KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
HILANG INGATAN (SEASON 1 END)


__ADS_3

"Jangan kendurkan serangan, bantai" Perintah Jatmiko dengan berteriak. Virnavara menjatuhkan banyak bola rajahtava dari bawah lubang Virnavara.


PLUNG....PLUNG...BOOM...BOOM...


Pasukan Majapahit yang berada dibawah Virnavara, tubuhnya hancur dan gosong terkena ledakan bola rajahtava. Pasukan Majapahit dibuat tak berdaya.


Tak ada satupun pasukan Maajapahit tersisa. Mereka mengirimkan gulungan surat untuk menyerah, para petinggi kekosawaan Majaphit semuanya tewas hanya menyisakan Ratu Dyah Ayu Kencana Wijaya yang telah sadar dari pengaruh batu mustika naga gokarya.


Kemenangan ini sekaligus membawa kehilangan. Shintadewi telah tiada dan Wijaya belum ditemukan. Prabu Raksa, Anarghya, dan juga patih Wirabumi menuju ke istana agung Majapahit untuk menuntaskan misi merebut semua kekosawaan Majaphit yang tersisa.


Karbara Sayuta, Bleta Bora, Maung Bodas dan Kidang kuning juga tidak bisa menghubungi Wijaya. Semuanya khawatir dan panik, "ya dewata agung kenapa terjadi hal seperti ini?" Batin Prabu Angga.


Semua pasukan disiagakan disemua perbatasan kekosawaan kurusetra. Telik sandi semua kekosawaan mencari informasi tentang kekosawaab kurusetra namun hasilnya nihil karena semua ksatria binting berjaga sangat ketat. Kekosawaan kurusetra punya alat pendeteksi yang dibuat empu culuk namanya Samarkhandu. Alat yang mampu memberikan gelombang yang bukan penduduk asli kekosawaan kurusetra, maka akan mati dalam 15 menit.


Semua pasuka julang emas ditarik hanya menyisakan Mahapatih Jatmiko yang mengurus pemindahan kekuasaan kekosawaan Majapahit menjadi kekosawaan Kurusetra, ditemani Maung Bodas, Karbara Sayuta, Kidang Kuning dan Bleta Bora. Mereka menuju istana agung Majapahit.


Virnavara bersama prabu Angga dan Patih Puntadewa kembali ke kerajaan Brabang Sari. Mereka akan mengadakan upacara kematian Wijaya dan Shintadewi. Kabar meninggalnya ibu suri Shintadewi dan Wijaya tersebar ke seluruh wilayah kerajaan dibawah nauangan kekosawaan Majapahit.


"Kang mas kenapa kau meninggalkanku sendiri. Aku tidak percaya kau meninggalkanku, aku yakin kau masih hidup kang mas, hiks, hiks, hiks!" Kata Asmarini yang tak bisa menahan air matanya kehilangan Wijaya.


"Sudahlah ndok! ini takdir dewata agung. Kita tak bisa mengelaknya, kita harus mengikhlaskannya." Kata Putri Sukmasari ibunda Asmarini sambil memeluk Asmarini dan mengelus kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Tapi aku yakin kang mas masih hidup! aku akan mencarinya sendiri!" Kata Asmarini lalu melepaskan pelukan ibundanya dan berlari ke arah kandang kuda istana untuk mengambil kudanya. Asmarini yang frustasi pergi menuju Demak Bintoro, untuk menemui Anjasmara dan Manggala.


Pemulihan Demak Bintoro sangat cepat, Manggala dan Anjasmara berhasil menaikan taraf sosial penduduk Demak Bintoro hanya dalam waktu 6 bulan. Namun kekuatan militernya masih belum sepenuhnya pulih sehingga mereka tidak ikut berperang karena fokus pemulihan kesejahteraan penduduk.


"Sudah lama kita tak bersua dengan kang mas Wijaya semenjak ia jadi kosawa. Kapan-kapan kita mengunjunginya ya kang mas!" Seru Manggala.


"Iya Dimas, kita akan menemuinya setelah proses pemulihan ini selesai. Aku juga sangat rindu dengan kang mas." Kata Anjasmara.


Mereka belum mengetahui jika Wijaya hilang dan dianggap sudah mati serta Shintadewi telah meninggal karena bertarung dengan Kertarjasa Jayawardhana.


"Hormat pada yang mulia prabu!" Kata ksatria binting lalu membungkuk hormat dengan tangan tertangkup.


"Ya ksatri ada apa?"


