
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update hanya 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, soalnya menentukan alur ceritanya sedang kurang mood, hehehe.
Wijaya menghubungi semua siluman yang dikontraknya, bahwa dia baik-baik saja. Maung Bodas menceritakan semuanya bahwa dua kerajaan Batavia dan kerajaan Bantani telah berhasil ditaklukan oleh pasukan Wasesa Jaya yang Wijaya kirimkan.
Karbara Sayuta menceritakan pada Wijaya bahwa wilayah di kekosawaan Majapahit kini sedang memanas, seluruh wilayah kerajaan Demak Bintoro telah berhasil di kuasai oleh kekosawaan Majapahit. Hanya tersisa tiga kerajaan yaitu Brabang Sari, mataram, dan kediri.
Kekosawaan Majapahit berhasil menguasai jalur pantai utara bimantala javaruka mulai dari Majapahit, singosari dan juga Demak Bintoro. Wilayah Brabang Sari sendiri berada di antara jalur pantai utara dan gunung di selatan, wilayah utara berbatasan dengan Demak Bintoro dan wilayah selatan berbatasan dengan Kediri.
Kadipaten Maung Bahari sangat dekat dengan desa Banjaranyar yang berada di wilayah kerajaan Demak Bintoro. Sedangkan Wilayah Kotaraja Brabang Sari dengan kotaraja Demak Bintoro dipisahkan oleh hutan Bandarawa dan sungai Saketi. Jaraknya juga cukup jauh yaitu sampai 80 kilometer.
Kemungkinan besar wilayah yang akan diserang di kerajaan Brabang Sari adalah Kadipaten Maung Bahari, Wijaya harus segera bersiap dan mengesampingkan masalah bandit Agrasara. "Manggala!, mari kita segera kembali, semua orang telah mengkhawatirkan kita sudah 30 hari kita tak kembali!" Wijaya melambaikan tangannya.
Manggala mendekat, kini Wijaya sudah berhasil menembus evolusi energi wadah jiwa Quantum, chakranya tidak terbatas, mana 100%, chi 100%, Qi 80%, reiki 60%, prana 40%, dan Quantum 10%.
Kini Wijaya sudah mencapai ajian pancer semesta tingkat pamungkas yaitu kiria karena sudah mencapai tahap energi Quantum.
Tahapan ajian pancer semesta, yaitu :
__ADS_1
Tahap Chakra tingkatan Among Slira yaitu penggunaan hanya boleh dilepaskan dari pengguna untuk satu target. Penggunaanya hanya pada satu titik bagian tubuh, misalnya ajian pancer agni : Topia agni (bola api). Pengguna api hanya membuat bola api dari mulut saja tidak bisa dibagian tubuh lain, dan melepaskannya, ukuran besaran Topia agni tergantung wadah jiwa chakra penggunanya.
Tahap Mana tingkatan Beheera yaitu pengguna ajian bisa mengendalikan dan melepaskan suatu ajian bebas dari bagian tubuh mana saja. Misalnya ajian pancer agni : Topia Agni, jika ajian ini bola api yang dikeluarkan hanya dari bagian mulut. Jika sudah tahap Mana bisa dilepaskan dari bagian tubuh mana saja, contohnya telapak tangan, kepalan tangan atau tendangan kaki.
Tahap Chi tingkatan Lugara yaitu pengguna ajian bisa menyerang lebih dari satu target dengan radius tertentu sesuai penggunaan Chi, atau disebut serangan area.
Tahap Qi tingkatan Nipulima yaitu pengguna ajian bisa memanipulasi bentuk serangan area pada terget.
Tahap Reiki tingkatan Vormana yaitu pengguna ajian bisa membentuk tubuh pengguna menjadi sebuah senjata elemen sesuai imajinasi pengguna ajian.
Tahap Prana tingkatan Verander yaitu pengguna ajian bisa merubah bentuk elemen menjadi sebuah senjata sesuai imajinasi pengguna.
Tahap Quantum tingkatan Kiria yaitu pengguna bebas melakukan seluruh tingkatan dalam melakukan serangan.
Jarak 50 kilometer dari sungai Cimanuk ke istana Dharma ayu ditempuh oleh Wijaya dan Manggala hanya dalam waktu 30 menit. "Hoeek, hoeek, kakang Wijaya membuatku mual!" Manggala yang sudah melayang turun perlahan, membekap mulutnya lalu memuntahkan isi perutnya karena mabuk terbang.
