
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update sudah normal 1 chapter/2 hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
"Ajian pancer banu, bola banu (elemen air, bola air)!" Wijaya menembakan bola air dengan jarak 2 meter ke arah perisai api.
SWUSHH....BOOOOM....
Terjadi ledakan membuat kepulan asap menghalangi pandangan, uap kabut menyebar dengan radius 50 meter di udara.
Pertahanan perisai api berhasil di tembus, Wijaya segera melakukan ajian braka, thera kamatayan (teknik senjata katana, tusukan kematian) untuk mengakhiri hidup Suryadaksa.
SHUA...JLEB...
"Akh!" Pekik Suryadaksa. "Kamu sungguh hebat pertahanan absolut perisai apiku kau bisa menembusnya." Ucap Suryadaksa. Wijaya mencabut raivaja dari perut Suryadaksa dan menyarungkannya kembali. "Ini untuk rakyat Demak Bintoro yang telah kau siksa! ajian baladewa, brajamusti (teknik pasukan dewa, halilintar sejati)!" Wijaya memukul perut Suryadaksa yang sudah terluka hingga mendorongnya ke permukaan tanah.
SHUA...SWUSH...BOOM...
"Guhak!" Suryadaksa memuntahkan banyak darah dari mulutnya. "Aku akui kamu sangat hebat dalam taktik pertarungan. Tapi aku masih belum kalah, aku akan membawamu ke alam baka bersamaku!" Suryadaksa menggenggam jari jemarinya erat. "Ajian pancer agni, rajahtava (elemen api, peledak)!"
Tubuh Suryadaksa semakin lama semakin membesar, urat ototnya menonjol dan berwarna merah.
"Aku tidak akan sempat lari kalau seperti ini, sial. Ajian pancer banu, tirta(perisai air)!" Seru Wijaya.
Tubuh Wijaya diselimuti perisai berbentuk bola air. Namun sebelum tubuh Suryadaksa meledak, Kertarajasa Jayawardhana muncul di hadapan Suryadaksa dan menendang perisai air Wijaya hingga terpental jauh.
BANG...SHUA...BOOM...
__ADS_1
"Mahapatih goblok! tolol! sungguh tak berguna. Menghadapi cecunguk seperti itu saja tak becus!" Umpat Kertarajasa dan menginjak-injak kepala Suryadaksa
"Aku juga akan membunuhmu raja bodoh! hahahahaha!" Kata Suryadaksa yang tubuhnya semakin membesar dan memegang erat kaki Kertarajasa. "Aku akan membawamu juga ke neraka!"
"Dasar bodoh! ajian seperti itu tak akan mempan padaku." Kertarajasa mencengkram kepala Suryadaksa dan mengangkatnya. "Ajian badranaya agni, imuagni (teknik api badranaya, api penghisap)!"
Tubuh Suryadaksa di hisap oleh Kertarajasa dengan ripela aksa berwarna merah hitam pekat di telapak tangannya.
"Deg!" Jantung Wijaya berdetak kencang, Wijaya memegang dada kirinya seakan jantungnya mau pecah dan berkata. "Sial kenapa bisa terjadi di saat seperti ini?"
Tubuh Suryadaksa menghilang, dan tubuh Kertarajasa tiba-tiba membesar 10 kali lipat, muncul tanduk kerbau berwarna hitam kemerahan di kepalanya, taringnya memanjang, mukanya berubah menjadi muka naga gokarya, urat otot disekujurnya menonjol keluar dengan warna merah terang.
"Hahahaha, batu mustika naga gokarya memang sungguh hebat, kekuatan pancer agniku meningkat pesat. Aku akan bumi hanguskan kerajaan keparat ini, aku akan balas dendam kepada semua kerajaan dibawah pimpinan kurusetra. Ajian badranaya agni, madha pulawa agni (teknik api badranaya, api merah yang agung)!" Kertarajasa menyemburkan api merah yang besar dari mulutnya.
SWUSH...BLAR...BLAR...
Semua hutan Setramanik dan setengah kotaraja Kediri terbakar hebat, untung saja tak ada korban jiwa di dalam kotaraja Kediri karena semua penduduk segera diungsikan ke kerajaan Mataram. Api membumbung tinggi hampir disemua tempat, kekuatan elemen api yang disemburkan Kertarajasa sangat hebat, mampu meluluh lantakan semua hutan Setramanik.
Kertarajasa menyeringai jahat dan berteriak penuh kesombongan ke arah Wijaya. "Mengaku kosawa kurusetra tapi kemampuanhya hanya seperti cecunguk kecil sungguh memalukan, cih!"
Kertarajasa melesat sangat cepat, tubuhnya berkedip lalu muncul di hadapan Wijaya dan menghantamkan pukulan ke perisai air Wijaya.
