
Tubuh Kertarajasa mengecil seperti semula, dan memakai jubah naga gokarya berwarna merah serta mahkota naga badranaya berwarna merah. Kekuatannya meningkat pesat sama-sama ditahap dewara inggil. Siluet Naga besukih menghantam tubuh Kertarajasa.
SHUA...SWOSH...BOOM...
"Mampus kau keparat!" Umpat Shintadewi dengan berteriak. "Tunggu dia belum mati."
Shintadewi merasakan pancaran energi Kertarajasa, dan tiba-tiba muncul di belakang Shintadewi. "Hahahaha, matilah kau wanita bodoh. Ajian badranaya agni, Zotsalira naga gokarya (teknik api badranaya, telapak naga gokarya)!"
Dari telapak tangan kanan Kertarajasa muncul pancaran energi Quantum berwarna merah pekat yang diarahkan ke punggung Shintadewi. Dengan sigap Shintadewi juga mengeluarkan ajian semesta, nawadewanata pancadewanata chakra sudarsana (teknik semesta, senjata dewa kelima chakra sudarshana).
Muncul siluet chakra sudarshana dari telapak kanan Shintadwewi. Pancaran Energi Shintadewi menghantam siluet chakra sudarshana milik Shintadewi.
BOOOM...
Kepulan asap menutupi mereka berdua di udara. Kedua terpental dan keluar dari kepulan asap, keduanya juga mampu menyeimbangkan badan mereka agar tidak terus terpundur. Kedua melesat maju beradau beberapa pukulan di udara.
BAM...BAM...BAM...
Gelombang kejutnya menghempaskan tanah dan debu di permukaan tanah. Radius 50 meter tanahnya retak. "Ajian badranaya agni, Madha agni naga gokarya (teknik api badranaya, api naga gokarya yang agung)!"
Kertarajasa menyemburkan pulawa agni yang besar dari mulutnya. Api itu mengarah ke Shintadewi, dengan secepat kilat Shintadewi tubuhnya berkedip menghindar. Tapi itu lama kelamaan berubah menjadi naga gokarya dan mengejar Shintadewi.
"Sial! api itu terus mengejarku!" Shintadewi terus terbang cepat meliuk-liuk menghindari pulawa agni yang disemburkan Kertarajasa. Shintadewi mendekat ke arah Kertarajasa agar pulawa agni milikanya menabrak dirinya sendiri.
Kertarajasa mengeluarkan lagi jurus yang sama, menyemburkan api dari mulutnya. Shintadewi di himpit dua siluet naga gokarya, Shintadewi menahan dua naga itu dengan chakra Sudharsana di udara.
BOOM...
Kedua siluet naga menghantam chakra Sudharsana. "Hah, hah, hah, ajian ini benar-benar menyiksa dan menguras energiku. Ajian semesta, satdewanata padma saptawarna (teknik semesta, senjata dewa keenam padma tujuh warna)!" Muncul siluet sayap burung merak di belakang tubuh Shintadewi dengan 7 warna pelangi.
Tubuh Shintadewi kembali seperti semula tanpa ada luka disekujur tubuhnya lalu menembakan pancaran sinar dari kedua telapak tanggan secara membabi buta. "Matilah kau keparat!"
SHUA...DUAR...SHUA...DUAR...
__ADS_1
Tubuh Kertarajasa terkena 7 pancaran sinar dari serangan Shintadewi tanpa bisa mengelak. 7 pancaran sinar itu sangat cepat dan membuat seluruh tubuh Kertarajasa terbakar, dan tersengat petir yang besar.
"Aaaaaaakh!" Kertarajasa berteriak dan terus berteriak tubuhnya seperti disayat-sayat ribuan pedang.
"Akan kuakhiri kau keparat, ajian semesta saptadewata angkusa sangkara (teknik semesta, senjata dewa ketujuh angkusa sangkara)!" Dari mata yang berada dikening Shintadewi muncul pedang berwarna emas. Pedang itu melayang lalu Shintadewi arahkan menuju Kertarajasa semakin lama semakin besar dan menusuk perut Kertarajasa dan mendorongnya ke permukaan tanah.
SHUA...BOOM...
"Guhak!" Kertarajasa memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Tubuhnya tertanam bersama pedang besar Shintadewi, muncul kawah disekitar tubuh Kertarajasa, dan tanah disekitar kawah retak.
KRAK...KRAK...KRAK...
"Kuat juga kau keparat! ajian semesta, astadewanata bajra iswara (teknik semesta, senjata dewa kedelapan bajra iswara)!" Muncul ribuan rantai dengan ujung bilah tombak berwarna putih dari dalam perut Shintadewi. Ribuan rantai bergerak cepat menusuk-nusuk tubuh Kertarajasa.
SHUA...JLEB...SHUA...JLEB...
