KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
MENYEMBUHKAN NYAI SINDANG BARANG


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update hanya 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, soalnya menentukan alur ceritanya sedang kurang mood, hehehe.


Nyai Sindang Barang memegang pil parantaja itu, dan membolak-balikannya lalu meneguk salivanya. Ada rasa ragu di hatinya, "sudah nyai minum saja, tak usah takut. Aku tahu nyai punya penyakit yang sulit di sembuhkan dan nyai juga tidak tahu nama penyakitnya. Betul kan nyai?" Tanya Wijaya sambil mengerlingkan mata.


"Bahkan Nyai Sindang Barang bawana yang sangat terkenal pun tak mampu mengetahui penyakitnya sendiri. Ini sungguh aneh, sangat aneh." Gumam salah satu peserta yang berada di dekat Nyai Sindang Barang, seorang pemudi berbaju pendekar wanita berwarna merah, dengan rambut panjang dan cukup cantik dengan kulit putih.


Sedari tadi Wijaya Kusuma sudah mengaktifkan reinka Aksa tahap kedua untuk mengidentifikasi penyakit Nyai Sindang Barang. "Aku tahu penyakitmu nyai, namanya kutukan sambadra. Tubuhmu akan melemah jika kau mencoba melawan penyakitmu. Kutukan itu juga akan muncul jika kau mengeluarkan energimu, betul bukan nyau?" Tanya lagi Wijaya.


Mata semua terbelalak termasuk Nyai Sindang Barang, bagaimana mungkin ada penyakit seperti itu dan mampu melemahkan sepenuhnya orang yang terkena kutukan seperti itu. Di dalam dunia medis benua nusantara belum pernah ada kasus seperti ini.


Ya, Nyai Sindang Barang terkena kutukan sambadra dan mengalami penurunan tahapan sampai 12 tahapan. Nyai Sindang Barang awalnya di tahapan praburata inggil, harus menelan pil pahit turun ke tahapan taruna inggil. Setiap kali melawan kutukan sambadra, tanda kutukan bercorak api terang akan muncul di seluruh tubuhnya dan membuatnya lemah tak berdaya, bahkan jatuh pingsan tak sadarkam diri selama 3 hari.


Akhirnya Nyai Sindang Barang menelan pil parantaja buatan Wijaya. Muncul tanda kutukan bercorak api terang diseluruh tubuhnya, Nyai Sindang Barang sudah tak kuat menahan kutukan sambadra dan hampir saja pingsan. Wijaya mendekati Nyai Sindang Barang yang mencoba agar tidak pingsan dengan bertumpu pada tongkat ular kobarnya.


"Maaf, nyai! aku akan mencoba mengobatimu." Wijaya mendekati Nyai Sindang Barang dan melancarkan ajian sagisaga sewu mwazi tudla pada tubuhnya, untuk menotok titik bagian perut dan kedua paha Nyai Sindang Barang.

__ADS_1


TSUK...TSUK...TSUK...


Wijaya menotok 32 titik pada bagian paha dan perut Nyai Sindang Barang, "gerakan yang luar biasa. Aku belum pernah melihat ajian zamankhwala (penyembuhan/medis) seperti itu." Gumam beberapa peserta yang berada di barisan depan.


Kutukan Sambadra di tubuh Nyai Sindang Barang perlahan mulai menghilang, tubuhnya di penuhi lumpur hitam yang sangat bau, membuat muntah orang di sekitarnya.


"Guhak!" Nyai Sindang Barang memuntahkan darah hitam pekat dari mulutnya, keadaanya hampir tak sadarkan diri. Jika saja tidak tubuh Nyai Sindang Barang bertumpu pada tongkat ular kobranya. Wijaya menempelkan telapak tangannya untuk menyerap racun kutukan Sambadra.


Tubuh Nyai Sindang Barang yang bungkuk kembali tegap, kulitnya yang keriput dan pucat dengan ruam merah kembali normal seputih salju. Kelopak matanya yang seperti mata panda kembali normal dengan pupil mata berwarna biru dengan bulu mata yang lentik. Tak sengaja cadar yang menutupi mulutnya terlepas, bibirnya begitu pucat pasi namun lama kelamaan berubah menjadi merah merekah alami.


Rambutnya beruban kembali menghitam pekat menjuntai panjang sepinggang. Semua peserta laki-laki yang melihat, mengeluarkan darah dari hidungnya termasuk para ksatria binting dan petinggi kerajaan Dharma Ayu kecuali Wijaya Kusuma.


