
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Keesokan paginya di kotara Kediri.
Wijaya sudah membersihkan diri dan sedang memakan sarapan paginya di penginapan padang bulan. Hari ini adalah babak akhir sayembara Kerajaan kediri, menyisakan Bogatjana, Wijaya dan Kamandaka.
Rakyat Kediri sudah berkerumun di pintu gerbang istana untuk mengantri. Pangeran Virna dan selir Kumitri sudah di masukan ke dalam penjara serta mengakui kesalahannya bahwa telah meracuni Anarghya. Selit Kumitri juga mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak di perkosa oleh Anarghya, pengakuan itu hanya omong kosong belaka untuk memfitnah Anarghya.
Semua penonton sudah memasuki arena, kini hanya ada satu arena besar di halaman pertandingan. "Hari ini adalah babak akhir sayembara Kerajaan Kediri untuk mencari guru pangeran Anarghya. Tersisa hanya 3 peserta, Bogatjana dari perguruan kumbang jantan, Kamandaka dari perguruan Kemangi dan Wasesa Jaya dari luar perguruan!" Teriak Patih Wirabumi.
"Kali ini aku akan bertaruh, untuk Bogatjana." Ucap Penonton satu.
"Aku tentu saja Kamandaka karena permainan pedanganya sangat hebat!" Ucap penonton dua.
"Aku tentu saja pendekar yang antah berantah itu, aku berani bertaruh 1 juta mega, ayo siapa yang berani!" Ucap Pangeran Anarghya yang tiba-tiba masuk kerumunan penonton.
"Baiklah aku bertaruh untuk Kamandaka! setuju 1 juta mega!" ucap penonton dua sambil memberikan satu kantung uang besar.
"Aku juga 1 juta mega untuk Bogatjana!" Ucap penonton satu sambil memberikan 1 kantung uang besar.
"Baik uangnya kita taruh disini!" Pinta Anarghya lalu menaruh 1 kantung besar uangnya juga. "Siapapun yang bertarung dengan Wasesa jaya terlebih dahulu harus ikut taruhan!"
"Baik!"
"Baik!"
__ADS_1
"Anak itu tak pernah berubah kalau sudah berjudi, sial!" Umpat prabu Raksa dalam batinnya.
"Baik untuk mempersingkat waktu, kita mulai saja. Peraturan pertandingan dilarang membunuh, dilarang menggunakan pil penyembuh atau peningkat kekuatan, dilarang menggunakan ajian Zamanhkwala (teknik medis) jenis apapun!" Teriak Patih Wirabumi dan mengambil bola dalam kotak. "Pertandingan pertama Wasesa Jaya melawan Kamandaka! silahkan kedua peserta memasuki arena!"
Wijaya memasuki arena memakai pakaian pasukan Wasesa Jaya dan topeng kelinci, serta Kamandaka memakai pakain pendekar berwarna merah bersama gladiosa miliknya. "Pertandingan di mulai!" Teriak Patih Wirabumi.
Mereka berdua saling membungkuk hormat, Wijaya dahulu melesat cepat menghantamkan pukulan, Kamandaka menangkis pukulan Wijaya dengan bilah pedangnnya. Kaki Kamandaka bergesekan dengan permukaan arena karena terpundur oleh pukulan keras Wijaya.
BANG....SRAK.....
Wijaya berlari ke samping kanan Kamandaka melepaskan ajian baladewa, kambal sanglibo (Teknik pasukan dewa, dewa pukulan seribu). Pukulan Wijaya sangat cepat dan tepat memukul titik vital Kamandaka.
BANG...BANG...BANG...BANG...
Tubuh Kamandaka dibuat babak belur mirip babi gemuk. "Aaaaaaargh, ajian pancer agni, bola agni(elemen api, bola api)! Kamandaka meraung keras dan tubuhnya sembuh sediakal. Kamandaka melepaskan bola api dari dalam mulutnya, bola api yang sangat besar dengan jarak sangat dekat 1 meter dari Wijaya.
BANG...BOOM...
"Dia sangat kuat sekali, aku tak menyangka. Aku pikir itu hanya trik kecepatan pukulan ketika dia berhasil mengalahkan semua peserta yang lain. Untung saja Setyaningsih sudah memberikan peringatan padaku!" Gumam Kamandaka dalam batinnya sambil menahan tubuhnya yang berlutut satu kaki dan bertumpu pada gladiosa di tangan kanannya.
