
Asmarini mengaktifkan maputi aksa namun berbeda dengan yang Wijaya miliki, hanya pupil matanya saja yang putih. "Ajian pancer bantala, bumi thera (tusukan bumi," Asmarini memukul-mukul tanah, tanah di bawah Wijaya membentuk ujung yang runcing, Wijaya menghindar dan setiap kali Wijaya menginjak tanah. tanah itu selalu membentuk ujung yang rucing setinggi 1 meter.
DUG...DUG...DUG...KRAK...KRAK...KRAK...
Ajian baladewa, brajamusti!" Tangan Wijaya diselimuti siluet api yang berkobar-kobar lalu memukulnya ke arah tanah runcing.
BANG...SWUSH....BOOOM....
Gelombang kejut menghempaskan seluruh tanah runcing yang berada di arena, sampai semua yang berada di arena terkena hempasan gelombang kejut. Bahkan pelindung gelembung air pun mendengung keras terkena gelombang kejut pukulan brajamusti Wijaya.
"Hati-hati hempasan anginnya sangat kuat berlindung!" teriak Raja Surya mengalirkan energi mananya pada telapak kaki sebagai medan penahan hempasan gelombang kejut.
"Pemuda yang sangat sakti mandraguna, hanya satu hentakan pukulan saja, ajian pancer bantala, bumi thera dihancurkannya dengan mudah. Padahal itu adalah ajian andalan anaku Asmarini!" gumam putri Sukmasari sambil mengalirkan chakra pada telapak kakinya.
SWUSHHHH....
Ajian baladewa sebenarnya ajian yang sangat terlarang bisa menggunakan semua pancer di setiap serangannya. Untuk saat ini Wijaya belum bisa mengkolaborasikan gerakannya dengan pancer atau elemen karena butuh control ajian yang sangat mumpuni.
"Ajian pancer bantala, bantala seina (dinding tanah)!" teriak Asmarini merapal ajiannya mengerahkan 15% chakranya untuk membuat 3 dinding tanah berlapis untuk menahan gelombang kejut pukulan brajamusti.
BRAG...BRAG...BRAG...SWUSH...KRAK...KRAK...KRAK...
__ADS_1
KRAK...BLAR...
Namun sayang hempasan gelombang kejut pukulan Wijaya terlalu kuat, dinding tanah hancur luluh lantak. Wijaya melihat Asmarini seperti terdesak segera melesat dengan ajian brabata naga.
SHUA...SWUSH...
Dan menghantamnya dengan pukulan, namun Asmarini menahannya dengan menyilangkan tangan tepat di dadanya.
BANG...KRASAAAK....
Asmarini terpundur kakinya bergesekan dengan permukaan arena, lalu menahan kakinya pada tumpuan kaki kanan dan melesat cepat untuk menerjang Wijaya dengan tendangan kakinya.
SHUA...BANG...BANG..BANG...
Pertarungannya sangat sengit hingga ribuan gerakan jurus dilontarkan, tapi belum satupun ada tanda-tanda staminanya terkuras hingga satu jam lamanya.
"Dua-duanya di tahap dendawa inggil tapi aku merasa cucuku bukan tandingan pangeran Wijaya. Sepertinya pangeran hanya ingin main-main dengannya!" gumam Raja Surya sambil mengelus dagunya.
"Apakah hanya seperti itu nona Asmarini kemampuan nona, jangan membuatku kecewa!" ledek Wijaya yang masih menangkis semua serangan pukulan dan tendangan Asmarini, dengan menyeringai jahat.
Asmarini salto ke belakang tiga kali lalu menangkupkan tangannya, urat otot di sekitar kelopak matanya menonjol keluar, "ajian kanuragan bhandayuda, sewu mwazi tudla!" Teriak Asmarini merapal ajiannya lalu melesat cepat ke arah Wijaya.
__ADS_1
Asmarini melepaskan 1000 totokan pada tubuh Wijaya.
TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...
Wijaya diam saja dan santai dengan menyeringai jahat dan tertawa terbahak-bahak, "hahahaha, sungguh menyedihkan! ajian seperti itu tak akan mempan padaku!." Wijaya yang terus terkena totokan Asmaeini tertawa lalu meraung keras, "hahahaha, akan aku tunjukan ajian itu sebenarnya, aaaaaaargh!"
Asmarini terhempas gelombang kejut yang lepaskan dari tubuh Wijaya. Tubuh Wijaya diselimuti aura berwarna putih lalu melesat ke arah Asmarini yang masih melayang lalu melepaskan ajian sagisaga, sewu mwazi tudla pada 321 titik aliran energi pada tubuh Asmarini.
TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...TSUK...
Aliran energi pada tubuh Asmarini berhenti dan tubuhnnya tidak bisa digerakan, akhirnya jatuh terduduk ke permukaan tanah arena.
BRUK...
Wijaya mengarahkan telapak tangannya tepat di kening Asmarini, "aku menyerah!" Teriak Asmarini dengan muka merah merona karena malu dikalahkan Wijaya.
****Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
__ADS_1
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong****.