Tiba-tiba tubuh Nyai Sindang Barang yang sudah pulih stamina dan fisiknya bersinar terang, "gawat! nyai akan naik 15 tingkatan sekaligus!" gumam Wijaya dalam batinnya dengan raut muka panik. "Jika aku tidak membiarkannya istana ini bakal rata dengan tanah."


SHUA...SWUSH...


"Benar-benar keren, bukan hanya tampan tapi juga sakti mandraguna!" Gumam semua peserta bawana perempuan. Seorang pendekar di benua nusantara jika sudah bisa menggunakan ajian gamana katakawa (meringankan tubuh) di anggap pendekar yang sangat sakti mandraguna.


Wijaya dan Nyai Sindang Barang terbang tinggi sekali hampir menyentuh atmosfer bumi. Wijaya melepaskan pelukan pada pinggang Nyai Sindang Barang, lalu mengarahkan telapak tangan dan menempelkannya pada punggung Nyai Sindang Barang untuk melepaskan ajian gamana katakawa dengan tingkatan lugara.

__ADS_1


Dimana pengguna ajian bisa mengirimkan ajiannya pada orang lain atau serangan area. Wijaya menjauh sejauh mungkin dan melindungi dirinya dengan ajian pancer agni, skilda agni (perisai api) untuk menahan gelombang kejut dari kenaikan 15 tahapan Nyai Sindang Barang.


Tubuh Nyai Sindang Barang bersinar terang dan langsung meledak serta mengirimkan gelombang kejut berkali-kali. Membuat awan di sekitarnya menjauh, suaranya nyaring terdengar sampai istana Dharma Ayu dan seluruh kekosawaan Siliwangi.


BANG...BANG...BANG...BANG...BANG...


BANG...BANG...BANG...BANG...BANG...


BANG...BANG...BANG...BANG...BANG...


Seluruh kerajaan di wilayah kekosawaan Siliwangi gempar, kecuali kerajaan Bantani dan Batavia bahwa ledakan itu perbuatan Nyai Sindang Barang yang naik 15 tahapan sekaligus. Wijaya memberitahukan melalui telepati pada Maung Bodas dan Karbara Sayuta, untuk menenangkan penduduk agar tidak panik.


Bola energi berwarna keemasan seukuran bola basebal yang sangat banyak, terus berputar-putar di sekeliling tubuh Nyai Sindang Barang. Lalu masuk ke dalam tubuh Nyai Sindang Barang satu persatu, Nyai Sindang Barang dari taruna inggil naik tahapan ke Suryarama inggil secara instan. Berkat bantuan Wijaya dan berhasil menyembuhkan kutukan Sambadra dalam tubuhnya.


Wijaya menonaktifkan ajian pancer agni, agni (perisai api) lalu melesat cepat ke arah Nyai Sindang Barang untuk memastikan apakah baik-baik saja. Ajian sagisaga gamana katakawa milik Wijaya yang di taruh pada tubuh Nyai Sindang Barang ternyata sudah non aktif, kini Nyai Sindang Barang berhasil menguasai ajian gamana katakawanya sendiri.


Jika seorang pendekar menembus tahapan Suryarama automatis bisa mengaktifkan ajian gamana katakawa. Nyai Sindang Barang yang melayang langsung berlutut dengan satu kaki dan memegang dada kirinya dengan tangan kanannya.


"Hari ini aku bersumpah setia padamu yang mulia paduka gusti Wijaya Kusuma. Aku pernah bersumpah di puncak gunung mahameru, jika ada manusia atau siluman berhasil menyembuhkanku, maka aku akan membatikan hidupku padanya." Ucap lembut Nyai Sindang Barang dengan menundukan kepala.

__ADS_1


"Tidak usah sungkan nyai. Aku membutuhkanmu untuk memimpin perguruan bawana, bangunlah!" Wijaya mengangkat tubuh Nyai Sindang Barang dengan tersenyum manis. Lalu membelakangi Nyai Sindang Barang dan turun melesat dengan cepat ke halaman istana Dharma Ayu.


Nyai Sindang Barang kembali berdiri lalu melesat cepat turun mengikuti Wijaya ke halaman istana Dharma Ayu. Semua orang bersorak sorai gembira, dan terkagum-kagum dengan kehebatan Wijaya Kusuma dalam menyembuhkan penyakit Nyai Sindang Barang dengan sekejap mata.


__ADS_2