
POFF...
Kepulan asap membumbung tinggi, muncul 4 orang ksatria berammatia adilaga. Satu pendekar berah adilaga membawa pedang replika kayu Gladiosa, satu pendekar ksatria inggil membawa replika kayu Soluna, satu pendekar baladika adilaga membawa replika kayu Buntar jagala, dan satu pendekar dewata adilaga membawa replika kayu Rimora.
"Ajian kanuragan bhandayuda, baladewa among slira!" Wijaya merapal salah satu ajian baladewa dan mengaktifkan wiel aksa.
POFF...POFF...POF...
Muncul 3 kembaran Wijaya, "mohon bantuannya! silahkan ambil senjata ini!" Wijaya memberikan replika kayu Soluna, Rimora, dan Buntar Jagala pada 3 kembaran dirinya. Sedangkan Wijaya sendiri mengambil senjata Gladiosa.
"Ajian apa ini? aku belum pernah melihatnya! setahuku hanya ada satu jenis ajian yang bisa membuat tubuh bayangan yaitu ajian varja runka. Apakah itu ajian varja runka?, jika seperti itu sungguh bakat yang sangat langka di usia 5 tahun sudah mampu menguasai ajian itu!" Batin Raja Surya dengan wajah yang sangat penasaran.
Wijaya melesat menuju pendekar berah adilaga dan mengayunkan secara vertikal dari atas ke bawah replika kayu pedang gladiosa, namun di tangkis oleh pendekar berah adilaga.
TAK...
Keduanya bertarung sengit saling menebas hingga ribuan tebasan.
SLASH...TAK...TAK...SLASH...TAK...TAK...SLASH...
Wijaya dan pendekar berah adilaga sama-sama terpundur 20 meter.
KRASAAAK......
"Ajian bedhama amogasakti pamungkas, berah adilaga, kamatayana slasha (tebasan kematian)," pendekar berah adilaga merapal ajian berah adilaga.
Gladiosa milik pendekar berah adilaga di selimuti aura berwarna ungu lalu melepaskan tebasan vertikal siluet berwarna ungu seperti sabit ke arah Wijaya. Tanah yang dilewati tebasan retak selebar 1 meter dan kedalaman 30 centimeter lalu tebasan vertikal siluet berwarna ungu melesat cepat mengenai Wijaya Kusuma.
KRAK...KRAK...KRAK...BOOM...
Asap mengepul dan debu berhamburan menghalangi pandangan semua yang menonton pertarungan pendekar berah adilaga dan Wijaya.
"Rasakan itu! kau tak pantas berhadapan dengan kami penjaga ksatria adilaga, cih!" cibir pendekar berah adilaga lalu meludah ke tanah.
"Hahaha, dasar bodoh serangan seperti itu tak akan mempan terhadapku!, rasakan ini!, ajian berah adilaga kamatayana slasha!" Wijaya menyeringai jahat dengan sorot mata yang tajam lalu merapal ajian berah adilaga.
__ADS_1
Wijaya melsatkan tebasan vertikal yang sama seperti pendekar berah adilaga, namun dengan siluet warna ungu hitam pekat. Daya rusaknya juga meningkat sepuluh kali lipat, tanah yang dilewati tebasan vertikal retak sangat dalam 2 meter dan lebar 3 meter.
KRAK...KRAK...KRAK...KRAK...
Pendekar berah adilaga terkesiap," apa-apaan ini? bagaimana mungkin murid pemula bisa melakukan hal itu dan lebih kuat dari tebasanku?"
Dan tebasan meluncur dua kali lebih cepat, pendekar berah adilaga mencoba menangkis dengan replika kayu gladiosa, namun gladiosa terbelah dua secara rapi dan halus. Dan tebasan itu mengenai dada pendekar berah adilaga dan terpundur menabrak dinding perguruan.
**KRASAAAK...SHUA...BOOOM
"Guhak**," pendekar berah adilaga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Wijaya segera melesat cepat menuju pendekar berah adilaga.
SHUA...TAP
Lalu melepaskan ajian jagat saksana, kusuma jiwa, dengan menempelkan tangan Wijaya pada dada pendekar berah adilaga untuk menyembuhkannya.
Wijaya meraih tangan pendekar berah adilaga untuk membantunya berdiri, "maafkan aku! aku terlalu kuat melepaskan tebasan ajianku!" Wijaya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maafkan aku juga pangeran telah meremehkanmu!" ucap pendekar berah adilaga penuh penyesalan.