Manggala menerima gulungan surat. "Terima kasih Ksatria" Kata Manggala lalu membuka gulungan surat, wajahnya pucat pasi dan air matanya tidak dibisa dibendung. "Tidak mungkin kang mas, kau pergi mendahuluiku, hiks, hiks, hiks!"


"Ada apa Dimas?" Tanya Anjasmara dengan raut muka penasaran.


Manggala memberikan gulungan surat pada Anajsmara dan berteriak dalam keadaan menangis. "Kang mas tidak! aku yakin kang mas masih hidup. Kita akan mencarinya ke Kediri, hiks, hiks, hiks!"


"Ya aku merasa kang mas masih hidup. Kita kirim surat ke Asmarini, dia pasti akan ikut mencari. Aku yakin Asmarini punya perasaan yang sama seperti kita, aku merasakannya. Aku juga punya firasat ada orang lain yang kang mas turunkan ilmu kepadanya. Kita tunggu kabar satu minggu lagi, kita akan ke Julang Emas menghadiri upacara kematian mereka." Kata Manggala.

__ADS_1


6 bulan kemudian, Wijaya yang berada dalam gua batujajar masih belum sadar. Wijaya masih berada di dalam alam bawah sadarnya. "Anaku Wijaya, maafkan ayahanda yang tak bisa menyelamatkanmu." Kata Dewata agung jayalaksana. "Kamu terlahir dari energi positif dewa dan energi negatif iblis. Suatu saat kau akan mengerti dirimu yang sebenarnya."


Wijaya terbangun dan membuka mata, ia kehilangan ingatanya. "Siapa aku? aku dimana? tempat ini sangat menyeramkan!" Kata Wijaya sambil mengacak-acak rambutnya.


Wijaya berjongkok seperti orang gila dan stres dengan baju robek, rambut panjang tak terawat. Wijaya selalu menggenggam batu mustika naga gokarya dan tak pernah lepas dari tangannya.


Wijaya terus bertanya pada dirinya sendiri, " siapa aku? dimana aku?" Kata Wijaya yang dikatakan terus berulang-ulang.


Wijaya yang tak kuat mentalnya akhirnya ambruk lagi di dalam gua. Kesadarannya mulai lenyap dan pingsan. Anjasmara, Manggala, dan Asmarini sudah mencari diseluruh kerajaan Majapahit, Mataram, dan Kediri selama 6 bulan tapi tidak membuahkan hasil.


"Aku sudah ikhlas, Dimas Manggala, Kang mas Anjasmara. Kita sudah mencari selama 6 bulan namun tidak menemukannya." Kata Asmarini dengan raut muka pasrah.


4 Siluman kontrak abadi yang sangat setia milik Wijaya yaitu Maung Bodas, Bleta Bora, Karbara Sayuta dan Kidang kuning juga ikut mencari, namun hasil tetap nihil. Mereka mencoba melakukan kontak batin dengan Wijaya tapi tetap tidak bisa.


Ajian beluk sandarawa, ciung wanara adalah teknik pemanggil tingkat tinggi, jika pemanggil meninggal maka siluman atau binatang yang dikontrak juga mati. Tapi bisa dilepaskan ikatannya ketika majikan mereka berniat melepaskan sehingga jiwa binatang atau siluman tidak akan ikut mati.


"Saudaraku apa kalian merasakan. Kita seharusnya mati jika paduka mati. Tapi kita tidak apa-apa kan? kita masih hidup. Aku yakin paduka masih hidup?" Kata Maung Bodas.


"Ya aku juga merasakannya. Seperti ada sesuatu yang menghalangi kita untuk berkomunikasi dengan paduka." Tambah Karbara Sayuta.


"Ya benar aku juga merasakan. Aku melacak energi terakhir paduka, ada di reruntuhan kemudian menghilang. Aku sudah mencoba beberapa ajian untuk melacak paduka namun tetap saja aku tak menemukannya." Kata Kidang Kuning.

__ADS_1


"Sepertinya paduka ditutupi kekuatan yang sangat besar. Kita saja tak mampu untuk melacaknya. Tapi ada satu tempat yang belum kita kunjungi!" Bleta Bora menunjuk peta goa batujajar. "Tempat itu seperti ada segel yang kua, aku merasakannya paduka pasti ada di sana."


Sementara itu di luar gua batujajar. "Padka ini waktu sudah mau malam, lebih baik kita beristirahat. Kasihan Nari Ratih dan Wulandari, bahaya jika kita meneruskan perjalanan malam-malam. Coba kau cari tempat di sekitaran hutan gurun ini!" Seru Wirangka Ayah dari Wulandari dan paman dari Nari Ratih.


__ADS_2