
Sinar matahari sudah berada tepat di ubun-ubun kepala, Wijaya pun segera beranjak pergi menuju halaman istana. Di halaman khusus ujian perguruan Brabang Sari hanya tinggal Wijaya Seorang dan 3 kembaran dirinya.
"Terima kasih telah membantuku, sayuta!" Wijaya tersenyum dan membungkuk hormat pada kembaran dirinya.
POFF...POFF...POFF...
Tiga kembaran diri Wijaya pun menghilang dari pandangan. Wijaya pun berjalan perlahan melanjutkan perjalanannya menuju aula istana sambil mengelus dagunya.
"Banyak hal yang harus aku selesaikan, masalah pencarian Empu Culuk dan Nyai Sindang Barang bukan hal yang sepele. Jika aku gagal membawa mereka ke Kadipaten Maung Bahari sangat sulit untuk menaikan kesejahteraan mereka. Para bandit pun masih menjadi penghalang di beberapa titik perbatasan desa, Hmm," Wijaya menghela nafas panjang.
Di saat Wijaya berjalan sembari hanyut dalam lamunannya, tiba-tiba dikejutkan suara panggilan dari belakang.
"Pangeran! pangeran!, tunggu! hah, hah, hah," 4 pendekar yang telah bertarung dengan Wijaya di ujian awal kelulusan memanggil sambil terengah-engah.
Wijaya menoleh ke belakang dengan tersenyum, "ada apa? apa yang bisa aku bantu?" tanya Wijaya dengan sopan.
"Mohon maaf pangeran jika hamba lancang, perkenalkan hamba Prasetya!, kami berempat ingin ikut ke Kadipaten Maung Bahari bersama pangeran, kami juga membawa delapan orang teman kami!" ucap pendekar dewata adilaga, Prasetya sambil membungkuk hormat.
"Baik, tapi kalian adalah 12 penjaga ksatria Brabang Sari. Jika kalian pergi bagaimana dengan keamanan Brabang Sari?" tanya Wijaya.
Wijaya mengetahui jika ada 12 penjaga Brabang Sari yang menjaga Brabang Sari sudah turun temurun dari kitab dewata adilaga.
Malam sebelum Wijaya bertanding, Wijaya membaca semua isi kitab dewata adilaga dengan kemampuan wiel aksa. Wijaya mengetahui kemampuan wiel aksa juga bisa meniru ajian apapun dengan sekali lihat, dan membaca kitab apapun secara cepat, lalu mendemonstrasikan gerakan-gerakan ajian tersebut secara sempurna.
"Maaf pangeran!, 12 penjaga Brabang Sari selalu bersumpah setia pada pemimpin perguruan. Jika pemimpin Dorna pergi, maka kami pun akan pergi!" jelas Prasetya dengan suara lantang.
"Baik, jika itu yang kalian inginkan, aku akan membicarakannya dengan kakek raja. Tapi apakah kalian mau bersumpah setia padaku?" tanya Wijaya dengan sorot mata yang tajam.
Semua pendekar yang di tatap Wijaya dengan tatapan itu bergidik ngeri, tatapan itu seperti tatapan sang pembantai, tatapan yang mampu menhancurkan moral siapapun yang memandangnya, tatapan yang mampu memberikan rasa putus asa.
"Paman Dorna telah aku kalahkan, sepatutnya kalian harus mengikuti seseorang yang telah mengalahkan pemimpin sebelumnya bukan?" tanya Wijaya menyeringai jahat.
__ADS_1
"Ya pangeran benar! kami akan bersumpah setia pada pangeran!" ucap Prasetya.
"Darimana tahu pangeran tentang 12 penjaga dan perjanjiannya, setahuku perjanjian itu hanya tertulis dalam kitab dewata adilaga milik harta perbendaharaan istana Brabang Sari?" batin Prasetya penuh tanda tanya.
"Baik, kalian bersiaplah untuk mempersiapkan perbekalan, dan bawa 12 penjaga yang tersisa. Dua jam lagi temui aku di halaman istana!" perintah Wijaya.
"Sendiko yang mulia pangeran!, hamba mohon undur diri" ucap Prasetya dan 3 pendekar lainnya serentak, dan membungkuk hormat, lalu undur diri meninggalkan Wijaya.
"Aku harus mencegah daripada mengobati. Serigala bisa saja berbulu domba tapi bagaimana kalau serigala dijadikan seperti domba yang sangat patuh pada tuannya," Wijaya menyeringai jahat.
SRIING...
Pupil mata Wijaya Kusuma berubah.
*POV KEKOSAWAAN MAJAPAHIT*
"Mohon maaf Resi! ada yang bisa kami bantu?" tanya ksatria binting yang menjaga pintu gerbang istana agung.
"Penjaga! aku ingin bertemu dengan yang mulia Kosawa Kertarajasa Jayawardhana!" Seru Resi Kuncung Putih.
