KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
TRIO KELINCI


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 2 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Asmarini menuruni pijakan cermin yang di buat oleh Manggala dengan melompat-lompat sangat lincah. Setelah dekat dengan 500 prajurit yang mengepung Wijaya, di berteriak. "Kang mas Wijaya melompatlah. Aku akan menyerang mereka dengan pancer lawaku!" Wijaya segera melompat dan melayang ke atas. "Ajian pancer lawa, barsa lawa (semburan magma)!"


GLUGUK...GLUGUK...GLUGUK...CES...CES...CES...


Asmarini yang melayang beberapa saat di ketinggian 20 meter, menyemburkan lahar dari mulutnya sangat banyak, 100 ksatria binting langsung meleleh tertelan magma. "Segera menghindar orang itu berbahaya!" Teriak Senopati Sambasena. 400 prajurit mundur sejauh mungkin menghindari semburan magma yang dilancarkan Asmarini.


"Gluk!" Wijaya menelan salivanya. "Fyuh, aku bisa jadi manusia panggang jika terkena pancer lawa milik nyi mas, mengerikan." Asmarini tidak membiarkan mereka kabur sedikitpun dan melakukan serangan lagi. "Ajian pancer lawa, lawa (gelombang magma)!" Asmarini menempelkan kedua telapak tangannya ke tanah untuk mengeluarkan lebih banyak magma dari tangan dan mendorongnya ke arah 400 prajurit Rah Tengger.


SWUSH...GLUGUK...GLUGUK...


"Ah sial kalau seperti ini terus kita akan mati di lahap magma itu. "Ajian pancer agni, bola agni." Sambasena melepaskan bola api dari mulutnya berkali-kali untuk menahan serangan gelombang magma Asmarini. Bola api milik Sambasena menerjang gelombang magma Asmarini.


SWUSH...SHUA...BOOM...JDAAR...JDAR...


"Hahaha, bodoh kau pikir bola api itu akan menghentikan gelombang magmaku." Asmarini menyeringai licik. Gelombang magma terus bergerak ke arah 400 prajurit Majapahit. "Sial, dia terlalu kuat. Kita salah perhitungan, ayo segera mundur." Teriak Sambasena.


"Tak akan kubiarkan. Ajian pancer bantala (dinding perunggu)!" Asmarini kembali menempelkan kedua telapak tangannya. Muncul 4 dinding setinggi 20 meter dan volume 50 meter persegi mengepung 400 prajurit Majapahit. Mereka terperangkap di dalamnya dengan gelombang magma yang terus bergerak.a


"Tolong lepaskan kami, tolong!" Teriak semua prajurit Majapahit yang sudah terkencing-kencing dan putus asa. Mereka mencoba memukul, menebas bahkan menembakan bola api ke arah dinding perunggu, namun hasilnya nihil. Penyiksaan Asmarini berlanjut, "Ajian pancer bantala, (penjara lumpur)!" Lagi-lagi Asmarini menekan kedua telapak tangannya. Tanah yang dipijak 400 prajurit termasuk Sambasena ambles berubah jadi lumpur, mereka sudah tidak bergerak lagi.

__ADS_1


Mereka semua terperangkap dalam lumpur tinggal hanya kepala mereka saja yang masih ada lalu terkena gelombang magma dari Asmarini. Teriakan dan pekikan terdengar sangat jelas, Wijaya dan Manggala yang melihat ajian Asmarini seperti sedang menyiksa orang bergidik ngeri. Semua prajurit Majapahit termasuk Sambasena tewas mengerikan menjadi lumpur magma.


Api yang membumbung tinggi menarik perhatian prajurit lain yang berada di dalam markas Rah Tengger. Salah satu prajurit membunyikan kentongan.


TONG...TONG...TONG...


"Markas bagian utara diserang, markas bagian utara diserang." Teriak salah satu prajurit yang membunyikan kentongan. Para prajurit yang sedang beristirahat segera berhamburan keluar ke arah barat markas Rah Tengger.


"Bala bantuan segera datang, aku akan menghancurkannya terlebih dahulu." Manggala yang berada di sisi timur agak mendekat ke markas dengan melompati pijakan cermin yang ia buat. Manggala menarik anak panah dari busurnya dan mengikatkan bola rajahtava (peledak). Manggala mulai menarik busur panah ke arah pintu timur markas Rah Tengger, selama 10 kali tarikan busur.


SHUA...BOOM...SHUA...BOOM...


1000 Prajurit Majapahit di pintu timur langsung tewas seketika terkena ledakan bola rajahtava. "Aku akan mencoba kombinasi ajian yang diajarkan Kang mas Wijaya." Manggala turun dari 1000 meter ke ketinggian 500 meter.