"Aaaaargh! ajian pancer agni, vashja agni (elemen api, baju api)!" Kamandaka meraung keras, tubuhmya diselimuti aura merah seperti api yang berkobar dan mendesis kencang. "Ajian bedhama gladiosa, kamatayana slasha (teknik senjata pedang, tebasan kematian)!" Gladiosa milik Kamandaka diselimuti aura berwarna merah kenilaan dan menebaskan gladiosanya tigal kali dari belakang ke depan secara vertikal.
SLASH...SLASH..SLASH...SWUSH...
Tiga siluet berbentuk sabit bergerak cepat menuju Wijaya, permukaan arena yang dilewati siluet bulan sabit retak dan menonjol ke atas setinggi satu meter.
KRAK...KRAK...KRAK...
"Ajian bola semesta, suranka (teknik alam, putaran bola air)!" Dari tangan Wijaya muncul bola yang berputar seperti rasengan naruto, awalnya berwarna biru keputihan lama kelamaan berwarna biru pekat dengan sisi-sisi seperti cipratan air yang berputar. Wijaya melesat cepat ke arah tiga siluet sabit dan menghantamkan putaran bola air.
__ADS_1
BANG...SHUA...SWUSH...
Ledakan hebat terjadi, tiga siluet sabit lenyap dan Wijaya berhasil menerobos maju. Wijaya menghantamkan Suranka tepat di dada Kamandaka, dengan sigap Kamandaka menaruh gladiosa di tengah dadanya untuk menghalangi serangan suranka Wijaya. Namun saya Suranka terlalu kuat, gladiosa Kamandaka hancur berkeping-keping. Wijaya menahan Suranka tepat 1 centimeter sebelum menyentuh dada Kamandaka.
BAM...KRAK...CRANG...SWUSH...
"Aku menyerah!" Ucap Kamandaka dengan wajah pucat pasi dan mengangkat kedua tangannya. "Hampir saja!"
"Maafkan aku karena telah merusak gladiosa milikmu, temui aku setelah sayembara ini di penginapan padang bulan." Ucap Wijaya.
"Haaaaah!" Penonton bersorak ramai. "Baiklah pemenangnya Wasesa Jaya!" Teriak Patih Wirabumi. "Baik gusti Wasesa Jaya apakah berehat dahulu atau lanjut?" Tanya Patih Wirabumi.
"Lanjut saja!" Ucap Wijaya sambil menepuk-nepuk pundaknya untuk menghilangkan debu dari pakaiannya.
"Aku ambil uangnya ya!" Ucap Anarghya sambil menyeringai licik. "Baik bagaimana kalau kita tingkatkan uang taruhanya jadi 4 juta mega!"
"Baik, aku yakin jagoanku Bogatjana pasti menang, soalnya Wasesa jaya sudah kelelahan. Bagaimana kalau 10 juta mega?" Pinta penonton satu.
"Oh kang mas sungguh murah hati, baik aku ikut!" Anarghya menaruh 10 tumpukan kantung besar berisi uang 1 juta mega perkantung.
"Baik pertandingan babak akhir akan segera dilanjutkan, Bogatjana melawan Wasesa Jaya!" Teriak Patih Wirabumi.
Bogatjana memasuki arena, penonton bersorak sorai untuk mendukung Bogatjana. "Tunggu pangeran Anarghya sedang memasang taruhan untuk Wasesa Jaya, mari kita ikut!" Ajak penonton tiga.
"Ya aku juga akan memasang taruhan juga untuk Bogatjana!" Ucap penonton empat. Beberapa penonton dari kaum bangsawan jug ikut bertaruh untuk Bogatjana semuanya akhirnya terkumpul uang 2000 tera atau 2.000.000.000 mega.
Sebenarnya Anarghya dan Wijaya sudah bersekongkol untuk taruhan. Bagaimana pun juga sifat asli Wijaya itu selalu berhubungan dengan keuntungan uang, jadi Wijaya memberikan 2000 tera pada Anarghya sebagai modal taruhan. Jadi Uang Wijaya masih tersisa 1000 tera lagi yang Anarghya masih simpan.
"Bagaimana kalau kita naikan lagi taruhannya, aku yakin Wasesa Jaya itu pasti akan kalah karena sudah kelelahan!" Ucap Anarghya memprovokasi para bangsawan untuk menaikan taruhannya.
__ADS_1
"Ya aku setuju tambah 1000 tera lagi." Ucap Adipati Laksa pemilik wilayah Kadipaten Janurdara yang berbatasan langsung dengan kerajaan Singosari.
"Baik gusti adipati aku setuju!"Anarghya mengeluarkan 1000 tera lagi dari dalam gelang penyimpanannya.