KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
ANARGHYA WIJAYA


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Alhamdulillah berkat doa sahabat readers semua, anak saya sudah mendingan dan orang yang menabrak mau bertanggung jawab.


6 bulan kemudian.


Kondisi seluruh kerajaan di bawah naungan kekosawaan Kurusetra sangat sejahtera, gemah ripah loh jinawi, mulai dari kekuatan tempur, kekuatan individu prajurit dan kesejahteraan rakyatnya.


Wijaya berhasil merebut hati Prabu Ageng Tirtayasa dari kerajaan Mataram dan Prabu Raksa Wijaya dari kerajaan Kediri untuk tunduk serta patuh dibawah kekuasaan Kurusetra.


Kerajaan Demak Bintoro kini tampuh kepememimpinannya diberikan kepada Manggala Saputra dan Anjasmara sebagai patihnya. Shintadewi di angkat menjadi ibu suri agung kekosawaan kurusetra dan Jatmiko diangkat menjadi Mahapatih kekosawaan Kurusetra. Istana Julang emas menjadi istana agung kekosawaan Kurusetra.


Kekosawaan Siliwangi dan Majaphit juga belum ada pergerakan untuk menggempur kekosawaan Kurusetra bahkan diam-diam kerajaan Caruban Nagari memutuskan hubungan dengan kekosawaan Siliwangi.


Pagi yang cerah di penginapan padang bulan kotaraja kediri. Wijaya baru bangun dari tidurnya, Wijaya memang menjadi kosawa (kaisar) tapi dia orang yang tidak bisa duduk diam di singgasana, jadi semua tata kelola pemerintahan diserahkan kepada ibu suri agung Shintadewi. Sementara hubungan Asmarini dan Shintadewi sudah sangat dekat seperti anak perempuan dan ibu kandungnya, meskipun Asmarini sudah kembali ke restoran Kala Asta miliknya.


"Hoooaaaam! udaranya segar sekali pagi ini. Akhirnya selama 4 bulan terakhir aku bisa bersantai. Tapi apa kabar mereka semua ya, aku sangat rindu mereka tapi aku harus berpetualang seorang diri menyelesaikan semua yang sudah dihancurkan oleh kosawa laknat itu!" Ucap Wijaya dengan menguap.


Wijaya membersihkan dirinya lalu pergi ke bawah untuk sarapan pagi di restoran padang bulan. "Gusti sarapannya sudah siap, gusti mau makan?" Tanya pelayan dengan tersenyum ramah.


"Ya, tolong siapkan!"


"Baik gusti!" Pelayan membungkuk hormat.

__ADS_1


"Kamu tahu hari ini pendaftaran terakhir sayembara Prabu Raksa Wijaya sedang mencari guru untuk pangeran Anarghya Wijaya. Aku juga akan mendaftar, bagaimana denganmu?" Tanya pria paruh baya bernama Ki Salikin seorang sesepuh dari perguruan bangau tongtong.


"Tentu saja ki, aku juga ikut. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan ini. Hadiahnya juga sangat besar dan fasilitas yang diberikan Prabu Raksa sebagai guru dari Pangeran Anarghya juga tak main-main mewahnya." Jawab Pria paruh baya berambut putih bernama Ki Jarwo sesepuh perguruan Jalak ireng.


"Rupanya ada tontonan yang menarik. Aku akan melihatnya, ada hiburan gratis sayang dilewatkan." Batin Wijaya Kusuma sambil memakan sarapannya.


Dari luar penginapan ada keributan dan kegaduhan dua orang pemuda tengah berkelahi. Yang satu memakai pakaian bangsawan dan yang satunya memakai pakaian pendekar berwarna biru tapi sudah kusam. "Pemuda jaman sekarang jiwanya seperti darah muda yang selalu bergejolak, selalu menyelesaikan masalah dengan adu otot." Batin Wijaya yang masih melanjutkan makan sarapannya.


pemuda berpakaian pendekar terkapar dan hampir pingsan, nafasnya terengah-engah. "Hahahaha, pemuda miskin dan lemah sepertimu harus mati! Rasakan pukulanku Anarghya, hyaaa! ajian pancer agni, agni kambala(pukulan api)!" Teriak pemuda berpakaian bangsawan sambil tertawa. Pemuda berpakaian bangsawan itu adalah putra mahkota Virna Wijaya.


Virna mengarahkan pukulan api ke dada Anarghya yang sedang terkapar. Anarghya sudah pasrah dan memejamkan mata, merasa dirinya sudah akan mati.


SWUSH...PAK...BOOM...


Suara ledakan dan kepulan asap menutupi pandangan di depan halaman penginapan padang bulan. "Sialan siapa yang berani memukulku seorang putra mahkota Kediri!" Terika Virna.