"Ajian pancer spiela, sewu spiela (seribu cermin). Ajian pancer banu, sewu nuolia (seribu panah)." Manggala merapal ajiannya. Muncul seribu cermin transparan dengan diameter 1.5 meter, dari atas langit sampai permukaan tanah dimana prajurit Majapahit dan Rah Tengger berada. Lalu Manggala melepaskan ribuan anak panah secara cepat dan beruntun ke arah cermin.


Anak panah memantul dari satu cermin ke cermin yang lain begitu cepat seperti pisau terbang menyayat semua prajurit Rah Tengger dan Majapahit.


SYAT...SYAT...SYAT...JLEB...JLEB...


"Aaaakh, aaaakh, aaaakh,!" Pekikan dan erangan para prajurit yang terkena hujan anak panah dari atas langit. Dalam sekejap Manggala berhasil membunuh 10.000 prajurit dan Majapahit sendirian. Setiap prajurit keluar dari markas langsung dihujani anak panah yang terus memantul dari satu cermin ke cermin yang lain.


"Hah, hah, hah, untung saja berkat kang mas Wijaya aku punya energi yang tak terbatas. Tapi stamina tetap terkuras." Manggala segera meminum 10 pil tehostin untuk mengembalikan staminanya.


"Hoooooaaaaaam, benar-benar membosankan. Aku yang mengajak pesta malah mereka yang menikmatinya, sial. Kalau begitu aku tak akan membawa mereka lagi, merusak waktu pestaku saja!" Wijaya menguap sambil menyandarkan kepalanya di kedua tangan yang disilangkan. Wijaya kini sedang rebahan di atas pohon, hanya meihat Asmarini dan Manggala membantai pasukan Majapahit dan Rah Tengger dengan begitu ganas.

__ADS_1


Setelah satu jam 20.000 prajurit Rah Tengger dan Majapahit berhasil dibantai masih tersisa 10.000 yang berada di dalam markas Rah Tengger. Semuanya dibantai oleh Manggala dan Asmarini, mereka berdua benar-benar monster. Waktu di perang gerilya duo kelinci mendominasi kini ada tiga kelinci, jadi trio kelinci mendominasi lagi.


Wijaya turun dari pohon dengan melompat, lalu mengeluarkan raivaja dari ripela aksanya. Melesat cepat dengan ajian baladewa, brabata naga dan menerobos masuk markas Rah Tengger dengan menebas setiap prajurit yang Wijaya temui.


SLASH...SLASH...SLASH...


Sesekali Wijaya menembakan ajian pancer agni, bola agni untuk membakar prajurit Majapahit dan Rah Tengger. "Kekuatan kegelapan ini berada di dalam markas tadi kenapa sekarang menghilang. Jangan-jangan?" Wijaya membelalakan matanya. "Aku harus cepat!"


"Ajian pancer agni, agni slasha (tebasan api)." Wijaya merapal ajiannya raivaja diselimuti api yang berkobar-kobar. Wijaya menebas secara diagonal, vertikal, horizontal, secara terus menerus untuk meruntuhkan markas Rah tengger.


SLASH...SLASH...SLASH...BOOM...BOOM...BOOM...


Siluet tebasan berwarna jingga berbentuk sabit menghantam markas Rah Tengger dan meledakannya. "Rasakan ini!" Wijaya melempar bola rajahtava dengan berlari cepat mengelilingi markas Rah Tengger.


SHUA...BOOOM....BOOOM....KRAK...KRAK...


BRUG....


Markas Rah Tengger hancur dan runtuh mengubur 3.000 prajurit yang masih berada di dalam markas. Api membumbung tinggi terus membakar reruntuhan markas, Wijaya berhasil membunuh 10.000 prajurit. Tak ada satupun prajurit Rah Tengger dan Majapahit yang tersisa, semuanya telah tewas.


Wijaya berlari ke arah Asmarini yang berada di luar wilayah markas Rah Tengger tepatnya, bagian utara luar markas Rah Tengger.


Dari dalam kobaran api muncul sesosok manusia yang terbakar api dia tertawa dan meraung keras. "Hahahahahahaha. Aaaaaaaaaargh. Groaaaaaaargh."


Wijaya, Manggala dan Asmarini terkseiap dengan suara tersebut. "Benar-benar hal buruk, benar-benar buruk."Wijaya bergumam dalam batinnya. "Kalian cepat lari sejauh mungkin, cepaaaat!" teriak Wijaya.

__ADS_1


Manggala segera membuat pijakan cermin untuk Asmarini untuk lari ke atas. Semakin lama suara itu semakin keras, api yang membumbung semakin tinggi. Lama kelamaan redup seperti terhisap oleh sosok yang berada di dalam kobaran api.


BOOOOOM....


__ADS_2