
Bleta Bora mengawasi dari atas, melihat hanya 100 orang hajdut yang berada di lingkungan benteng yang berjaga.
"Malam ini tidak seru seperti biasanya, wakil pemimpin sangat pelit, tidak seperti pemimpin. Setiap malam kita selalu berpesta memakan daging, sedangkan wakil pemimpin satu kendi arak pun tak ada, payah!" keluh salah satu hajdut yang sedang berjaga di bagian dalam dinding benteng.
"Ya, sial betul kita. Pemimpin juga belum kembali!" ucap hajdut yang lain yang sama-sama sedang berjaga dengan raut muka sedih.
Di atas awan dengan ketinggian 100 meter Bleta Bora dan pasukan bleta permoda berubah menjadi bentuk setengah siluman siap untuk menyerang, Bleta Bora melambaikan tangan untuk siap menyerang, mereka terbang sesenyap mungkin agar tak diketahui para bandit Dirgacitra.
Pasukan bleta permoda menyerang dengan menembakan jarum sepanjang 50 centimeter dari ekor mereka secara serempak dan akurat.
CLIK...CLIK...CLIK...CLIK...
SHUA...SHUA...SHUA...
JLEB...JLEB...JLEB...
BRUK...BRUK...BRUK...
Sebelum para hajdut mengetahui serangan Bleta Bora mereka mati seketika dengan tubuh menghitam kemudian menyusut seperti balon kehilangan udara. Selama 3 hari pasukan bleta permoda meningkatkan serangan jarumnya dengan racun korosi. Ketika target terkena serangan jarum maka tubuhnya akan menghitam lalun menyusut seketika.
Jam pergantian jaga sudah masuk, 100 hajdut yang di dalam markas keluar, namun alangkah kagetnya melihat teman mereka mati mengenaskan dengan tubuh menyusut dan berwarna hitam.
TONG...TONG...TONG...
Salah satu hajdut membunyikan kentongan darurat, "Ada serangan! ada serangan!" teriak dengan nada panik.
Seribu bandit yang berjaga di dalam markas dan beristirahat keluar semua, di antaranya 5 wakil pimpinan beramatia ereti vrashes, 300 ksatria bimantra, 50 luftarak, 189 luftarak, 200 berah adilaga 200 ksatria bujangga dan 56 bargawa slira.
"Itu tandanya! serang! arahkan dua bledog jurig ke markas utama bandit Dirgacitra, tembak!" teriak Shintadewi.
BLOOM...BLOOM...BOOM...BOOM..JDAAR...JDAAR...
Melihat selongsong meriam terbang ke atas menuju markas bandit Dirgacitra, Prasetya yang berada di atas bukit juga tak mau kalah ikut menyerang, " persiapkan diri! nyalakan panah dengan api! tembaaak!" teriak Prasetya.
100 pasukan bargawa menembakan panah api.
SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...
Drona dan Jatmiko juga tak mau kalah mereka menembakan meriam bledog jurig juga.
BLOOM...BOOM...JDAAR...
Serangan Bledog jurig mampu meluluh lantakan markas bandit Dirgacitra. Markas bandit menjadi sarang pembantaian, kobaran api membumbung tinggi ke angkasa. Hanya menyisakan 400 anggota Bandit Dirgacitra, karena 500 anggota lainya yang di dalam markas bagian luar terkena hantaman meriam selongsong bledog jurig.
400 anggota bandit yang tersisa, termasuk 4 wakil pemimpin bandit keluar dari barak. Lalu maju menyerang dengan perasaan marah dan geram serta menyebar ke empat arah masing-masing 100 anggita dipimpin satu wakil pemimpin.
__ADS_1
Shintadewi, Maung Bodas, dan Jatmiko merangsak maju, menuju pintu gerbang markas bandit Dirgacitra, disusul 400 pasukan Maung Lodaya berada di belakang yang sudah menjadi tubuh sempurna siluman harimau.
Shintadewi bergerak cepat dengan ajian pancer bajra raja kidang kuning, lalu memukul pintu gerbang bagian utara dengan ajian pancer bantala, lembu sura.
SHUA...BAM...BOOOM...JDAAR...
Pintu yang terbuat dari baja hancur luluh lantak karena pukulan Shintadewi. Tangan shintadewi berubah menjadi sekeras berlian.
"Maju! serang! jangan biarkan tersisa sedikit pun dari mereka!" teriak Shintadewi menyemangati pasukan Maung Lodaya.
Maung Bodas pun sudah bertransformasi menjadi tubuh sempurna siluman harimau, lalu berlari dan menebas dengan cakar anggota bandit yang Maung Bodas lewati di ikuti 200 pasukan Maung Lodaya sisanya berjaga di luar benteng markas Bandit Dirgacitra.
SLASH...SLASH...SLASH...
