KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PERANG GERILYA BAGIAN 5


__ADS_3

****Jangan lupa dukung author dengan memberikan like, koment vote dan gift jika sudah membaca.


Author doakan yang memberi like, koment, vote dan gift rizkinya berlimpah**.


Manggala terus melompat-lompat ke atas langit memijak pijakan kaca yang semakin banyak semakin meninggi. Manggala terus dihujani anak panah yang dilesatkan 1000 prajurit bargawa sura kerajaan Bantani.


Manggala melihat dari jauh ke arah Wijaya dan betapa terkejutnya Wijaya telah terkapar mati. "Kak Wijaya mengapa kau meninggalkanku, aku tak akan memaafkan mereka, aaaaaargh!" Manggala yang terus melompat meraung keras penuh dengan kemarahan.


"Ajian pancer banu nuolia kamatayan (elemen air panah kematian)!" gumam Manggala dan menarik nuolia Pasopatinya. Manggala melesatkan anak panah pasopati dengan mengkonsumsi 100% energi prana, reinka aksanya berwarna merah padam karena begitu sangat marah.


SHUA...SWUSH...


Semakin lama semakin besar anak panah pasopati yang dilesatkan oleh Manggala. Dari ukuran 1 meter dan diameter 1 cm berubah menjadi panjang 50 meter dan diameter 100 meter, lalu menghantam 1000 prajurit bargawa sura. Namun tidak begitu saja setelah menewaskan 1000 prajurit bargawa sura karena tertimpa ukuran anak panah pasopati yang sangat besar, anak panah pasopati juga menimbulkan ledakan yang sangat besar dengan radius 500 meter memunculkan siluet jamur berwarna kuning terang.


BOOOOOOOOOM.....


Semua prajurit kerajaan Bantani termasuk Patih Ambarawa hangus jadi debu. Gelombang kejutnya juga menerpa sampai ketiga perbatasan kerajaan, hutan di sekitar perbatasan ketiga kerajaan juga sebagian rusak parah.


Gelombang kejut juga membunuh 2800 pasukan baladika adilaga yang dipimpin Senopati Brotowali, semuanya tewas tak tersisa menjadi debu. Hanya tinggal wijaya yang tersisa, tergeletak di tengah padang dengan tubuh menghitam tertusuk buntar jagala di kedua tangan, lengan, dan betisnya.


"Hah, hah, hah, hah, ajian ini!. Hah, sungguh luar biasa!. Pantas saja kosawa keparat itu mampu membunuh prajuritku waktu itu, untunya pusaka pasopati yang diperbaiki kak Wijaya lebih hebat dari pusaka pasopati sebelumnya. Hah, hah, hah!" Manggala kelelahan karna menghabiskan semua energinya. Lalu menelan 10 pil tehostin untuk mengembalikan energi prananya, "untung saja kak Wijaya memberikan pil ini. Kalau tidak, aku bisa pingsan lalu jatuh ke tanah dan mati gara-gara kehabisan energi."

__ADS_1


Batas pov


Di kerajaan Batavia 500 pasukan Wasesa Jaya berhasil memborbardir kotaraja jayakarta dengan bola rajahtava. 2000 Pasukan kerajaan Batavia harus menelan pil pahit setelah dipukul mundur dari pintu gerbang kotaraja ke pintu gerbang istana Batavia.


Penduduk tak berdosa banyak yang menjadi korban, pasukan Wasesa jaya menjelma dari kucing kurap menjadi singa yang ganas. Perbedaan tingkatan antara pasukan Wasesa jaya yang berjumlah 500 orang di tahap dendawa inggil dan pasukan kerajaan Batavia di tahap jagatama asor, membuat pihak kerajaan Batavia banyak yang gugur karena amukan pasukan WasesaJaya. Dari 5000 pasukan hanya tersisa 2000 pasukan, sungguh pasukan yang ganas.


Pasukan Wasesa Jaya masih menyimpan 400 bola rajahtava, namun cukup dengan senjata mereka yang di tingkat ajisaka membuat pasukan kerajaan Batavia kalang kabut terkencing-kencing, Prabu Anom Mulyadana pun di buat bingung harus mengambil keputusan dalam keadaan terdesak.


"Yang mulia gusti prabu kita telah terkepung! bagaimana ini gusti prabu bagaimana?" ucap salah satu ksatria binting dengan wajah panik. "Sial siapa yang berani mengacau di wilayahku, aku akan keluar menghadapi mereka. Akan aku buktikan siapa Prabu Anom Mulyadana."


Prabu Anom Mulyadana menaruh kerisnya di bagian belakang pinggang dengan raut muka geram dan mata merah padam. Lalu terbang melesat keluar istana Batavia menuju pintu gerbang istana. Prabu Anom Mulyadana bertengger di atas gapura pintu gerbang Istana Batavia.


