
Wijaya mengeluarkan kunai dan danai dari ripela aksa di telapak tangannya. Lalu memegang kunai di tangan kirinya dan melempar danai ke arah pohon pinus besar.
SHUA...SHUA..SHUA...TRANG...TRANG...TRANG...
Hajdut berhasil menangkis serangan Wijaya dan berlari masuk ke dalam hutan. Wijaya merapal ajian baladewa among slira, 100 kembaran diri muncul dan menjaga 50 kereta kuda yang membawa 10 ton ikan. Sementara Wijaya yang asli mengejar hajdut yang kabur dari belakang pohon pinus.
Hajdut terus berlari melompati pohon ke pohon yang lain Wijaya mengikuti dari belakang, lalu Wijaya menggunakan ajian baladewa brabata naga mengejar hajdut yang berlari.
Hajdut yang terkejar Wijaya langsung turun ke tanah dan berlutut serta membuka cadarnya, "gusti Wijaya tunggu! aku menyerah!" hajdut mengangkat kedua tangannya.
Wijaya menatap dengan sorot mata yang tajam dari balik topeng kelinci, "darimana kau tahu kalau aku Wijaya?" tanya Wijaya dengan nada datar sambil menyodorkan kunai ke leher hajdut.
"Aku adalah mata-mata dari bandit agrariyin yang selalu memata-matai semua pergerakan Kadipaten Maung Bahari terutama tuan Wijaya. Namaku Sambala, istriku juntiwati dan anaku Sutarma telah dibunuh oleh Bogadenta pemimpin bandit Agrariyin, serta aku dipaksa untuk menjadi hajdut, jika tidak maka anak keduaku Rusminda akan dibunuh." Jelas Sambala dengan menyeka air matanya.
"Baiklah aku mempercayaimu tapi minumlah ramuan ini," Wijaya memberikan ramuan orja.
"Ramuan apa ini gusti?" tanya Sambala dengan raut wajah ragu, Sambala berpikir jika itu adalah racun.
"Tenang saja itu bukan racun minumlah! itu hanya ramuan orja (budak). Jika kamu berkhianat maka kau akan meledak menjadi bubur darah." Ucap Wijaya Kusuma.
"Tuan hidupku hanya untukmu," Sambala lalu meminum ramuan orja tanpa keraguan sampai habis. Lalu menyerahkan salinan peta markas bandit argariyin," ini gusti! harta jarahan bandit berada di belakang tempat duduk Bogadenta. Tawanan berada di penjara bawah tanah, penjagaan ketat hanya di pintu gerbang utama." Jelas Sambala pada Wijaya dengan nada serius.
"Baik, tunjukan jalannya, aku akan langsung membersihkan Bogadenta keparat itu!" Wijaya berjalan di belakang Sambala.
"Tunggu gusti pakailah baju ini!" Sambala memberikan baju seragam hajdut agrariyin. "Aku akan membawa gusti langsung bertemu dengan Bogadenta dan gusti bisa langsung membunuhnya!" ucap Sambala dengan sorot mata memerah penuh dengan kebencian pada Bogadenta.
Wijaya masuk ke semak-semak lalu mengganti pakaiannya, "Saudaraku Maung Bodas! cepat bawa pasukan kemari cukup 100 ksatria saja, aku akan membantai bandit agrariyin." Ucap Wijaya melalui telepati.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" ucap Maung Bodas melalui telepati lalu menyiapkan 100 pasukan Maung Lodaya yang beradabdi barak prajurit.
"Saudaraku kalian lanjutkan perjalanan ke kerajaan Dharma ayu aku akan menyusul nanti" ucap Wijaya melalui telepati pada 100 kembaran dirinya.
__ADS_1
"Gusti menyuruh kita melanjutkan perjalanan, mari berangkat kembali!" teriak kembaran diri memerintahkan para rombongan kereta kuda, para lija dan berah adilaga kembali naik kereta kuda.
Sedangkan 100 kembaran diri Wijaya juga ikut naik di atas kereta kuda bersama para berah adilaga di belakang kereta kuda.
Wijaya keluar dari semak-semak dengan memakai seragan hajdut agrariyin berwarna hitam dengab motif rakun di dada sebelah kanan dan menutup mukanya dengan cadar
Mereka berdua pergi ke arah utara dengan melompati satu pohon ke pohon yang lain, setelah 30 menit mereka berdua sampai di pintu gerbang utama markas bandit Agrariyin.
