
Tanda segel bulatan kepala naga dikelilingi 7 bulu yang berada di dahi Wijaya Kusuma muncul dan bersinar terang berwarna emas cerah.
Sementara Wijaya masuk ke dalam alam bawah sadarnya. Wijaya kini berada di ruangan kosong serba putih, muncul 7 Wijaya yang lain dengan mata yang berbeda-beda setiap kembaran Wijaya, meskipun mengenakan pakaian yang sama seperti Wijaya Kusuma.
Wijaya yang pertama mempunyai wiel aksa dan mengeluarkan sebuah bola merah menyala seperti api yang berputar-putar di tangan kanannya seukuran bola basebal.
Wijaya yang kedua mempunyai reinka aksa dan mengeluarkan sebuah bola biru dan dua cincin di luar bola yang terus berputar-putar seperti air di tangan kanannya juga.
Wijaya yang ketiga mempunyai luzion aksa dan mengeluarkan sebuah bola hijau dikelilingi cincin seperti shuriken.
Wijaya yang keempat mempunyai maputi aksa dan mengeluarkan sebuah bola berwarna emas dikeliligi 7 cincin pelangi.
Wijaya yang kelima mempunyai pupil mata berwarna biru laut dikelilingi tujuh tomoe berwarna biru laut juga. Sebuah bola berwarna ungu pekat dikelilingi cipratan petir.
Wijaya yang keenam mempunyai pupil mata berwarna ungu dikelilingi 7 tomoe dan sebuah bola berwarna coklat di kelilingi cincin berwarna putih mengkilap, perunggu, perak, emas, berlian dan hitam.
Wijaya yang ketujuh mempunyai pupil mata hitam dikelilingi 7 tomoe berwarna hitam dengan bola berwarna hitam pekat dan cincin berwarna putih.
"Ini adalah ajian bola semesta!" ucap serentak tujuh kembaran Wijaya yang memajukan telapak tangannya pada Wijaya setinggi dada.
"Kumpulkan energimu dalam bentuk evolusi energi apapun pada telapak tangan kananmu dan rasakanlah lalu coba putarlah secara berlawanan!" ucap serentak 7 kembaran wijaya lalu menghilang.
POFF...POFF...POFF...POFF...POFF...POFF...POF...
Wijaya tersadar dari alam bawah sadarnya dan membuka mata lalu mencoba gerakan yang sudah diintruksikan ketujuh kembarannya.
Wijaya menempatkan energi chakranya pada telapak tangannya, Wijaya merasakan adanya getaran di telapak tangannya yang begitu kuat. Lalu Wijaya mencoba memutar chakra pada tangannya searah jarum jam dan memutar keberadaan chakra lainnya diputar berlawanan arah jarum jam.
Wijaya memusatkan pikirannya pada ajian bola semesta ini, chakranya terkuras sampai 60%. Bola yang berputar secara acak membuat suara desingan yang begitu keras.
NGIIING...NGIIING...NGIIING...
Setelah setengah jam Wijaya berhasil mengontrol energi yang berbentuk bola pada tangannya.
__ADS_1
Wajah pucat pasi dan keringat dingin menghiasi Dorna, " habislah sudah diriku ini!."
"Anaku memang luar biasa, rasakan kau Dorna kampret!" teriak Shintadewi karna saking kesalnya.
"Sungguh luar biasa!" guman Raja Angga, Raja Raksa dan Raja Surya.
Seluruh pejabat tinggi istana terkagum-kagum dengan Wijaya, "Luar biasa pangeran!, sungguh jenius."
Lama kelamaan Bola putih ditelapak tangan Wijaya semakin padat lalu Wijaya melesat cepat menghantamkan bola putih ke salah satu batu besar setinggi 10 meter, "**ajian bola semesta, ranka!"
BOOOOM**...
Batu besar setinggi 10 meter itu tercetak lubang berdiameter 5 meter. Semua yang menonton terasa ngilu, bergidik ngeri dan memegang bagian terlarang mereka, mereka berpikir jika ajian bola semesta mengenai barang terlarangnya bagaimana jadinya, mungkin hancur luluh lantak.
"Paman Dorna bagaimana? nama ajian yang aku ciptakan adalah ajian bola semesta!" teriak Wijaya sambil menaik turunkan alisanya.
"Pangeran Wijaya dinyatakan lulus menjadi Ksatria Brabang Sari dan beramatia dewata adilaga!" teriak Dorna dengan wajah pucat pasi dan berkeringat dingin.
