
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Untuk update hari ini di usahakan crazy up 3 chapter pukul 20.00 WIB, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.
Meskipun 1 chapter sudah release jam 00.00, hehehe.
Situasi di perbatasan kerajaan Brabang Sari dan kerajaan Demak Bintoro memanas. Kosawa Kertajasa Jayawardhana membawa 1 juta prajurit untuk menyerang kerajaan Brabang Sari, fitnah kejam dilontarkan pihak Majapahit, bahwasanya Wijaya telah memberontak dan di perintah oleh Prabu Angga untuk menghancurkan sisa keluarga istana Demak Bintoro yang bersembunyi di hutan Alas Roban.
Mereka menyebar desas-desus fitnah ke seluruh kerajaan Kediri dan Mataram. Ada yang terprovokasi oleh fitnah kejam Kosawa Kertarajasa Jayawardhana yaitu kerajaan Mataram dan petinggi kerajaan Kediri. Mereka yang termakan isu memutuskan untuk mengikuti kosawa Kertarajasa menyerang besar-besaran kerajaan Brabang Sari.
Raja Raksa masih mempercayai Wijaya, namun setengah pamilya Wijaya telah di hasut Ratu Dyah Ayu Wijaya. Untuk menyerang Brabang Sari, bagaimana pun juga Ratu Dyah Ayu Wijaya adalah bagian dari petinggi pamilya sekaligus adik dari Prabu Raksa Wijaya. Jadi mudah saja mempengaruhi para anggota pamilya Kusuma.
600.000 prajurit kekosawaan Majaphit, 250.000 prajurit kerajaam Kediri, dan 150.000 prajurit kerajaan Mataram. Manggala dan Asmarini yang melihat dari atas langit, perbatasan kerajaan Brabang Sari dan Demak Bintoro yang disinari bulan purnama terbelalak matanya. Jarak pasukan Majapahit, Kediri dan Mataram masih 30 kilometer dari perbatasan kerajaan Brabang Sari.
"Sial, ternyata kita di jebak. Kita masuk perangkap mereka, ternyata ini hanya pengalihan supaya kang mas Wijaya tidak berada di dekat Wilayah Brabang Sari. Dengan mudah mereka akan menghancurkan Brabang Sari. Kita harus bergegas menemui kakek prabu Angga.!" Ajak Asmarini.
"Baik, nyi mas."
Asmarini mengedarkan pandangannya, "Akhirnya aku bisa melakukan ajian yang hebat ini. Ketemu!" Lalu memegang tangan Manggala. "Ajian pancer bantala, melipat bumi (teleportasi)!" Mereka berdua menghilang dari pandangan.
__ADS_1
CWUSZH..
Mereka muncul tepat di depan pintu gerbang istana Brabang Sari. "Copot, eh copot, copot." Ucap dua ksatria binting yang menjaga pintu gerbang istana. Manggala dan Asmarini membuka topeng motif kelinci mereka berdua. "Maaf tuan kami ingin bertemu dengan yang mulia Prabu Angga. Ada kabar penting yang kami harus sampaikan." Ucap Manggala
"Mohon maaf kisanak dan nisanak dengan siapa?" Tanya salah satu ksatria binting.
"Saya Manggala Saputra dan ini Asmarini Kusuma. Kami adalah sahabat pangeran Wijaya Kusuma." Jawab Manggala.
"Mohon maaf yang mulia Prabu Angga sedang beristirahat." Tolak salah satu ksatria binting.
Mendengar itu Asmarini hilang kesabarannya dan menarik kerah salah satu ksatria binting. "Hai penjaga, kamu ingin kerajaan Brabang Sari rata dengan tanah. Ada 1.000.000 prajurit membawa bendera Majapahit, Kediri, dan Mataram. Apa kau pikir untuk berkunjung kemari, hah?" Teriak Asmarini dengan raut muka penuh kekesalan.
"Ma-ma-maafkan kami nyi mas, ampuni kami. Baik, silahkan masuk! aku akan memberitahukannya pada yang mulia Prabu Angga.
Prabu Angga bersama Patih Arya keluar dari tempat peristirahatan. "Hormata pada yang mulia Prabu Angga!" Asmarini Dan Manggala berdiri, meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
"Sudah tak usah sungkan, sahabat cucuku Wijaya juga keluarga kami. silahkan duduk!" Prabu Angga melambaikan tanggan untuk mempersilahkan mereka duduk. Patih Arya tetap berdiri di sebelah kanan Prabu Angga.
