KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PEMBANTAIAN SILUMAN TIKUS TANAH BAGIAN 3


__ADS_3

"Sudah lakukan saja! seraaang!" teriak jauhetu rogba melambaikan tangan kembali.


Bledog jurig kembali di tembakan.


BLOOM...BLOOM...BLOOM...


"Menghindar! lari secepat mungkin!" teriak Maung Korawa.


Namun sayang sekali mereka tak sempat mengelak, karna serangan bledog jurig terlalu cepat.


BOOM...JDAAR...JDAAR...JDAAR...


"Serang kembali dengan meriam bledog jurig yang masih tersisa!" teriak kembali jauhetu rogba sambil melambaikan tangan.


BLOOM...BLOOM...BLOOM


BOOM...BOOM...BOOM...


JDAAR...JDAAR...JDAAR...


Kepulan asap membumbung tinggi pekikan suara maung lodaya menggema di seluruh arena peperangan.


Dalam kondisi terdesak, jauhetu rogba memberi aba-aba untuk kembali menembakan meriam bledog jurig yang masih tersisa.


BLOOM...BLOOM...


BOOM...BOOM...


JDAAR...JDAAR...


Dua ribu lima ratus lima puluh maung lodaya mati seketika termasuk Maung Korawa dengan tubuh terpanggang, kondisi kepala berceceran, usus terburai, dan tubuh terpisah.


Hanya tersisa empat ratus lima puluh maung lodaya dengan kondisi moral mereka yang jatuh ke jurang yang sangat dalam dan tak berdasar.


*POV MAUNG BODAS DAN WIJAYA*


"Tidaaaaak, saudaraku, saudaraku, tidaaaak, aaaaaaaargh, awas kau jauhetu roksa! akan aku bunuh kau!" Maung Bodas berteriak keras dalam batinnya.


Maung Bodas merasakan bahwa Maung Citraksa dan Maung Korawa tewas dalam peperangan, begitu pula pasukan mereka hanya tersisa sedikit. Maung Bodas geram dan marah kemudian bertransformasi menjadi harimau putih yang besar dengan kulit kemerahan serta meraung keras. Lima ratus pasukan Maung Lodaya pun berubah menjadi harimau juga.


GROAAAAAAAR....


Jauhetu rota yang berada di dalam markas mereka terkesiap dengan suara raungan Maung Bodas.

__ADS_1


"Gusti sepertinya musuh akan datang, akan datang," salah satu prajurit jauhetu rota yang panik.


"Ah, tidak mungkin itu hanya suara harimau liar yang lagi memperebutkan wilayah, sudah biarkan saja!" ucap ringan jauhetu roksa dengan nada meremehkan.


Wijaya yang mendengar raungan tersebut juga terkesiap dan menghubungi Maung Bodas lewat telepati, "Saudaraku ada apa?."


Namun tak di jawab oleh Maung Bodas membuat Wijaya khawatir ia pun kembali melesat ke gua di bawah batu karang, namun tak menemukan Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya.


Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya dengan membabi buta, maju menerjang jauhetu rota yang menghalangi Maung Bodas untuk masuk ke markas.


BRAG...BRUG...BRAG...BRUG...


GROAAAAR...SLASH...SLASH...SLASH...


Pasukan elit jauhetu rota yang berjumlah empat puluh sembilan tewas seketika yang hanya menyisakan pemimpin mereka jauhetu roksa.


"Gawat! Maung Bodas telah pergi!" Wijaya dengan rasa khawatir melesat masuk ke markas jauhetu rota, sepanjang jalan yang Wijaya lihat hanya mayat jauhetu rota yang bergelimpangan.


Wijaya yang melihat Maung Bodas mencengkram leher jauhetu roksa dan akan menebas kepalanya menghentikan cakar Maung Bodas dengan tangannya, "hentikan saudaraku! tanganmu yang suci tak pantas untuk melakukan hukuman terhadap siluman yang banyak dosanya! biarkan aku yang akan menghukumnya!" Wijaya menyeringai jahat seperti psikopat.


"Ampuni aku gusti! ampuni aku! aku mohon!" jauhetu roksa dengan wajah memelas.


"Baiklah aku mengampunimu!, tapi-" Wijaya menyeringai jahat, lalu melepaskan ajian sagisaga, sewu mwazi tudlo pada tubuh jauhetu roksa untuk menutup titik aliran energinya.


TSAK...TSAK...TSAK...TSAK...TSAK...TSAK...


