KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PEMBANTAIAN SILUMAN TIKUS TANAH BAGIAN 1


__ADS_3

"Itu adalah tempat jauhetu rotta (tikus tanah), sarang mereka ada di bukit batu karang dekat pantai," Jatmiko sambil menunjuk tanda silang merah di peta.


"Apakah pamana tahu informasi terperinci tentang siluman jauhetu rotta?" tanya Wijaya dengan muka penasaran.


"Populasi penduduk mereka ada total kurang lebih 6000 jauhettu rotta rata-rata di level bintara Inggil dan pemimpin mereka jauhetu roksa di tahap praburata baharu. Mereka akan menyerbu ladang sawah di malam hari dengan cara berkelompok dan sangat cepat, itu yang membuat kami sulit menangani mereka. Tapi setiap penyerbuan jauhetu roksa tidak pernah keluar dia dan beberapa prajurit elit di tahap dendawa inggil akan berdiam diri menjaga markas mereka," jelas Jatmiko dengan wajah yang serius.


"Lalu kapan mereka akan menyerang paman?" tanya Wijaya.


"Jika sesuai perhitunganku mereka akan menyerang malam ini, karena besok adalah waktu ladang sawah akan panen. Para nelayan juga satu minggu ini cukup banyak menangkap ikan jadi lumbung ikan sekarang pasti cukup melimpah, meskipun kami nanti akan menyetorkan 95% ke para bandit," ucap Jatmiko dengan nada sendu dan wajah yang muram.


"Sudahlah paman, jangan bersedih seperti itu!, kita akan memecahkan masalah ini bersama, untuk sementara kita fokus dahulu untuk mengatasi serangan siluman jauhetu rotta, aku punya rencana untuk masalah ini, perintahkan para penduduk untuk tidak keluar rumah malam ini dan kunci pintu mereka rapat-rapat, sisanya aku yang selesaikan," ucap Wijaya dengan entengnya dan mengibaskan salah satu tangannya.


"Sendiko pangeran!, hamba akan laksanakan," Jatmiko sambil membungkuk hormat.


"Jangan terlalu sungkan paman, aku pergi dahulu untuk menemui penduduk Maung Bodas dahulu untuk mengatur siasat," Wijaya pun pergi menggunakan ajian baladewa brabata naga, "POFF...SHUA...", Kecepatan Wijaya pun meningkat pesat setelah tingjat evolusi energinya naik ke energi Qi.


"POFF..." Wijaya tiba-tiba muncul di depan kamp rakyat maung bodas yang berada di depan pintu masuk desa Lembarawa.


"Copot, copot eh anunya copot, eh copot," teriak seorang ibu paruh baya latah melihat Wijaya muncul seketika di depanya, "ma-ma-maaf, ya-yang mu-mulia pra-prabu ham-hamba terkejut," ucap ibu itu dengan nada terbata-bata.


"Maaf, ibu jika aku mengangetkanmu!, apakah kamu melihat saudaraku Maung Bodas, Maung Citraksa dan Maung Korawa?" tanya Wijaya.


"Gusti Maung Bodas, gusti Maung Citraksa, dan gusti Maung Korawa mereka membuat kamp dekat dengan ladang sawah, yang mulia prabu!" ucap wanita paruh baya dengan membungkuk hormat.

__ADS_1


"Terima kasih ibu, aku akan kesana, mari ibu!" Wijaya juga membungkuk hormat lalu pergi menuju kamp Maung Bodas.


Wijaya masuk ke kamp Maung Bodas, ada juga Maung Citraksa dan Maung Korawa yang sudah duduk di sana, mereka bertiga melihat Wijaya Masuk berdiri dan membungkuk hormat, " hormat pada yang mulia prabu!".


"Sudah mari duduk!" perintah Wijaya," Mohon maaf jika mengganggu dan merepotkan para saudara, malam ini menurut lurai Jatmiko akan ada penyerangan siluman jauhetu rotta (tikus tanah) untuk menyerbu lumbung ikan dan tanaman padi, total ada sekitar 5900 dari mereka akan menyerang. Ada berapa para ksatria yang kita punya?" tanya Wijaya.


"Kami mempunyai 9500 ksatria, 500 wanita dan anak-anak," jawab Maung Citraksa.