CRASH...CRASH...CRASH...
"Aaakh," pekik hajdut yang terkena cakaran Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya.
50 hajdut tewas seketika karena serangan cakaran pasukan Maung Lodaya. Para hajdut melempar kunai ke arah pasukan Maung Lodaya, dan 100 Maung Lodaya yang terkena lemparan kunai di kakinya dan jatuh seketika.
CLIK...CLIK...CLIK...CLIK...
SHUA...SHUA...SHUA...
JLEB...JLEB...JLEB...
BRUK...BRUK...BRUK...
Bleta Bora kembali melambaikan tangan, memberi aba-aba untuk menyerang anggota bandit yang berada di sisi selatan gerbang. Pasukan Bleta Permoda mulai membidik dan menembakan jarum korosi.
SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...JLEB...
100 anggota bandit termasuk wakil pemimpin di tingkatan Dendawa beramatia ereti vrases tewas seketika dengan tubuh menghitam dan menyusut karena terkena jarum racun korosi.
Bleta Bora dan 980 pasuka Bleta Permoda yang sudah mengamankan pintu pelarian bandit Dirgacitra.
Melihat dari ketinggian 100 meter dengan jarak 2 kilometer, ada pasukan bandit lain yang menjaga pintu gerbang utara kota julang emas, segera meluncur dengan cepat kesana. Untuk mencegah pasukan bala bantuan musuh.
Sementara di sisi timur Jatmiko menggunakan ajian serat jiwa tingkat II, serat wadag brajawesi. Tubuh Jatmiko di selimuti aura berwarna hijau dengan urat otot yang menonjol sangat banyak. Jatmiko menendang pintu gerbang bagian timur markas.
SHUA...BAM...BOOOM...JDAAR...
200 pasukan Maung Lodaya mengikuit dari belakang merangsak masuk dan menebas 99 hajdut dengan cakar mereka, semuanya tewas seketika dengan tubuh bersimbah darah dan penuh cakaran.
SLASH...SLASH...SLASH...
__ADS_1
CRASH...CRASH...CRASH...
"Aaakh," pekik hajdut yang terkena cakaran pasukan Maung Lodaya.
Wakil pemimpin yang melihat anggotanya mati langsung tertunduk lemas dan menyerah, namun Jatmiko tidak melepaskannya, Jatmiko melesat cepat dan menghantam kepala wakil pemimpin bandit dengan pukulan ajian serat jiwa tahap II serat wadag brajawesi. Kepala wakil pemimpin hancur jadi bubur darah.
Moral pasukan Jatmiko dan Drona naik drastis, mereka mulai maju ke arah Shintadewi. Melihat pasukan Shintadewi terdesak Jatmiko segera terbang melayang ke atas, lalu meluncur menukik menghantamkan pukulan pada 50 hajdut yang akan menyerang pasukan Shintadewi.
SHUA...BAM...BOOOM...JDAAR...
Tubuh 50 hajdut hancur luluh lantak menjadi bubur darah termasuk wakil pemimpin bandit yang lain, "dasar maniak gila!" Shintadewi membatin dan mengarahkan pandangannya pada Jatmiko.
"Hachi!, kenapa tiba-tiba bersin apakah aku masuk angin?" Wijaya dengan raut wajah yang bingung sambil menyeka ingus di hidungnya.
Tersisa 1 wakil pemimpin dan 99 hajdut, Maung Bodas maju dengan gagah berani seorang diri, lalu menembakan ajian pancer agni, pulawa agni dan azula agni dari jarak 20 meter sambil berlari ke arah para hajdut.
BLOOM...BLOOM...SWUSH...SWUSH...BOOM...
JDAAR..JDAAR...
50 hajdut langsung tewas seketika dan menjadi gosong terpanggang oleh serangan tembakan api Maung Bodas.
49 Hajdut melempar kunai dan wakil pemimpin bandit melempar jarum dengan panjang 5 centimeter.
Maung Bodas tak ada celah untuk menghindar, "ajian pancer agni, sakrama maung agni (cakaran api harimau)," Maung bodas merapal ajian pamungkasnya. Maung Bodas berubah seketika menjadi setengah siluman, cakarnya diselimuti aura seperti api yang membara, Maung Bodas membuat dua cakaran diagonal membentuk huruf x dan melesat ke depan.
Kunai, danai (shuriken) dan lenka (jarum) yang dilempar hajdut serta wakil pemimpin bandit bertabrakan dengan serangan Maung Bodas langsung menjadi abu.
Cakaran huruf x milik Maung Bodas terus melaju menuju para hajdut.
SWUSH...SWUSH...BOOM...
JDAAR..JDAAR...
Aaakh," pekik hajdut yang terkena cakaran Maung Bodas. Semuanya tewas seketika menjadi daging cincang karena serangan Maung Bodas.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
__ADS_1
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.