KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
KEMENANGAN YANG MENYEDIHKAN


__ADS_3

Bleta Bora dan pasukan Bleta Permoda mulai mendekat pintu gerbang utara kota julang emas di atas ketinggian 100 meter terbang dengan suara senyap.


Terlihat ada 500 bandit di luar pintu gerbang utara, 300 bandit bargawa dan 100 bargawa dari pasukan perak neraka, serta 200 bandit yang berjaga di dalam dinding pembatas.


Bleta Bora melambaikan tangannya dua kali sebagai isyarat untuk membagi pasukan menjadi dua, pasukan Bleta Bora terbang menuju bandit yang ada di dalam dinding pembatas sedangkan pasukan Bleta Permoda lainnya di luar dinding pembatas.


Jarak antara pasukan satu dengan lainnya 50 meter. Jika dalam pasukan manusia biasa tentu menyerang dalam kegelapan malam tentu akan sangat menyulitkan, tapi bagi pasuka Bleta Bora tidak masalah.


Karena akan mereka punya mata mode malam untuk menyerang, cukup dengan persepsi panas tubuh target, mereka bisa membidik musuh dengan tepat.


Bleta Bora melambaikan tangan untuk bersiap membidik dan menyerang dengan serangan racun jarum korosi.


CLIK...CLIK...CLIK...CLIK...


SHUA...SHUA...SHUA...


JLEB...JLEB...JLEB...


BRUK...BRUK...BRUK...


Karena musuh kali ini terlalu banyak pasukan Bleta Permoda melakukan serangan beruntun jarum racun korosi.


CLIK...CLIK...CLIK...CLIK...


SHUA...SHUA...SHUA...


JLEB...JLEB...JLEB...


BRUK...BRUK...BRUK...


Semua pasukan perak neraka dan ribuan bandit Dirgacitra yang berada di pintu gerbang utara kota julang emas semuanya tewas seketika.


"Saudaraku Maung Bodas pasukanku sudah membersihkan jalan di pintu gerbang utara," Bleta Bora mengirim pesan melalui telepati pada Maung Bodas.


Semenjak Bleta Bora dan Maung Bodas melakukan kontrak abadi dengan Wijaya, mereka bisa saling berkomunikasi melalui telepati.

__ADS_1


"Baik saudaraku!" jawab Maung Bodas dalam batinnya.


"Cepat nyalakan suar! teriak Maung Bodas.


Salah satu Maung Lodaya merubah tubuhnya menjadi manusia setengah siluman lalu menyalakan suar.


Suar menyala di langit markas bandit Dirgacitra yang sudah hancur luluh lantak penuh dengan kobaran api. Pasukan 12 ksatria penjaga, pasukan Drona dan pasukan Maung bodas yang tersisa di luar benteng segera beranjak masuk ke dalam markas bandit Dirgacitra.


"Ajian jagat saksana, kusuma jiwa!" ucap Shintadewi merapal ajian zamankhwala untuk menyembuhkan semua pasukan Maung Bodas yang terluka.


Semua pasukan Maung Lodaya yang terluka diselimuti aura hijau lalu semuanya pulih seketika dan kekuatanya bertambah 10 kali lipat.


"Aaaaaaaaaargh," pasukan Maung Lodaya meraung keras setelah menerima energi penyembuhan Quantum milik Shintadewi.


"Terima kasih yang mulia putri mahkota!" ucap maung Bodas yang sudah menjadi tubub siluman penuh lalu berlutut, "naiklah yang mulia putri ini sebagai bentuk rasa terima kasihku yang telah menyembuhkan rakyatku."


"Maafkan paman jika aku tak sopan!" Shintadewi menaiki punggung Maung Bodas. pasukan Jatmiko sudah bergerak maju menuju pintu gerbang utara di ikuti pasukan Drona dan pasukan Maung Bodas yang tersisa. Shintadewi yang menaiki punggung Maung Bodas bersama pasukan 12 ksatria penjaga yang di pimpin Prasetya.


Tiga meriam bledog jurig sudah dibawa kembali menuju Kadipaten Maung bahari untuk di amankan. Karena medan peperangan kali ini berbeda harus melibatkan rakyat sipil yang tak berdosa.


Adipati durasa yang sedang bermantap-mantap dengan para wanita dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


TOK...TOK...TOK...


"Gusti adipati! gusti adipati! gusti adipati" teriak ksatria binting dari balik pintu.