"Sambala siapa yang kamu bawa?" tanya hajdut yang berjaga di depan pintu gerbang. "Ini anggota baru aku sendiri yang merekrutnya dari desa Lembarawa, bisa dibilang dia telah berkhianat pada desa itu!" ucap Sambala dengan tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wijaya yang melihat Sambala sedang berakting juga ikut berakting, "Senior mohon bantuannya ya, ajari aku maklum masih pemula. Ini ada arak jenis baru aku bawa dari desa Lembarawa, senior!" ucap Wijaya sambil memberikan satu botol ramuan orja pada penjaga.
"Wah sepertinya enak warnanya saja begitu memikat, aku akan meminumnya!" Hajdut lalu meminum ramuan orja, "sungguh enak sekali. Bolehkah aku memintanya lagi?" tanya hajdut penjaga sambil menyodorkan tangannya.
"Oh senior menyukainya, baiklah aku punya stok banyak ambilah ini ada 100 bagikan ke semua teman-teman senior! hahahaha," ucap Wijaya sambil merangkul leher hajdut penjaga lalu mengeluarkan ramuan orja dari ripela aksa di telapak tangan kanannya.
"Eeeeh! darimana itu kau bisa mengeluarkan arak itu dari telapak tangan kananmu? apa itu sihir?" tanya para hajdut yang melihat dengan raut muka tercengang.
"Ya anggap saja seperti itu, sudah yang penting arak itu enak, hahahaha, ayo minumlah dan nikmati anggap saja kita akan berpesta hari ini!" Wijaya dengan raut muka menyeringai jahat di dalam cadarnya.
"Kena kau!" Wijaya membatin. Wijaya dan Sambala masuk ke dalam tempat utama markas bandit argariyin, di sana ada Bogadenta yang sedang memaksa wanita untuk bermantap-mantap dengannya.
Ada 50 hajdut yang berkumpul disana.
Wijaya yang melihat kejadian itu menjadi geram dan langsung mengaktifkan buwana aksa.
SRIING...
Wijaya segera mengeluarkan neula dan lanka dari dalam ripela aksa di telapak tangannya lalu melempar neula.
SHUA..SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...JLEB...JLEB...
__ADS_1
50 tubuh para hajdut yang terkena neula langsung mematung tak bisa bergerak. Wijaya melempar lanka ke para hajdut yang sudah mematung dan menariknya.
KRIEEEEET...SYAT...SYAT...SYAT...CRASH..CRASH...
50 kepala hajdut langsung terpotong rapi terkena lanka. hajdut yang tersisa segera melempar kunai dan danai, Wijaya mengeluarkan dengan cepat raivaja dari ripela aksa di telapak tangannya dan menangkis serangan hajdut.
TRANG...TRANG..TRANG...
Wijaya mengeluarkan ajian braza sewu maung sakrama, bilah raivaja di selimuti aura emas. Wijaya berlari di atas lanka sambil menebas serangan kunai dan danai yanh dilemparkan hajdut terus menerus.
TRANG...TRANG...TRANG...SYAT...SYAT...SYAT...
Kunai dan danai yang ditebas Wijaya terbelah dua, lalu berlari cepat di atas lanka untuk menghampiri hajdut dan menebas kepala setiap hajdut yang dekat dengan Wijaya.
SLASH...SLASH...SLASH...CRASH...CRASH...CRASH..
Kepala para hajdut menggelinding ke tanah dan darah tersembur keluar dari leher hajdut. Masih tersisa 40 hajdut yang sudah bersiap menyerang Wijaya dengan kameya, Bodagenta tak tinggal diam lalu melemparkan miekha (pedang dua tangan) yang dua kali lebih besar dari miekha biasanya yang hanya 50 kilogram.
BOOOOM...DHUAR...
Wijaya salto ke belakang menghindari lemparan miekha yang di lakukan oleh Bogadenta. Serangan Bogadenta hanya mengenai lantai, muncul kawah berdiameter satu meter akibat lemparan miekha Bogadenta.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
__ADS_1
Jika suka silahkan klik tombol favorit.
Terima kasih kakak-kakak yang sudah ngasih boom like