10 pasukan bargawa Wasesa Jaya siap menembakan bola rajahtava yang diikatkan ke anak panah mereka, tujuan tembakannya adalah istana Batavia. Prabu Anom Mulyadana melihat adanya ancaman dari pasukan bargawa Wasesa Jaya meremehkan pasukan bargawa. "Hanya anak panah seperti itu mana mempan padaku, hm!"


Prabu Anom Mulyadana menghadang lesatan anak panah yang dilontarkan 10 pasukan bargawa Wasesa Jaya, dengan menarik keris dibalik pinggangnya dan menebas kesepuluh anak panah dengan ajian pancer bantala keris kumitir (elemen tanah hempasan keris).


SLASH...SLASH...SLASH...BOOM...


Prabu Anom Mulyadana tidak menyadari jika anak panah itu, ada bola rajahtava yang bisa meledak. "Akh!" pekik Prabu Anom Mulyadana terkena ledakan bola rajahtava di atas udara dan tubuhnya langsung terlempar menghantam pintu istana Batavia.


GUBRAK...

__ADS_1


Prabu Anom Mulyadana mati, tubuhnya bersimbah darah, lidahnya menjulur keluar dengan mata melotot setengah badannya gosong dan ususnya terburai keluar. Dadanya koyak terlihat jantungnya di belakang tulang rusuknya. Mengenaskan sangat mengenaskan memang yang terjadi dengan Prabu Anom Mulyadana.


Ratu Anindya keluar dari dalam aula istana setelah mendengar suara sesuatu menabrak pintu, dan melihat keluar pintu ternyata itu adalah Prabu Anom Mulyadana. "Kang mas prabu apa yang terjadi?, hiks, hiks, hiks!" Ratu Anindya memeluk Prabu Anom Mulyadana yang sudah mati bersimbah darah, ada rasa marah di tatapan matanya yang mengeluarkan air mata.


Namun Ratu Anindya akhirnya menyuruh semua pasukan dan pejabat tinggi kerajaan untuk menyerah pada pasukan Wasesa Jaya. Karena tidak tega terhadap rakyat tak berdosa menjadi korban.


Ratu Anindya keluar dari pintu gerbang istana dengan mengangkat kedua tangannya diikuti para pejabat tinggi dan juga prajurit yang tersisa. Mereka semua berlutut dan berkata serempak, "Kami dari kerajaan Batavia menyatakan menyerah!"


Perasaan gembira terpancar dari balik topeng 500 pasukan Wasesa Jaya, karena berhasil menaklukan seteru dari Kerajaan Dharma Ayu. Bahkan ada yang meneteskan air mata bahagia dari balik topengnya karena tidak percaya pasukan yang hanya 500 orang dulunya pasukan sampah, bisa mengalahkan Kerajaan Batavia yang terkenal akan pertahanan di wilayah istananya.


"Gusti kami berhasil mengalahkan mereka!" gumam salah satu pasukan Wasesa Jaya yang memimpin pasukan bernama Abimanyu sambil menitikan air mata dari balik topeng. "Cepat kirim surat ini untuk Prabu Surya dan Paduka Wijaya!". Abimanyu menyerahkan gulungan surat pada salah satu telik sandi Wasesa Jaya.


"Sendiko gusti!" Ucap telik sandi Wasesa Jaya dengan membungkuk hormat lalu pergi mengendarai kuda berlari sekencang-kencangnya.


batas pov


Di istana kerajaan Bantani pasukan Wasesa jaya bertarung cukup sengit dengan prajurit Kerajaan Bantani. "Gusti kalau kita terus seperti ini, teman kita banyak yang terluka!" teriak salah satu pasukan Wasesa jaya yang bersandar di dinding pintu gerbang kotaraja lebak.


"Baik tak ada cara lain. Kita gunakan senjata rahasia yang diberikan Paduka Wijaya! cepat buka karung itu yang berisi bola tahmea (lengket), bola kuitava (gatal), bola rajahtava (peledak)!" perintah pemimpin pasukan Wasesa Jaya penyerangan kerajaan Bantani bernama Nehan.


"Baik gusti!" prajurit Wasesa Jaya membuka karung berisi bola tahmea, kuitava, dan rajahtava lalu membagikannya dengan hati-hati pada prajurit lain yang sedang bersandar ke dinding pembatas kerajaan Kotaraja Lebak.

__ADS_1


**Terima kasih sudah membaca novel author semoga sahabat readers menyukainya.


Semoga para readers yang membaca rizkinya berlimpah, sehat walafiat, dan dilancarkan segala aktivitasnya**.


__ADS_2