"Hahahah, maaf, maaf, aku terlalu bersemangat, hahahaha! Wijaya menggaruk kepalanya dan terkekeh, mereka berdua turun di halaman istana Dharma Ayu. "Ajian jagat saksana, kusuma jiwa!" Wijaya mengarahkan telapak tanganya pada tubuh Manggala untuk menyembuhkan Manggala yang mabuk karena terbang terlalu cepat.
Tubuh Manggala diselimuti aura berwarna hijau dan kapasitas wadah jiwa prananya naik 5%. "Kakang Wijaya! apa yang terjadi dengan tubuh dan wadah jiwa energiku?" Tanya Manggala dengan raut muka penasaran lalu melihat tubuhnya sendiri.
"Tingkat pengendalian ajianku sudah tahap kiria karena evolusi energi jiwaku sudah naik ke tahap maksimal yaitu quantum." Jelas Wijaya.
__ADS_1
"Pffft, uhuk, uhuk, uhuk, apa!" Manggala tersedak dengan mata membelalak. "Kakang Wijaya lebih baik sembunyikan kekuatanmu. Itu sangat berbahaya, di tanah benua nusantara belum ada satu pendekar pun yang mampu ke tahap kiria dengan evolusi energi wadah jiwa quantum. Jika pihak kekosawaan tahu kau pasti akan diburu, karena merupakan ancaman besar." Jelas Manggala dengan raut wajah khawatir.
"Ya kau benar Manggala!, aku akan merahasiakannya. Mohon juga kamu rahasiakan semua ini." Pinta Wijaya, mereka berdua masuk ke dalam istana Dharma Ayu untuk menemui Prabu Surya.
Mereka masuk ke dalam aula istana, para ksatria binting yang berjaga mempersilahkan mereka masuk. Karena Prabu Angga sudah mengangkat Wijaya menjadi mahapatih kerajaan Dharma Ayu tanpa sepengatahuan Wijaya.
Semua mata tertegun melihat wajah Wijaya dan sedikit asing, wajah yang familiar namun dengan rambut acak sedikit panjang berwarna merah. Di dalam aula istana ada Prabu Surya, Ratu Endang Dharma, Pangeran Wiralodra, Putri Sukmsari, Patih Duryudana, Bleta Bora dan Maung Bodas.
Bleta Bora dan Maung Bodas yang sedang duduk langsung berdiri melihat Wijaya datang. "Paduka! anda telah kembali!" Teriak Maung Bodas dan Bleta Bora lalu menghampiri Wijaya serta memeluknya, air matanya tak terasa jatuh di pipi mereka berdua.
"Hei, hei, cepat lepaskan! kalian berdua ingin membunuhku ya!" teriak Wijaya dengan suara tertahan karena di peluk erat oleh Maung Bodas dab Bleta Bora. "Maaf, paduka! maaf!"Maung Bodas dan Bleta Bora melepaskan pelukannya pada Wijaya dan menyeka air matanya.
"Apakah paduka baik-baik saja?" Tanya Maung Bodas dan Bleta Bora. "Aku baik-baik saja karena Manggala yang merawatku selama ini. Dialah yang telah menyelamatkanku, perkenalkan ini Manggala kini telah menjadi bagian keluarga kita. Dia adalah pamilya Saputra terakhir dari kekosawaan Sriwijaya." Wijaya menunjuk dengan jempolnya ke arah Manggala.
"Perkenalkam saya Manggala Saputra!, mohon kerjasamanya saudaraku semua!" Manggala memperkenalkan diri ke Maung Bodas dan Bleta Bora sambil meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
"Aku Maung Bodas." Maung Bodas meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
"Aku Bleta Bora." Bleta Bora meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
"Ehem," Prabu Surya berdehem keras. "Apakah sudah temu kangennya?" Tanya Prabu Angga sambil memelintir kumisnya. "Maaf kakek prabu, hehehe." Wijaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan terkekeh.
__ADS_1
"Mari silahkan duduk!" Prabu Surya mempersilahkan semua hadirin yang berdiri untuk duduk. Sebelum Wijaya duduk tiba-tiba dari belakang pintu aula istana, ada seseorang berlari dengan kencangnya lalu menubruk Wijaya dari belakang.