kosawa ditinggalkan para bangsawannya sendiri, hanya karena takut. Lihatlah kerajaan kami yang dulu semut sekarang menjadi gajah, aku tak akan mengampuni kalian. Tembak!" Perintah Prabu Angga.


300 kereta wewe gombel yang berada di empat bukit mulai membidik dan menembakan panah api, satu kereta berisi 100 amunisi panah.

__ADS_1


SHUA...SHUA..SHUA...


"Berlindung dengan kilopi kalian!" Teriak mahapatih Suryadaksa. 30.000 anak panah menghujani 350.000 prajurit Majapahit. "Alah hanya anak panah api saja, biar aku yang menghadapinya sendiri." Cibir Senopati Angkasa Mada.


Angkasa mada mengangkat kilopinya (pedang dan perisai) untuk menahan serangan panah kereta wewe gombel.


TRANG...TRANG...TRANG...BOOM...BOOM...


Angkasa Mada menangkis serangan ribuan anak panah seorang diri, namun Angkasa Mada tidak mengetahui jika panah yanh dilesatkan adalah panah api rajahtava yang bisa meledak.


"Akh!" Tubuh Angkasa Mada terpental ke kerumunan pasukan Majapahit, tubuhnya banyak menerima luka sekujur badan dibasahi darah. Untung saja nyawanya masih selamat tapi 50.000 pasukan Majapahit tewas.


"Aaaaaaaaargh, sial. Kenapa mereka jadi kuat dalam waktu singkat seperti ini. Telik sandi bodoh!" Kosawa Kertarajasa Meraung keras penuh kemarahan dan lompat ke depan lalu menghentakan kakinya ke tanah, tubuhnya diselimuti aura berwarna merah hitam pekat.


BAM...KRAK...DOOM...


"Semua persenjataan mundur ke markas pusat! lancarkan serangan pamungkas!" Terika Prabu Angga. Seblungan Gondorukem terbang ke udara, kerajaan Brabang Sari tidak membiarkan satu pun prajurit Majapahit untuk bersiap kabur.


CIUG...CIUG...CIUG..SWUSH...SWUSH...


SWUSH...BOOOM...JDAAAR...


Meriam laser seblungan Gondorukem menembakan laser dengn jarak tembak 1 kilometer dan lebar tembakan 50 meter. Ledakannya begitu besar dan kuat, gelombang kejutnya meratakan pepohonan, laser yang melewati sungai Kalimati airnya langsung mengering. 150.000 prajurit langsung tewas seketika menjadi abu terkena meriam laser dengan amunisi chakra 100 orang.


Rasa putus asa menghinggapi prajurir Majapahit hanya dalam waktu kurun 30 menit 500.000 prajurit mati sia-sia. "Mahapatih Suryadaksa, perintahkan pasukan mundur, sekarang!" Teriak Kosawa Kertarajasa jayawardhana.


"Sendiko yang mulia paduka!" Ucap Mahapatih Suryadaksa sambil membungkuk hormat. Mahapatih Suryadaksa meniup terompet dua kali sebagai tanda pasukan mundur.


TELOLET...TELOLET... (Bayangin saja suara terompet bus telolet, hehehe).


"Kita tak boleh membiarkan kosawa jahanam itu hidup. Pasukan maju serang!" Teriak Prabu Angga dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


Jatmiko langsung melesat dengan ajian serat jiwanya, Shintadewi melesat dengan ajian pancer bajra kidang kuning, Patih Arya menaiki kuda dengan membawa rimora (pedang ganda) dan Prabu Angga menaiki kereta kencana yang ditarik 6 kuda membawa kampala (tombak ganda yang bisa disatukan).


Diikuti 10.000 pasukan terdiri dari 3.000 berkuda baladika adilaga membawa buntar jagala (tombak dan pedang berbilah tombak). 1000 ksatria binting, 2000 ksatria bimantara, 2000 ksatria bujaga, 1000 ksatria ambek pati membawa kilopi (pedang dan perisai, 500 dewata adilaga membawa rimora (pedang ganda), dan 500 ksatria buntar membawa kampala (tombak ganda yang bisa menyatu).


100.000 melawan 10.000. Moral pasukan Majapahit sudaj jatuh ke dalam jurang tak berdasar karena serangan kerajaan Brabanh Sari yang bertubi-tubi dan mengerikan. 90.000 prajurit kerajaan Brabang Sari tetap menunggu untuk menjaga garis pertahanan di wilayah perbatasan Brabang Sari.


TRANG...TRING...TRANG...TRING...SLASH...


SYAT...


Dentingan pedang dan tombak beradu, di tengah medan perang. Dalam waktu 10 menit pasukan Prabu Angga mendominasi karena perbedaan kekuatan praburata asor melawan ksatria inggil. 10.000 pasukan Majapahit tumbang, banyak darah berceceran dimana-mana.


Medan perang dibanjiri darah pasukan Majaphit. Serangan brutal pasukan kerajaan Brabang Sari terus berlanjut, Prabu Angga dengan gagahnya menebas prajurit Majapahit yang menghalagi jalannya. Shintadewi begitu kuat dan lincah memukul setiap prajurit Majapahit yanh ditemui dengan ajian pancer bantala, lembu baratayudha, menjadikan tubuh prajurit Majapahit dalam sekali pukul menjadi bubur darah.


Begitu pula Jatmiko dengan kecepatan dan kekuatan ajian serat jiwa, menembakan energi chakra dari telapak tangannya untuk menembakan serangan jarak jauh. Dalam sekali serang 20 orang langsung tewas seketika.


Patih Arya seperti menari melakukan ajian rimora, (tarian pedang). Prajurit yang tertebas menjadi dua sangat rapi tebasannya, semua prajurit yang tertebas rata-rata kepalanya putus.


Kosawa Kertarajasa begitu geram dan marah, prajuritnya semakin lama semakin berkurang. "Ajian badranaya agni, (jubah naga gokarya). Aaaaaaargh!" Kertajasa meraung keras dengan menegangkan tubuhnya berpose seperti goku mau berubah super saiyan. Tubuhnya diselimuti aura merah hitam pekat dan petir-petir kecil mengelilingi tubuhnya. Siluet api berwarna merah hitam pekat membakar tubuh Kertarajasa.


BANG...BOOOM...KRAK...SWUSH...


"Hati-hati! semuanya berlindung!" Teriak Prabu Angga.


Gelombang kejut dari tubuh Kertarajasa menghempaskan 10.000 pasukan Brabang Sari. Untung saja hanya mengalami luka dalam ringan dan membuatnya pingsan saja.


Efek jubah naga gokarya hanya bekerja kepada pendekar yang berada dibawah tahap Suryarama radius 500 meter. Shintadewi kini sudah berada di tahap Mahasura inggil, Jatmiko ditahap Suryarama inggil, Prabu Angga ditahap Suryarama inggil, dan Patih Arya di tahap Suryarama baharu.


"Sialan kau kosawa bangsat!" Teriak serentak mereka berempat.


"Hahahaha, hahahaha, hahahaha, pasukan yang banggakan sangat payah hanya sekali serang langsung lumpuh, hahahahah!" Ejek Kertarajasa yang melayang diudara lalu tertawa jahat.

__ADS_1


__ADS_2