BANG...CRAT...CRAT...CRAT...


Tubuh jauhetu roksa hancur lebur jadi bu ur darah, Maung Bodas dan para pasukan yang berada di dalam markas pun bergidik ngeri ketakutan dan menelan salivanya, "ah, maaf! keceplosan, hahahaha!" Wijaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hmm, dasar maniak psikopat, bisa-bisanya yang mulia prabu melakukan itu," cibir para pasukan maung lodaya dalam hati.


"Saudaraku semua perang belum berakhir, aku akan kembali ke desa Lembarawa untuk membalaskan dendam kalian, aku tahu saudara kita telah banyak yang gugur. Kalian semua bersihkan mayat jauhetu rota dan bakar, cari harta berharga mereka! dan informasi penting, aku meminta maaf pada kalian semua ini semua adalah kesalahanku!" Wijaya yang penuh penyesalan.


"Yang mulia gusti prabu, ini sudah suratan takdir dewata agung, jangan menyalahkan diri sendiri, kami juga masih lemah hingga para saudara kami nyawanya melayang karna kelemahan kami," ucap Maung Bodas juga penuh penyelasan.


"Ya, yang mulia gusti prabu maafkan kami!" ucap serentak pasukan maung lodaya.


"Sudah kita tak perlu bersedih lagi, kita tak boleh menyia-nyiakan nyawa saudara kita yang telah gugur. Mereka gugur demi mempertahankan tanah air kita! mari kita songsong masa depan yang lebih baik!" seru Wijaya.


"Sendiko, yang mulia gusti prabu!" ucap Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya serentak.


Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya membersihkan mayat jauhetu rotta menjadi gunungan kemudian membakarnya, sedangkan Wijaya kembali melesat pergi ke arena peperangan dengan ajian baladewa brabata naga.

__ADS_1


SHUA...SHUA...SHUA...


"Yang mulia gusti prabu, kami sebentar lagi sampai ke desa Lembarawa," ucap Bleta Bora melalui telepati.


"Baik, pimpin pasukan langsung serang pasukan jauhetu rotta yang tersisa, sedangkan wanita dan anak-anak kirim ke desa Lembarawa untuk di amankan serta temui paman Jatmiko!" perintah Wijaya melalui telepati.


"Sendiko yang mulia gusti prabu!" kata Bleta Bora melalui telepati.


Wijaya masih terus berlari menuju medan perang, melihat pasukan Maung Lodaya terdesak dan serangan satu meriam bledog jurig mengarah pada pasukan Maung Lodaya.


BLOOM....


"Selamat tinggal saudaraku, aku akan menemuimu," gumam salah satu pasukan Maung Lodaya yang sudah pasrah menerima serangan meriam bledog jurig.


Wijaya menghantam bola besar serangan meriam bledog jurig dengan ajian baladewa brajamusti.


BANG...SHUA...BOOM...JDAAR...


Bola serangan meriam berbalik menyerang jauhetu rogba, lima puluh jauhetu rota tewas seketika terpanggang gosong, dan lima meriam bledog jurig hancur luluh lantak.


NGUNG...NGUNG...NGUNG...NGUNG...NGUNG..


Seribu lima ratus bleta permoda datang masuk medan perang dan langsung menembakan jarum beracun dari ekornya.


SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...JLEB...


Para Maung Lodaya yang tersisa melihat bleta permoda menyerang jauhetu rota bukan main senang kegirangan, "bala bantuan datang! bala bantuan datang!" teriak salah satu Maung Lodaya.


Moral pasukan Maung Lodaya naik kembali namun sayangnya seluruh jauhetu rota yang tersisa sudah mati tertusuk jarum beracun sepanjang 1 meter dari bleta permoda.


"Amankan meriam yang tersisa! tumpukan semua mayat jauhetu rota dan saudara kita maung lodaya," perintah Wijaya Kusuma.


Pasukan Maung Lodaya membawa mayat saudara mereka dan menumpuknya seperti gunung, dibantu bleta permoda yang terbang mondar mandir menumpukan mayat-mayat jauhetu rota.


"Saudaraku kita berhasil memenangkan perang ini, bagaimana keadaan di sana? jika sudah selesai kembalilah!" perintah Wijaya pada Maung Bodas melalui telepati.


"Sendiko yang mulia gusti prabu, kami akan kesana segera!" jawab Maung Bodas melalui telepati.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.

__ADS_1


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2