KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
UJIAN KELAYAKAN


__ADS_3

Setelah 3 hari berlalu diijaya Kusuma bersemedi, akhirnya semua wadah jiwa energinya sudah kembali terisi.


Wijaya sudah mencoba menghubungi Maung Bodas dan Bleta Bora melalui telepati, Namun sepertinya komunikasinya terhalang oleh formasi segel gua air terjun Basudara.


Empu Culuk juga berhasil membuat braka ya setingkat ajisaka dengan batu bintang bharatayudha.


Metode pembuatan senjata Empu Culuk hampir mirip dengan Wijaya Kusuma yaitu dengan mengeluarkan api di telapak tangan, namun perbedaannya Empu Culuk membutuhkan tungku Samodra Pagoda untuk melelehkan material senjata sebagai media.


Untuk pembentukan senjata juga sangat berbeda jika Wijaya menggunakan ajian sagisaga pagporma harus membutuhkan maputi aksa, maka Empu Culuk menggunakan ajian sagisaga bedhama sungsang yang merupakan ajian sagisaga tingkat pamungkas.


Pengguna ajian sagisaga bedhama sungsang menggunakan formasi bedhama sungsang untuk membentuk senjata, lalu menggunakan energi reiki untuk membuat formasi, mengimajinasikan bentuk senjata, memanipulasi dan mengkonversi molekul material bahan pembentuk senjata, mulai dari warna, memasukan inti jiwa, berat senjata dan asesoris senjata, serta elemen senjata.


Empu Culuk akhirnya membuat senjata sejenis Braka bergagang emas dengan sarung pedang emas dan bilah pedang berwarna hitam seperti pedang bankai ichigo kurosaki.


"Nak! ini braka yang ku buat dengan batu bintang bharatayuda, braka ini setingkat ajisaka. Apa arti senjata untukmu? tanya Empu Culuk pada Wijaya yang berpakaian pendekar berwarna putih, karena pakaian set ninjanya sudah rusak dan penuh bercak darah. Wijaya sedang duduk di hadapan Empu Culuk.


"Bagiku senjata adalah bukan alat tapi teman atau sahabat yang harus dilindungi dan digunakan untuk melindungi yang lemah. Senjata juga untuk menegakan keadilan dan menumpas kejahatan untuk memberi rasa kedamaian untuk semuanya. Senjata juga untuk menyongsong masa depan yang lebih baik bukan alat untuk mengumbar arogansi," jawab Wijaya Kusuma dengan nada datar tapi sorot mata yang tajam.


"Baiklah, aku mempercayakan senjata ini padamu. Aku beri nama Auka Nagara, sebuah braka yang bisa menambahkan 7 elemen pada serangan sesuai elemen penggguna, menambahkan roh binatang, dan menetralkan serangan pengguna elemen serta bisa menyerap energi semesta untuk menambahkannya pada pengguna braka ini," jelas Empu Culuk sambil memberikan auka nagara pada Wijaya Kusuma.


"Kakek empu memang hebat, pantas saja menjadi empu yang sangat hebat dan nomor satu di benua nusantara dalam membuat senjata," puji Wijaya Kusuma.


"Tentu saja! pria paling mempesona di benua nusantara ini mampu melakukannya!" Empu Culuk membusungkan dada dan tersenyum lebar sampai giginya berkilau.


"Dasar kakek gak tahu diri, kalau tahu ayahnya seperti ini apakah paman Jatmiko mau menerimanya? seru juga jika kakek koplak ini di pukul oleh paman Jatmiko dengan ajian serat jiwanya" Wijaya membatin dengan raut muka bodoh membayangkan Empu Culuk di pukul Jatmiko.


"ehem, ehem, ehem," Empu culuk berdehem keras, " apa yang kau pikirkan?" Empu culuk dengan tatapan menelisik pada Wijaya, karena melihat wajah Wijaya dengan raut muka bodoh terkekeh.


"Ah tidak, tidak kakek empu!" Wijaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Terima kasih kakek empu sudah memberikan auka nagara padaku, aku tidak akan menarik kata-kataku!" Wijaya membungkuk hormat dengan memegang braka secara horizontal dengan kedua tangannya.


"Baik kita ke bawah tanah goa!" seru Empu Culuk. "Disana mahapatih amuk marugul menyegel siluman Karbara Sayuta dengan ajian aksamala baureksa formasi papat neraka, dan gua air terjun basudara juga disegel dengan ajian aksamala baureksa panca neraka!" jelas Empu Culuk sambil terus berjalan menyusuri dalam gua dengan Wijaya di belakangnya.