"Kamu tak apa-apa kisanak?" Tanya Wijaya. "Ah aku ini apa-apaan sudah tahu terluka parah malah bertanya tidak apa-apa." Batin Wijaya sambil menepuk jidatnya sendiri. Wijaya melepaskan ajian jagat saksana kusuma jiwa untuk menyembuhkan Anarghya.


"Kenapa tubuhku tiba-tiba penuh energi dan seluruh aliran energi yang telah dikunci terbuka? Kapasitas wadah jiwa chakraku juga bertambah banyak sepertinya tak terbatas." Pikir Anarghya.


BANG...BANG...BANG...


Anarghya naik tingkatan ke taruna asor.


Anarghya naik tingkatan ke taruna baharu.


Anarghya naik tingkatan ke taruna inggil.

__ADS_1


Dahulu Anarghya pangeran pertama anak dari Ratu Darapuspita sudah dicalonkan menjadi putra mahkota oleh Prabu Raksa. Namun Virna pangeran kedua dari istri selir Kumitri sangat iri hati dan dengki pada Anarghya hingga akhirnya meracuni dan memfitnah Anarghya telah memperkosa ibunya.


Prabu Raksa awalnya marah dan mengusir Anarghya serta mencopot jabatannya dari putra mahkota. Lama kelamaan sebagai seorang Ayah ia pun tidak tega, asalkan Anarghya mempunyai seorang guru yang bisa mengembalikan kekuatannya. Anarghya bisa kembali ke istana Kediri.


Prabu Raksa akhirnya mengadakan sayembara untuk menyembuhkan Anarghya, dan siapa yang bisa menyembuhkan Anarghya, akan menjadi guru pribadi Anarghya.


Hal itu membuat Virna marah, dan merasa jika Anarghya sembuh maka Prabu Raksa akan mengangkatnya kembali menjadi putra mahkota kembali. Virna akhirnya berencana membunuh Anarghya namun berhasil lolos dan lari ke pusat kotaraja.


Virna yang tidak bisa mengendalikan emosinya ingin memukul Anarghya di depan umum hingga mati namun berhasil diselamatkan Wijaya. "Saya yang menyelamatkannya, apakah kamu keberatan?" Ucap Wijaya dengan nada mencibir.


Virna matanya memerah dan meraung keras. "Aaaaaaargh, ajian pancer agni, Agni aksamala dewata (segel dewa api)!" Virna merapal ajiannya, tubuhnya dipenuhi tanda segel berbentuk api yang membara berwarna merah, lama kelamaan berwarna merah terang.


Tingkatan Virna dari Ksatria inggil langsung naik ke praburata asor. "Aku pasti akan membuatmu menjadi debu pemuda bangsat, karena berani menghalangiku! aaaaargh!" Virna tubuhnya berkedip cepat dan muncul di hadapan Wijaya dengan menghantamkan pukulan ke arah kepala Wijaya.


"Ajian yang luar biasa! tapi kamu tak tahu resiko menggunakan ajian itu! aku akan memberitahu resiko ajian itu! Ucap Wijaya lalu menahan pukulan Virna dengan menangkap kepalan tangan Virna lalu melemparnya ke arah dinding penginapan padang bulan.


PAK...SHUA...KRASAAK...


Virna yang terlempar oleh Wijaya berhasil menyeimbangkan badan dan menahan laju badannya dengan menahan kakinya ke permukaan tanah hingga bergesekan. Virna menekan tumit kaki kanan sebagai batu pijakan untuk mendorong ke arah Wijaya dengan cepat. Virna melesatkan tendangan ke dada Wijaya namun tubuh Wijaya berkedip lalu pindah ke samping Virna dan menangkap kakinya dan melemparkannya ke tanah.


TAP...SHUA...BOOM...


"Dalam bertarung itu memang kekuatan itu sangat penting tapi kontrol diri jauh lebih penting dalam mengendalikan emosi. Siapa yang bisa mengendalikan emosinya maka dia memimpin jalanya pertarungan." Ucap Wijaya dengan tersenyum. Lalu meletakan tangannya pada perut Virna dan mencengkramnya. "Ajian aksamala, pancer kulungan (penjara elemen)!"


Tubuh Virna yang dipenuhi segel dewa api perlahan hilang tanda segelnya dan berganti menjadi jaring laba-laba berbentuk rantai yang mengikat seluruh tubuh Virna. Rantai jaring laba-laba itu menyusut ke dalam perut Virna. "Aaaaaargh, sial apa yang kau lakukan! aku pasti akan membunuhmu, bangsat!"


"Aaaaargh, aaaargh, aaaaargh!" Teriakan Virna begitu keras karena kehilangan seluruh kekuatan pancer agni dari dalam tubuhnya. Wijaya telah mengunci kekuatan pancer agni Virna.

__ADS_1


__ADS_2