Sebelum Wijaya masuk kamp Maung Bodas Wijaya membaca kitab dewata adilaga untuk mencari strategi perang yang tepat, "Kamu dapat yakin akan berhasil dalam seranganmu jika kamu hanya menyerang tempat-tempat yang tidak dijaga. Kamu dapat memastikan keamanan pertahananmu jika kamu hanya mempertahankan posisi yang tidak dapat diserang."


"Baik bagi pasukan menjadi tiga, Saudaraku Maung Bodas pimpin pasukan 500 ksatria ikut denganku!, Maung Citraksa pimpin 7000 ksatria berjaga disini!, dan untuk Maung Korawa pimpin 2000 ksatria berjaga di lumbung ikan bersama paman Jatmiko!. Aku akan meminta bantuan para penduduk bleta permoda sekalian aku akan membuat markas baru untuk memulai pemerintahan dan untuk memindahkan tempat tinggal kita semua, jika semua jauhettu rota sudah dibersihkan susul aku dan Maung Bodas ke markas mereka untuk melakukan pengepungan," perintah Wijaya.


"Lalu dimanakah nanti kita akan bangun markas baru itu yang mulia prabu?" tanya Maung Korawa sambil menggaruk seluruh badannya yang gatal-gatal di gigit nyamuk.


"Itu bukankah markas jauhetu rotta?" Tanya Maung Bodas sambil mengelus dagunya.


"Ya benar saudaraku!, kita akan bangun markas kita di situ. Ingat! bersihkan dan bantai semua rakyat jauhetu rotta, jika mereka menyerah jangan bunuh, mungkin kita bisa memanfaatkannya untuk menjadi sekutu," perintah Wijaya.


"Sendiko yang mulia prabu!" ucap mereka bertiga serentak.


Wijaya melaksanakan strategi kitab dewata adilaga untuk memperkuat pertahanan, dan menyerang tempat yang tidak di jaga yaitu markas mereka. Karna jauhetu rotta adalah siluman berkelompok, tentu strategi ini sangat efekfif di tambah pasukan maung bodas semuanya setingkat dendawa, sedangkan jauhetu rotta hanya setingkat jagatama. Perbedaan kekuatan ini jelas menguntungkan Wijaya, namun Wijaya hanya ingin berjaga-jaga.


Sebenarnya dengan 1000 ksatria maung bodas tahap dendawa juga sudah cukup untuk membantai 5900 jauhetu rotta tahap jagatama.

__ADS_1


Mereka berempat keluar dari kamp dan mulai mengatur barisan, Maung Citraksa dengan 7000 prajurit menjaga ladang sawah, Maung Korawa dengan 2000 prajurit menuju lumbung ikan dengan jatmiko dana beberapa pendekar desa Lembarawa setingkat bintara.


Wijaya merapal ajiannya dan menggigit jempolya sehingga keluar darah lalu meletakan kedua telapak tangannya ke tanah, "**Ajian beluk sandarawa, bolo sewu : Bleta Bora."


"POFF...," muncul Bleta Bora (raja lebah) dari kepulan asap, namun bentuknya membuat Wijaya tercengang. Bleta Bora mempunyai bentuk manusia dengan mahkota di kepalanya dan dua tanduk lebah di dahinya, serta sayap lebah di punggungnya, dengan pupil mata berwarna kuning seperti lebah.


"Hormat pada yang mulia prabu, hamba menghadap dan siap menerima perintah," ucap Bleta Bora sambil berlutit dengan satu kaki dan kepala menunduk.


"Terima kasih saudaraku telah datang memenuhi panggilanku!, maaf jika merepotkanmu. Begini kita akan melakukan penyergapan siluman jauhetu rotta, berapakah total ksatria yang kalian punya? dan perintahkan mereka semua untuk pindah kemari!" tanya Wijaya.


"Kami punya total 2000 penduduk dengan total 1500 ksatria, 500 wanita dan anak-anak, kami akan tiba dalam satu jam lagi, perjalanan dari alas apuy penangsang kesini. Sendiko yang mulia prabu!, hamba pamit undur diri!, " Bleta bora yang masih berlutut dengan satu kaki dan menundukan kepala, kemudian menangkupkan tangannya lalu menghilang, "POFF...".


Wijaya pun pergi bersama Maung Bodas dan 500 ksatria Maung Lodaya ke markas jauhetu rotta di bukit batu karang dekat tepi pantai.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit**.

__ADS_1


__ADS_2