
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update hanya 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, soalnya menentukan alur ceritanya sedang kurang mood, hehehe.
"Apakah kalian bersedia bergabung bersama kami?" Tanya Wijaya berteriak dari depan podium yang berada di halaman istana. "Kami bersedia gusti." Ucap serentak 900 peserta bawana dari mulai tingkat darama sampai bawana, rata-rata mereka berada ditingkatan minimal ksatria. Mereka semua berlutut dengan satu kaki dan memegang dada kiri dengan telapak tangan kanan.
"Bagi yang bersedia silahkan berbaris dengan rapi disana, untuk menerima upah, biaya ganti rugi, seragam dan juga lencana. Setiap lencana akan diberi tingkatan sesuai tahapan bawana. Lencana bisa di naikan tahapannya jika berhasil membuat pil dan ramuan sesuai dengan tingkat pil serta ketinggian efektifitas pil." Teriak Wijaya sambil melambaikan tangan untuk menunjukan arah tempat berkumpul para peserta bawana.
Mereka semua berbaris rapi untuk antri, sekarang tersisa 600 pandai besi. Meskipun mereka diberi upah 1 tera, kompensasi 100 giga dan kemampuan hebat Wijaya dalam menyembuhkan serta membuat pil, mereka belum tertarik sama sekali . "Baik, sekarang bagaimana keputusan para empu semuanya?" Tanya Wijaya dengan berteriak di atas podium.
"Lalu apa yang gusti berikan pada kami? apakah ada cara senjata yang lebih hebat?" Tanya Salah empu dengan senyum sinis. "Baiklah, bukannya aku menyombongkan diri. Tapi inilah kenyataanya, selain aku seorang Mahadayana, aku juga seorang Empu." Wijaya mengeluarkan pedang raivaja dari ripela aksa telapak tangan kanannya.
"Ajian macam apa bisa mengeluarkan sebuah benda seperti itu?" Tanya dalam batin seorang empu berjanggut kuning sambil mengelus dagunya. "Silahkan para empu melihatnya pedang jenis braka yang aku buat sendiri." Wijaya meletakan pedang raivaja di meja samping podiumnya.
__ADS_1
Para empu satu persatu melihat, memegang dan meraba pedang raivaja. Ada yang coba menjetikan jarinya, ada pula yang mencoba memegang lalu membelah batu. Hasilnya mencengangkan para empu yang melihat terkagum-kagum dengan pedang raivaja buatan Wijaya.
"I-ni ti-ti-tidak mungkin. Ini adalah senjata tingkatan Ajisaka, bahkan Empu Culuk yang sangat terkenal pun hanya mampu membuat bedhama tingkat konta." Ucap Resi Siwak Merah, dia adalah empu terhebat kedua di benua nusantara setelah empu culuk.
"Resi apakah itu benar?" Tanya salah satu peserta lain, seorang pria paruh baya memakai baju pendekar berwarna kuning dengan bulu janggut biru tipis. "Ini tidak salah lagi, aku berani bersumpah demi dewata agung, bahwa pusaka braka ini adalah bedhama (senjata) tingkat ajisaka." Jawab Resi Siwak Merah dengan mata masih terbelalak dan tangan gemetar serta wajah pucat pasi.
"Apakah masih belum cukup?" Tanya kembali Wijaya. "Belum, aku masih belum mempercayai jika gusti yang membuatnya. Aku saja yang sudah menjadi seorang empu selama 250 tahun belum bisa membuat senjata sampai tingkat Ajisaka seperti itu."
"Bisa saja orang lain yang membuatnya dan gusti yang mengakuinya, bukan?" Ejek Empu Cakrana seorang empu terhebat ketiga di benua nusantara dengan nada sinis.
Ripela aksa bisa mengatur ukuran benda yang dikeluarkan sesuai keinginan pengguna, jika awal penyimpanan benda itu berukuran besar. Wijaya menggunakan ajian pancer agni, berdheva agni (api hijau) yang dikeluarkan dari ripela aksa di telapak tangan kirinya. Untuk melelehkan batu bintang bharatayuda.