BANG...
Perisai air milik Wijaya yang berbentuk bola hancur dan berhasil di tembus oleh pukulan Kertarajasa yang sangat kuat hingga mengenai dada kirinya yang sedang sakit.
"Akh! guhak!" Pekik Wijaya lalu memuntahkan banyak darah, jubah kosawa milikya berlubang tepat di dada kirinya, kulitnya yang putih terlihat menghitam setelah terkena pukulan Kertarajasa. Wijaya berlutut satu kaki, masih memegangi dada kirinya yang sakitnya bertambah.
"Cih! sungguh mengecewakan kemampuan seorang kosawa tak ada apa-apanya, hanya seekor semut di hadapanku." Kata Kertarajasa lalu menendang kepala Wijaya hingga terjungkal ke belakang dan menginjak-injaknya.
__ADS_1
BAM...BUG...BUG...
Wijaya tak berdaya dan masih memegang dada kirinya yang sangat sakit, kepalanya berlumuran darah di rambut merahnya. Kertarajasa masih belum puas menyiksa Wijaya dan terus memukul-mukulnya dengan tangannya yang sangat besar hingga tubuh Wijaya tenggelam dalam tanah.
Kertarajasa sangat menikmati penyiksaan terhadap Wijaya. Kini Wijaya di cengkram kepalanya lalu diseret dengan menyentuhkan kepalanya di permukaan tanah secara cepat lalu membenturkannya ke batu yang besar.
SRAK...SHUA...BOOM...
"Aku akan membuatmu merasakan penyiksaan neraka! ajian badranaya agni, sakrama vedha (teknik api badranaya, cengkraman neraka)!" Tangan besar Kertarajasa diselimuti aura merah pekat lalu mencengkram bagian perut Wijaya dengan tangannya yang sangat besar.
"Aaaaakh! aaaaakh! aaaaakh!" Wijaya terus berteriak kesakitan tanpa bisa melawan. "Bedebah kau Kertarajasa! aaaaaakh!"
Kertaraja lalu menghantamkan tubuh Wijaya ke permukaan tanah dengan sangat keras hingga membuat kawah yang sangat besar berdiameter 100 meter dan kedalaman 3 meter.
SWUSH...BOOM...
Tulang Wijaya semuanya remuk dan tak bisa digerakan lagi. Kertarajasa terus memukul-memukul tubuh Wijaya lalu melemparnya ke udara, Kertarajasa tubuhnya berkedip dan menendang Wijaya hingga terbang ke atas langit yang lebih tinggi. " Aku akhiri hidupmu hingga menjadi debu. Ajian badranaya agni, meteor agni (api meteor)!" Kertarajasa yang melayang di udara menggenggam erat kedua jari jemarinya.
Muncul meteor dibalut api yang membara dengan diamater 1 kilometer yang siap menghantam tubuh Wijaya yang terus terbang cepat ke arah meteor. Wijaya sudah tak berdaya, seluruh kesaktian dan ajian sudah tak berguna lagi, karena tubuhnya sudah tak bisa digerakan lagi.
"Selamat tinggal ibunda, kakek dan saudaraku. Ini adalah pesan terakhirku!" Batin Wijaya lalu memejamkan mata. Meteor dengan api yang membara disetiap retakannya menghantam Wijaya dan mendorongnya dengan sangat cepat menuju permukaan tanah.
"Hahahaha, bimantala javaruka akan menjadi milikku, selamat tinggal bocah tengik, hahahaha!" Kata Kertarajasa dengan tertawa terbahak-bahak dengan penuh kesombongan. "Akan ku bakar semua bimantala javaruka dengan lautan api, hahahaha!"
Meteor api terus mendorong dengan cepat Wijaya hingga akhirnya menghantam permukaan tanah dan mengubur Wijaya.
SHUA...SWUSH...BOOM
Muncul siluet seperti jamur yang sangat besar dan tinggi. Gelombang kejutnya menghempaskan seluruh kerajaan Kediri menjadi rata dengan tanah, hutan Setramanik menjadi gurun pasir yang sangat panas dipenuhi lautan lava.
__ADS_1
Kedua prajurit yang berperang juga merasakan gelombang kejut akibat benturan meteor ke permukaan tanah. Nasib Wijaya entah bagaimana masih hidup atau sudah mati, setelah terkena meteor yang besarnya 1 kilometer dengan daya ledak yang sangat kuat. Wilayah kerajaan Kediri telah hilang dari peta bimantala javaruka, tak ada lagi istana kediri dan tak ada lagi kotaraja Kediri serta kadipaten-kadipaten dibawah nauangan kerajaan Kediri.