Semua penonton bersorak gembira dan bertepuk tangan.
Dorna mendekati Wijaya lalu berlutut, "Pangeran sebagai seorang ksatria pantang menarik janji!, aku Dorna mengaku kalah dan mohon maaf atas ketidak sopananku pada pangeran," Dorna meninju telapak tangannya dan membungkuk hormat.
"Sudah paman jangan melakukan ini, tidak enak dipandang yang lain berdirilah!" Wijaya tersenyum dan membantu Dorna berdiri
"Aku sebenarnya sudah tahu kemampuan paman dalam mengurus perguruan, aku butuh kemampuan paman untuk mengurus perguruan di kadipaten Maung Bahari. Jika aku meminta paman pada kakek Raja Angga pasti kakek raja tidak akan mengizinkan. Jadi aku bertaruh dengan paman, dengan begini kakek raja pasti mengizinkan paman untuk ikut denganku, bukankah begitu kakek raja?, hahahaha!" Wijaya dengan tertawa jahat sambil menepuk-nepuk dadanya.
"Baiklah,baiklah aku mengizinkannya!" Raja Angga kesal sambil mengembungkan pipinya.
"Dasar bocah tengik, awas kau dasar licik! sialan malah aku yang di kerjai, awas saja tunggu pembalasanku!" batin Raja Angga dengan wajah tersenyum jahat.
Melihat ujiannya sudah selesai Senopati Wirabumi dan Senopati Duryudana bergegas berlari menghampiri Wijaya Kusuma.
Mereka berdua berlutut, " Mohon maaf pangeran jika hamba lancang, hamba hanya ingin menyerahkan surat undangan khusus dari kerajaan kami dan lencana ini," ucap serentak mereka berdua dan memberikan sudat undangan khusus dan lencana pamilya pada Wijaya.
__ADS_1
"Terima kasih paman senopati, aku terima surat undangan ini. Jangan terlalu sungkan tak enak dipandang, berdirilah paman senopati!" Wijaya menerima gulungan surat dan lencana pamilya, lalu membantu mereka berdiri.
"Terima kasih pangeran! hamba mohon pamit undur diri!" Mereka berdua membungkuk hormat lalu kembali ke sisi Raja Raksa dan Raja Surya.
"Sepertinya kamu sekarang terkenal cucuku, apa jangan-jangan gadis-gadis juga akan mengejarmu?," ledek Ratu Adiningrum sambil mengacungkan jempol pada Wijaya.
"Tentu saja nenek ratu! Mana ada yang tahan dengan pesona ketampananku ini, hahahah," Wijaya tertawa dengan muka bodohnya.
"Paman Dorna siapkan perbekalan dirimu! kita dua jam lagi akan berangkat menuju kadipaten Maung Bahari dan temui aku di halaman istana! seru Wijaya.
"Sendiko yang mulia pangeran!" Dorna membungkuk hormat lalu pamit undur diri.
Para pejabat tinggi kerajaan keluar dari halaman ujian perguruan Brabang Sari, Raja Angga, Ratu Adiningrum, Raja Raksa ditemani senopati Duryudana, Raja Surya ditemani senopati Wirabumi dan Senopati Arya pun telah kembali ke istana untuk membicarakan kerjasama kerajaan.
"Nak aku akan ikut denganmu ke kadipaten Maung Bahari, ibu ada satu hutang padamu untuk mengajarkan ajian aksamala baureksa," pinta Shintadewi.
"Baik ibunda. Ibunda bisa ikut denganku, tapi aku mohon maaf belum bisa memberikan tempat tidur yang layak untuk ibunda di sana!" Wijaya Kusuma dengan wajah sedikit sedih.
"Tidak apa-apa nak aku mengerti! ibunda akan menyiapkan perbekalan dahulu dan meminta izin pada kakek dan nenekmu!" ucap Shintadewi penuh kelembutan dan mengelus kepala Wijayalalu pergi meninggalkannya.
"Yang mulia gusti prabu! hamba mohon pamit undur diri dan hamba akan menunggu di halaman istana!" Bleta Bora membungkuk hormat.
"Baik saudaraku! jika perlu bantuanku panggil saja diriku melalui telepati!" pinta Wijaya.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" Bleta Bora lalu pergi meninggalkan Wijaya Menuju halaman istana.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.