"Perihal penting apa nak mas kemari?" Tanya Prabu Angga pada mereka berdua. Manggala dan Asmarini menceritakan semuanya sedetail mungkin.
Setelah 30 menit akhirnya mereka memutuskan untuk segera mengumpulkan semua pasukan yang besar yang berada di 4 wilayah yaitu istana julang emas, Kadipaten Maung Bahari, istana Brabang Sari dan Alas Apuy Penangsang.
__ADS_1
Prabu Angga sudah mengetahui rencana kekosawaan Majapahit ketika berhasil mengambil informasi dari telik sandi Majapahit waktu penyerangan istana Brabang Sari dengan ajian pancer bantala imusoga (hisapan molekukul).
Prabu Angga sudah memesan 200 bledog jurig, 300 seblungan gondorukem, dan 500 kereta wewe gombel dari Empu Culuk. Untuk mempersenjatai 4 Wilayah perbatasan dengan senjata-senjata yang disembunyikan di dalam hutan perbatasan antara kerajaan Brabang Sari dan Deman Bintoro.
Pasukan kerajaan Brabang Sari berjumlah 100.000 yang semuanya berada di tahapan praburata inggil dan para petinggi kerajaan di tahap mahasura baharu. Berkat pil tehostin Wijaya, dalam satu minggu kekuatan tempur Kerajaan Brabang sari meningkat pesat.
Tentu saja informasi ini sangat dirahasiakan oleh pihak kerajaan Brabang Sari sebagai kartu trufnya. Prabu Angga sudah memakai zirah perangnya, "Aku pastikan kekosawan Majapahit akan pulang hanya membawa nama. Jangankan 1.000.000 prajurit, 10.000.000 prajurit akan kami pastikan semuanya rata dengan tanah." Prabu Angga berpidato di podium halaman istana dengan menggebu-gebu dan sangat percaya diri, untuk membakar semangat prajurit Brabang Sari.
"Haaaah!" Teriak serempak semua prajurit dengan penuh semangat, ditengah malam bulan purnama. Prabu Angga sudah menyiapkan segalanya dengan matang jauh-jauh hari untuk bersiap berperang dengan Kekosawaan Majapahit.
Mereka bergerak ke arah perbatasan, semua lini utara pasukan yang di pimpin Jatmiko dan Shintadewi sudah bergerak dahulu. Di susul pasukan tengah yang dipimpin Patih Arya. Sedangkan Prabu Angga memimpin pasukan selatan bersama Sarja.
Medan peperangan di perbatasan Brabang Sari dan Demak Bintoro tergolong sulit dan curam karena di batasi sungai Kalimati yang cukup lebar, deras, dinding sungainya curam dan juga sangat dalam. Kali ini pasukan Brabang Sari benar-benar diuntungkan dengan medan perang tersebut. Semua senjata bledog jurig, kereta wewe gombel dan seblungan gondorukem sudah siap di dalam hutan dekat dengan sungai Kalimati.
Tentu saja karena kitab dewata adilaga, kitab strategi perang termasyhur yang dimiliki oleh kerajaan Brabang Sari. Pengetahuan akan area medan peperangan sangat penting, jendral yang mengetahuinya akan memegang arah jalurnya perang.
Senjata bledog jurig adalah senjata berbentuk meriam yang sangat besar, dengan diameter 20 meter. Aslinya hanya 10 meter, Empu Culuk sudah memodifikasinya menjadi lebih kuat, besar, panjang dan stabil. Amunisinya hanya perlu cukup dengan diisi dengan Chakra atau Mana. Semakin tinggi lapisan energi wadah jiwa semakin cepat pengisian amunisinya dan juga semakin besar daya ledaknya. Bledog jurig kini di angkut kapal seblungan Gondorukem yang bisa terbang.
Kereta wewe gombel di pasang pasukan Prabu Angga sesuai intruksinya di atas beberapa bukit, dekat sungai Kalimati. Kereta ini bisa menembakan ribuan anak panah dalam sekali tembak. Amunisi juga cukup menggunakan energi apa saja dan bisa dipadukan dengan pancer penggunanya.
Seblungan Gondorukem juga di tempatkan di beberapa pos perbatasan. Senjata yang bisa terbang menjatuhkan bola rajahtava, tahmea dan kuitava. Seblungan Gondorukem juga bisa menembakan meriam laser supsr besar, namun pengisiannya akan sangat lama untuk sampai penuh yaitu 1 jam.
__ADS_1
Seblungan Gondorukem adalah kartu truf terakhir, karena daya ledak dan rusaknya bisa mencapai radius 2 kilometer serta bisa membunuh 3000 orang dalam sekali serang.