"Baik Resi aku akan melaporkannya terlebih dahulu!" ksatria binting pamit undur diri untuk masuk ke aula Singgasana istana agung Majapahit.
Ksatria binting berlutut dengan satu kaki, lalu meninju telapak tangannya dan menundukan wajah, "lapor paduka yang mulia Kosawa!, ada Resi kuncung putih ingin bertemu dengan yang mulia paduka Kosawa!."
"Pucuk di cinta ulam pun tiba, takdir dewata memang sedang berpihak padaku, cepat izinkan Resi Kuncung Putih masuk," titah Kosawa Kertarajasa Jayawardhana dengan tersenyum lebar.
"Sendiko paduka! titah paduka akan segera hamba laksanakan!, hamba pamit undur diri," ksatria bintinga yang masih berlutut dengan satu kaki dan menundukan wajah, lalu berjinjit mundur meninggalkan aula singgasana istana agung Majapahit.
Setelah beberapa lama ksatria binting kembali, "silahkan masuk Resi!, yang mulia telah menunggu anda di dalam!" ucap ksatria binting sambil membungkuk hormat.
__ADS_1
Resi Kuncung Putih pun berlajan perlahan masuk ke dalam aula singgasana istana agung Majapahit.
"Hormat pada yang mulia paduka Kosawa Kertarajasa Jayawardhana!" ucap Resi Kuncung putih sambil membungkuk hormat.
Kosawa Kertarajasa Jayawardhana berdiri dari singgasanaya, " terima kasih Resi. Tidak perlu sungkan, silahkan duduk Resi," Kosawa Kertarajasa Jayawardhana melambaikan tangan mempersilahkan Resi Kuncung Putih untuk duduk.
Resi Kuncung putih berdiri lalu duduk di samping Baladika adilaga Senopati Angkasa mada. Di dalam Aula singgasana istana agung Majapahit hanya ada Kosawa Kertarajasa Jayawardhana, di sampingnya ada Ratu Dyah Ayu Kencana Wungu Wijaya yang sedang duduk di kursinya. Lalu ada Senopati Angkasa Mada dan tiga pejabat tinggi kekosawaan yaitu Mahapatih Suryadaksa, Patih Kuraseta, dan sesepuh bawana setingkat Mahadayana Nyai Sri Barkasih.
"Ada hal apa Resi berkunjung kemari, pasti ada hal yang penting di sampaikan. Tidak mungkin Resi keluar dari pertapaannya jika tidak ada hal yang mendesak?" tanya Kosawa Kertarajasa Jayawardhana.
"Mohon maaf paduka!, hamba kemari membawa sebuah kabar entah baik atau buruk, beberapa hari yang lalu terjadi gempa di seluruh Bimantala Javaruka. Menurut hamba ini suatu pertanda dari wahyu keprabon tentang bangkitnya raja penjaga binatang suci," Resi Kuncung Putih menangkupkan tangan dan menundukan wajah.
"Ya benar Resi! kami juga merasakan gempa itu terjadi sampai kemari, apakah akan ada hal yang buruk jika raja penjaga binatang suci bangkit? tanya Kosawa Kertarajasa Jayawardhana.
"Di dalam persemedian, hamba melihat seorang pemuda memakai mahkota berwarna emas dengan jubah kosawa berwarna emas juga dan seperti membawa batu mustika Maung Loka," jelas Resi Kuncung Putih.
"Mohon maaf Paduka dan Resi, sepertinya hamba mengenal mahkota dan jubah kosawa itu. Kalau tidak salah Mahkota Kurusetra Bhrevara, barang siapa memilikinya makan 7 penjaga binatang suci akan tunduk dan patuh," sela Nyai Sri Barkasih.
"Mahapatih! cari pemuda itu dan bawa dia kemari!" titah Kosawa Kertarajasa Jayawardhana.
"Sendiko yang mulia paduka! titah paduka akan segera hamba laksanakan!" ucap Mahapatih Suryadaksa sambil membungkuk hormat.
"Tunggu mahapatih! apakah Mahapatih tahu petunjuk pemuda itu?" tanya Ratu Dyah Ayu kencana Wungu Wijaya.
"Tidak yang mulia paduka Ratu, hamba belum mengetahui petunjuk tentang pemuda itu!" jawab Mahapatih Suryadaksa.
"Mahapatih pergilah ke kerajaan Kediri temui kakakku prabu Raksa Wijaya. Kemungkinan 3 hari lagi ia akan sampai dari kerajaan Brabang Sari untuk menyelesaikan masalah pencatutan nama pamilya Wijaya yang dipakai oleh cucu Raja Angga. Kemungkinan ada informasi penting dari Kerajaan Brabang Sari," ucap Ratu Dyah ayu.
"Sendiko yang mulia paduka ratu, titah paduka ratu hamba akan laksanakan!" Mahapatih Suryadaksa membungkuk hormat lalu pamit undur diri.
**Saya minta doanya semua dari para kakak-kaka readers semua.
__ADS_1
Semoga novel author ini lulus kontrak. Aamiin**