Setelah dilelehkan selama 10 menit dan di bentuk menjadi bola cairan, lalu Wijaya menggunakan ajian sagisaga, pagporma untuk membentuk jenis senjata yang Wijaya inginkan. Lalu bola cairan yang melayang di atas telapak tangan kiri, diberi tekanan energi prana dari telapak tangan kanan Wijaya.
"Baru pertama kali aku melihat cara membuat bedhama seperti ini. Namun beberapa rumor mengatakan cara ini seperti, cara Empu Culuk membuat bedhama." Ucap Empu kuningrat seorang empu gerakan bawah tanah yang selalu membuat senjata untuk dijual kepada para pembunuh bayaran. Dengan mata membelalak tanpa berkedip sedikitpun, Empu kuningrat terus memperhatikan Wijaya membuat senjata.
__ADS_1
Lagi-lagi semua pandai besi terkesima dengan kehebatan Wijaya mendemonstrasikan dalam membuat senjata. Karena cara Wijaya membuat senjata sangat jauh berbeda dengan pandai besi keumuman. Yaitu dengan melelehkan material lalu ditempa sangat lama.
Setelah diberi tekanan 20% energi prana selama 20 menit, Wijaya memasukan bola cairan batu bintang bharatayudha ke dalam formasi pagporma dengan bentuk bedhama kameya (belati) kujang kembar. Wijaya menutup formasi pagporma, lalu mengeluarkan energi batu mustika karbara sayuta yang berpancer bantala (elemen tanah), dari mahkota kurusetra.
Untuk menambah pancer pada bedhama jenis kameya yang dibuat Wijaya. Wijaya mengalirkan energi batu mustika karbara sayuta selama 30 menit ke formasi pagporma. Formasi pagporma terbuka muncul dua kameya seperti kujang kembar dengan gagang corak serigala berwarna coklat dan bilah kujang berwarna coklat keemasan.
"Sungguh kameya yang mempesona!" Ucap Resi Siwak Merah, Empu Cakrana, dan Empu kuningrat serentak. Para pandai besi yang lain juga matanya berbinar-binar melihat keindahan kameya kembar Wijaya. "Sungguh menarik." Gumak serentak semua yang ada di halaman istana termasuk Prabu Surya, Pangeran Wiralodra, Ratu Endang Dharma, Putri Sukmasari dan Nyi mas Asmarini.
"Bedhama ini aku beri nama Karbara binjaka (Serigala kembar). Ini aku hadiahkan untukmu Nyi Mas Asmarini." Ucap Wijaya sambil berjalan ke arah Asmarini yang berada di samping Prabu Surya yang sedang duduk di gazebo halaman istana. "Bedhama ini setingkat Ajisaka, seperti braka miliku, dan nuolia milik saudaraku Manggala." Wijaya menyerahkan pusaka karbara binjaka pada Asmarini dengan berlutut satu kaki.
"Apa!" Teriak Semua orang dengan mata terbelalak mendengar pernyataan Wijaya kecuali Manggala. "Terima kasih kang mas Wijaya, tapi ini terlalu berharga untukku." Tolak Asmarini dengan raut wajah yang enggan menerima pemberian Wijaya. "Tak perlu sungkan, ambilah!, silahkan nyi mas mencobanya!" Pinta Wijaya lalu membalikan badan lalu kembali ke podium di halama istana.
Asmarini memegang karbara binjaka, kekuatan pancer bantalanya langsung meningkat tajam hingga 200%. "Sungguh pusaka yang sangat luar biasa." Puji Asmarini dalam batinnya. Asmarini lalu melesat ke arah batu besar di halaman istana untuk mencoba tebasan karbara binjaka.
SYAT...KRAK...DOOM...
__ADS_1
Dengan sekali tebasan membentuk diagonal huruf x, Asmarini berhasil membelah batu yang sangat besar seukuran rumah. "Tubuhku juga sangat ringan seperti menginjak angin." Gumam Asmarini yang masih melakukan beberapa gerakan jurus. Kemudian salto ke belakang tiga kali dan berhenti, lalu Asmarini kembali ke tempat duduknya.