Setelah 5 menit berjalan akhirnya mereka berdua sampai di gua bawah tanah yang cukup tinggi sekitar 30 meter dan luas 200 meter.

__ADS_1


"Baiklah kita sudah sampai!" ucap Empu Culuk lalu tubuhnya di penuhi tato api hitam dari kutukan karbara. Lalu tak sadarkan diri dan tato api hitam di sekujur tubuh Empu Culuk berwarna coklat gelap. Lama-lama menyebar menutupi tubuhnya dan warna kulitnya berubah menjadi warna gelap, kukunya memanjang, taringnya juga memanjang, rambutnya juga memanjang runcing berwarna abu-abu, pupil matanya putih dan lensa mata berwarna hitam.


GROAAAAR....


Empu Culuk meraung, bajunya robek menjadi serpihan-serpihan. Lalu menerjang Wijaya dengan cakarnya.


SLASH...SLASH...SLASH...


"Ayah dan anak, sama-sama menyusahkan, sial, kampret!" Wijaya menggerutu kesal dalam batinnya. Wijaya mengaktifkan buwana aksa dan menggunakan ajian baladewa among slira.


"Ajian baladewa among slira," muncul 4 kembaran diri Wijaya dan langsung melesat menghantam Empu Culuk.


POF...POF...SHUA...


DAK...DUK...DAK...DUK...DAK...DUK...


Semua serangan 4 kembaran diri Wijaya berhasil di tangkis oleh Empu Culuk dan memukul mundur 4 kembaran diri Wijaya.


BAG...BUG...BAG...BUG...KRASAK...BOOOM....


POFF...POFF...


Wijaya sembari tadi menyiapkan ajian bola semesta Ranka, "ajian bola semesta, ranka!" muncul bola yang berputar dengan chakra berlawanan arah di dalamnya, lalu Wijaya melesat maju menghantam perut Empu Culuk yang sudah dirasuki siluman Karbara Sayuta.


BANG...SHUA...BOOM...KRAK...


Empu Culuk terpental jauh lalu menghantam dinding gua dan memuntahkan seteguk darah, "guhak!." Dinding gua hancur karena tubuh Empu Culuk menghantam dinding gua oleh serangan ajian bola semesta, ranka milik wijaya yang sangat keras.


Empu Culuk kembali bangun dan meraung keras.


GROAAAAR...


Tubuhnya di diselimuti aura berwarna coklat gelap dan petir berwarna coklat terang mengelilingi tubuh Empu Culuk. Tubuh Empu culuk yang dikendalikan oleh siluman Karbara Sayuta, terus menerjang Wijaya Kusuma dengan membabi buta.

__ADS_1


SLASH...SLASH...BAM...BAM...


Tanah yang di dalam gua bawah tanah basudara hancur dengan banyak kawah kecil 1 meter di mana-mana.


Wijaya dan Empu Culuk maju menerjang satu sama lain sampai bertukar ribuan gerakan jurus.


DRAK...DRUK...DRAK...DRUK...


Kedua orang itu seperti dewata yang tak pernah kehabisan stamina dalam bertarung, sudah 3 jam penuh mereka bertarung tak ada satu pun yang mengendorkan serangan.


Wijaya mundur dengan salto 5 kali ke belakang dan mengganti buwana aksa menjadi maputi aksa.


"Rupanya di situ kunci siluman sialan itu!" guman Wijaya, lalu melesat dengan tumpuan laki dan menghantamkan pukulan ajian baladewa kambal sanglibo pada Empu Culuk.


BANG.BANG.BANG.BANG.


Semakin lama semakin cepat membuat tubuh Empu Culuk lebam-lebam, dan merubah pukulan Wijaya menjadi totok ajiam sagisaga sewu mwazi tudla untuk menutup aliran energi pada tubuh Empu Culuk.


Tubuh Empu Culuk langsung ambruk dengan berlutut, Wijaya mengeluarkan ripela aksa di telapak tangan kirinya, lalu memegang ubun-ubun Empu Culuk, "siuga!". Wijaya menghisap energi Prana dalam tubuh Empu Culuk selama satu jam.


"Sayang ini belum cukup untuk menaikan wadah jiwa evolusi energiku ke tingkat Reiki!" gumam Wijaya lalu menyandarkan tubuh Empu Culuk pada dinding gua dan menyembuhkan Empu Culuk dengan ajian jagat saksana kusuma jiwa mengkonsumsi energi chakra.


Dari dalam perut Empu Culuk muncul kunci berwarna emas lalu melayang di atas perut Empu Culuk.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.

__ADS_1


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.


__ADS_2