"Aaaaaakh!" Kertarajasa meronta-meronta dan berteriak karena tubuhnya dihujani ribuan rantai ujung tombak dan mengunci tubuhnya agar tak bisa bergerak. "Aku tak akan kalah nenek peot, aku akan membunuhmu!" Teriak Kertarajasa.
SHUA..JLEB...SHUA..JLEB...
SRIING...
Muncul Trisula dari genggaman tangan kanan Shintadewi, tubuh Shintadewi sudah tak kuat menahan ajian terlarang nawadewanata dan ia memuntahkan banyak dari mulutnya, lalu melempar trisula itu ke arah tubuh Kertarajasa yang terkapar tak berdaya. "Selamat tinggal kau bedebah!"
SHUA....JLEB...BOOOM....
Muncul siluet jamur yang begitu besar dengan radius 2 km, semua tanah hancur luluh lantak, gelombang kejut menghempaskan semua sisa-sisa reruntuhan pohon, kotaraja dan istana Kediri.
Tubuh Kertarajasa menjadi debu dan hanya menyisakan batu mustika naga gokarya. Shintadewi dalam keadaan terluka parah turun untuk mengambil batu mustika naga gokarya berbentuk bola berwarna merah dengan satu bintang ditengah-tengah bola.
CWUSZH...
Shintadewi tubuhnya berkedip untuk berteleportasi di gua batu jajar tempat Wijaya sedang di rawat dan istirahat. "Guhak!" Shintadewi terus memuntahkan darah hitam pekat dari mulutnya. "Sudah waktunya aku kembali bertemu denganmu, kang mas Jayalaksana dan hidup abadi bersamamu!"
__ADS_1
Shintadewi menempelkan telapak tangan dikening Wijaya untuk mentransfer ajian nawadewanata. Wijaya kehilangan semua kekuatan dan ingatannya, wadah jiwanya hancur membuatnya hanya menjadi pendekar sampah. Shintadewi juga meletakan batu mustika naga gokarya di tangan kanan Wijaya.
Perlahan tubuhnya berubah menjadi transparan dan lama kelamaan menghilang. "Selamat tinggal anaku!" Kata Shintadewi dengan tersenyum. "Maafkan ibunda yang tak bisa menjagamu, hanya itu yang bisa ibunda berikan!"
Di perbatasan kerajaan Singosari dan Kediri, perang terus berkecamuk. Virnavara belum juga sampai, semua prajurit pasukan kediri, Bleta bora, Karbara Sayuta dan Maung Bodas mulai terdesak.
"Kalau begini terus kita akan mati!" Kata Bleta Bora dengan nada pasrah.
"Kita tak boleh menyerah! ayo terus maju!" Kata Karbara Sayuta dengan nada menggebu-gebu.
"Ya kita tak boleh menyerah!" Kata Maung Bodas dengan banyak luka disekujur tubuhnya.
Hanya kidang kuning yang terus melesat maju dan membabat pasuka Majapahit yang tersisa. Semua senjata pasukan kediri hancur tak tersisa, pasukannya juga tewas hanya menyisakan prabu Raksa Wijaya, Anarghya Wijaya dan Patih Wirabumi yang berlumuran darah.
SHUA...MBOOOM...
Pancaran sinar laser menghantam pasukan Majapahit. Serangan itu Virnavara yang sudah tiba di medan pertempuran. "Bantai semua prajurit Majapahit yang tersisa jangan menyisakannya!" Teriak Mahapatih Jatmiko.
Prabu Angga menangis. "Tidak putriku, tidak jangan pergi!"
"Kenapa kang mas prabu?" Tanya Patih Arya.
"Shintadewi, Arya telah tiada!" Kata Angga dengan nada sedih. Angga adalah ketua pamilya Puntadewa dan mengetahui setiap anggota pamilya Puntadewa, jiwanya terikat pada sebuah batu mustika. Jika batu mustika itu pecah maka Angga merasakannya.
Patih Arya mukanya memerah dan geram lalu menarik kedua rimoranya. Arya terjun dari Virnavara dan langsung menenbas setiap prajurit Majapahit yang ia temui tanpa ampun. "Keponakanku, aku akan membalaskan semua dendammu!"
Kereta wewe gombel di atas Virnavara menembakan ribuan anak panah rajahtava dari atas dek Virnavara.
SHUA...SHUA...SHUA...BOOM...BOOM...BOOM....
"Aaaaaakh!" pekikan dan erangan pasukan Majapahit yang terkena ledakan menggema di medan perang hanya menyisakan mayat-mayat yang bergelimpangan.
"Jangan kendurkan serangan, bantai" Perintah Jatmiko dengan berteriak. Virnavara menjatuhkan banyak bola rajahtava dari bawah lubang Virnavara.
__ADS_1
PLUNG....PLUNG...BOOM...BOOM...