Adipati Durasa segera memakai celananya dan bertelanjang dada lalu mendekat dan membukakan pintu, "berisik sekali! ada apa?" tanya Durasa dengan berteriak, raut muka durasa begitu kesal karena sedang bermantap-mantap di ganggu oleh prajuritnya.


"Lapor gusti adipati! semua pasukan bandit dan pasukan perak neraka yang berada di pintu gerbang utara semuanya sudah tewas!" Ksatria binting dengan membungkuk hormat dan menundukan kepala.


"Apa! siapa yang berani melakukannya, cari wakil pemimpin bandit untuk membereskannya!" ucap Durasa sambil memukul pintu kamarnya karena geram dan marah.


BRAK...


"Sendiko gusti, hamba pamit undur diri!" ucap ksatria binting dengan raut wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


Lagi-lagi kecerdikan pasukan Bleta Bora sudah mengamankan pintu pelarian musuh dengan membunuh pasukan bandit dan perunggu neraka di pintu selatan kota julang emas, total yang dibantai 500 bandit dan 100 ksatria bimantra, 100 ksatria bujaga, dan 100 ksatria binting. Semuanya tewas seketika terkena jarum racun korosi.


Kini tersisa 2000 pasukan kota julang emas san pasukan bandit, 1000 di pintu gerbang timur dan 1000 di pintu gerbang barat. Pasukan Drona mulai merangsak masuk ke dalam sisi timur kota julang emas, kediaman adipati Durasa pun di kepung oleh pasukan Maung Bodas yang di pimpin Jatmiko.


Shintadewi yang menaiki punggung Maung Bodas segera menuju kediaman adipati Durasa dan masuk ke dalam bersama Maung Bodas.


"Aku Putri Mahkota Shintadewi memerintahkan, Adipati Durasa keluar kau! semua kota sudah di kepung menyerah atau mati!" teriak Shintadewi menggunakan energi Quantum untuk berbicara ke seluruh kota Julang emas.


Penduduk kota Julang emas menutup rapat pintu mereka, tak ada satupun yang berani keluar.


Sementara pasukan Bleta Bora seperti pasukan haus darah, setelah pasukan Prasetya sampai di pintu selatan gerbang Julang emas untuk mengamankan pintu pelarian musuh. Mereka terbang lagi menuju pintu barat gerbang, wakil pemimpin bandit terakhir Citrabaya berada di sana. Pasuka Bleta Bora berhasil membunuh seluruh pasukan bandit dan julang emas yang berada di pintu barat gerbang dengan jarum racun korosi.


"Sialan! putri Brabang Sari itu berani menggangguku!" Durasa menggertakan giginya.


BANG...


Durasa memukul pintu aula kediaman Adipati, pintu itu terus terbang menuju Shintadewi, "jadi kau adipati kampret tak mau menyerah. Baik aku akan meladenimu!" teriak Shintadewi lalu melesat dengan tumpuan kaki untuk menghantam Durasa dengan pukulan ajian pancer bantala, lembu bharatayudha.


SHUA...SWUSH


Durasa segera menarik rimora dari punggungnya untuk menangkis serangan Shintadewi namun sayang sekali kepalan tangan Sintadewi terlalu keras. Rimora milik Durasa hancur bagai pecahan kaca. Pukulan Shintadewi terus melaju menuju perut Durasa.


BANG...TRANG...SHUA...JLEB...


Perut Durasa tertembus pukulan Shintadewi sampai ke belakang punggunya, "guhak, akh!" pekik Durasa dan memuntahkan darah segar dari mulutnya dan tewas seketika.


"Ini adalah pembalasan penduduk desa Lembarawa dan penduduk julang emas yang sering kau siksa dan kau peras, cuih!" teriak Shintadewi sambil meludahkan air liur tepat di kepala Durasa.


Drona berhasil memukul mundur 1000 Pasukan bandit dan julang emas yang tersisa, semuanya menyerahkan diri dan menjadi tawanan perang. Mereka akan di adili di mahkamah kerajaan Brabang Sari.


"Akhirnya kita berhasil merebut kota ini lagi anaku, dimana kau berada?" gumam Shintadewi dan menyeka air matanya.


**Sesuai janji author up 3 chapter meskipun malam ya jam 01.00 hehehe.


Dukung terus ya. bye-bye**

__ADS_1


__ADS_2