Sementara itu tiga tubuh kembaran Wijaya juga berhasil mengalahkan tiga pendekar ksatria inggil, pendekar baladika adilaga dan pendekar dewata adilaga.
"Guhak, a-aku menyerah!" ucap pendekar ksatria inggil yang memuntahkan darah lalu melambaikan tangan.
"Guhak, a-aku menyerah!" ucap pendekar baladika adilaga yang memuntahkan darah lalu melambaikan tangan.
"Guhak, a-aku menyerah!" ucap pendekar dewata adilaga yang memuntahkan darah lalu melambaikan tangan.
Wijaya menghampiri mereka semua satu persatu dan menyembuhkannya dengan ajian jagat saksana, kusuma jiwa.
Namun Raja Raksa sedang memikirkan sesuatu sambil mengelus dagunya, " Apakah aku tidak salah lihat bukannya itu wiel aksa?, tapi wiel aksa itu sangat berbeda dengan mata wiel aksa yang dimilki pamilya Wijaya. Jika wiel aksa yang yang dimiliki pamilya Wijaya tingkat tertinggi hanya 3 tomoe, wiel aksa milik Wijaya ini sampai 7 tomoe. Teka teki dewata yang membingungkan?."
"Yang mulia gusti prabu Raksa, gerangan apa yang paduka pikirkan?" panggil senopati Duryudana menyadarkan lamunan Raja Raksa.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa. Oh, ya! buatkan surat undangan khusus untuk pangeran Wijaya dan berikan lencana ini padanya nanti setelah ujian selesai!" titah Raja Raksa memberikan lencana inti pamilya Wijaya pada senopat Duryudana.
"Sendiko yang mulia gusti prabu! titah paduka segera hamba laksanakan!" ucap Duryudana dengan duduk sambil meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
"Ujian kedua pangeran Wijaya telah berhasil," teriak Dorna.
"Ah nasib sial, aku kalah taruhan dengan pangeran. Aku terlalu meremehkannya, semoga ujian terakhir bisa menggagalkannya!" batin Dorna tersenyum sinis.
"Karna ini adalah ujian kelulusan awal pertama kali yang terjadi di perguruan Brabang Sari, aku akan menambahkan ujian pamungkas yaitu peserta ujian harus mampu menciptakan ajiannya sendiri dan menunjukan pada khalayak, semua yang hadir disini," teriak Dorna dengab wajah bahagia.
"Rasakan kau pangeran pasti kau tidak akan bisa melewati ujian ini, hahahaha!" batin Dorna.
"Hm, lagi-lagi Dorna membuatku kesal saja, ingin rasanya ku kuliti pria jahanam itu!" batin Shintadewi dengan mendengus kesal.
"Sialan Dorna, mana mungkin Wijaya bisa menciptakan jurus sendiri. Berani-beraninya mempermainkan cucuku!" batin Arya penuh dengan kekesalan.
"Apakah pangeran bisa melakukan sesuatu? tapi kenapa hati ini mengatakan bahwa pangeran mampu melakukannya? perasaan apa ini?" Gumam Raja Surya dengan wajah penuh kebingungan.
"Yang mulia gusti prabu Surya, gerangan apa yang paduka pikirkan?" tanya Senopati Wirabumi.
"Ah, tidak apa-apa," Raja Surya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tolong! buatkan surat undangan khusus untuk pangeran Wijaya!, dan berikan lencana ini padanya!" titah Raja Surya memberikan lencana inti pamilya Kusuma.
"Sendiko yang mulia gusti prabu! titah paduka segera hamba laksanakan!" ucap Wirabumi dengan duduk sambil meninju telapak tangannya lalu membungkuk hormat.
Melihat Raja Surya melakukan hal yang sama pada Wijaya, Raja Raksa menjadi curiga dan pandangan yang penuh menelisik dan membatin, "Kenapa Raja Surya juga ingin mengundangnya juga? apakah dia juga tertarik dengan pangeran Wijaya? aku tak boleh kalah dengannya, aku harus bergerak cepat?."
Wijaya yang tengah berada di halaman perguruan Brabang Sari sedang memejamkan mata dan menangkupkan tangannya dalam keadaan berdiri.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.