KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
SAYEMBARA 3 KEMENANGAN TELAK


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


"Eh bangsat kali ini kau akan kucincang jadi kecil-kecil, rasakan ini!" Ki Brugul melepaskan pukulan dengan sangat cepat ke arah Wijaya, dengan sangat mudah Wijaya menghindari pukulan cepat Ki Brugul cukup hanya memiringkan badan saja.


SHUA...SHUA...SHUA...


"Dasar Ayam sayur! cuma bisa menghindar hyaaaa!" Ki Brugul melepaskan tendangan yang cepat juga ke arah dada Wijaya, lagi-lagi Wijaya dengan mudah menghindarinya. "Ajian pancer agni, gamana agni katakawa (elemen api, api peringan tubuh)!" Tubuh Ki Brugul diselimuti api yang membara, kecepatan dan kekuatannya meningkat, urat ototnya semakin membesar.


SWUSH..WUSH...SWUSH...


"ajian pancer agni, agni kambala (elemen api pukulan api)!" Tangan kanan Ki Brugul diselimuti api yang berkobar dan mengarahkan pukulan tepat di dahi Wijaya. Wijaya juga mengeluarkan ajian baladewa brajamusti (teknik pasukan dewa, pukulan dewa neraka). Keduanya beradu pukulan dengan sangat keras, arena pertarungan retak dan ambles karena gelombang kejut benturan pukulan.


BANG....SWUSH...KRAK....KRAK...


Dinding pembatas arena juga retak, "Pukulan brajamusti!" Gumam Prabu Raksa dengan mata terbelalak. "Ajian itu ajian terlarang, gawat pertandingan ini jika dilanjutkan bisa memakan korban."


"Patih Wirabumi hentikan pertandingannya!" Titah Prabu Raksa dengan berteriak.


"Sendiko yanh mulia gusti prabu!" Patih Wirabumi membungkuk hormat.


Arena di penuh kepulan debu dan asap, Ki Brugul sudah terkapar di dinding pembatas arena, Wijaya mendekatinya. "Ajian jagat saksana, maputi agni (teknik penyembuham dewa, api putih)!" Wijaya mengeluarkan api putih dari ripela aksa di telapak tangan kirinya. Api putih terbang dan masuk tubuh Ki Brugul dan meregenerasi semua tubuhnya seketika yang terluka parah baik luar serta dalam.


SWUSH...WUUUNG...WUUNG...


Ki Brugul berdiri dan membungkuk hormat. "Aku mengaku kalah! Terima kasih gusti telah menyembuhkanku!"


"Sama-sama Ki. Jangan sungkan, maafkan aku karena terlalu berlebihan dengan Ki Brugul." Wijaya dengan nada lembut membungkuk hormat.


"Fyuh! Hampir saja kalau tidak Ki Brugul sudah pasti tewas!" Gumam Prabu Raksa dalam batinnya dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"Baik pemenangnya adalah Wasesa Jaya!" Teriak Patih Wirabumi. "Kini hanya tersisa tiga peserta untuk babak akhir akan di adakan esok hari!"


Semua penonton bubar dari kursi arena dan kembali ke rumah masing-masing. Karena sayembara ini kotaraja Kediri sangat ramai, hampir semua penginapan penuh dan lalu lalang orang sangat riuh.


"Guru tunggu!" Panggil Anarghya pada Wijaya.


"........" Wijaya terdiam dan membalikan badannya dan menjitak kepala Anarghya, "Sudah kubilang jangan panggil aku guru disini."


"Aw, sakit guru!" Pekik Anarghya


Prabu Raksa yang mendengar Anarghya memanggil Wasesa Jaya gurunya penasaran dan mendekati mereka berdua bersama patih Wirabumi sedangkan Ratu Darapuspita kembali ke dalem keraton.


"Tunggu tuan pendekar! apakah tuan pendekar guru pangeran Anarghya?" Tanya Prabu Raksa.


"Gara-gara kau murid bedebah, aku tak bisa menikmati masa santaiku di Kediri!"" Wijaya menjitak kepala Anarghya lagi.


"Awwww! sakit tahu guru!" Pekik lagi Anarghya.


Wijaya membuka topengnya, muncul sosok lelaki yang sangat tampan berpupil mata pelangi dan berambut acak merah terang. "Ci luk baa! kakek prabu, hehehehe."


Wijaya menahan sembah sungkem mereka berdua. "Sudah kakek prabu dan paman Patih jangan sungkan!"


"Jadi kakek prabu dan Paman Patih sudah kenal?" Tanya Anarghya.


"Anak bodoh ini yang mulia kosawa kurusetra, berikan hormat pada yang mulia paduka!" Prabu Raksa menjitak kepala Anarghya sampai berlutut satu kaki.


"Awwwa kakek sakit sekali, tiga kali aku di jitak, ampuuuun!" Pekik Anarghya sampai keluar air matanya. "Maafkan hamba yang mulia paduka, hormat pada yang mulia paduka Kosawa Wijaya Kusuma!"


"Sudah Anarghya tidak usah sungkan. Selama 4 bulan ini aku tinggal di kotaraja Kediri, gara-gara murid bedebah ini waktu santaiku jadi hilang!" Wijaya menjitak lagi kepala Anarghya.


"Awww! ampuun yang mulia kosawa, ampuun guru!" Pekik lagi Anrghya kepalanya sudah benjol bertumpuk.


"Jadi yang mulia kosawa yang melatih Anarghya?" Tanya Patih Wirabumi.

__ADS_1


"Ya bisa dibilang begitu paman patih, kemarin aku melihat pangeran akan dibunuh oleh pangeran Virna dan aku menyelamatkannya. Pangeran Anarghya telah diracun tubuhnya sehingga kehilangan semua kekuatannya, aku berhasil menyembuhkan bahkan meningkatkan kekuatan pangeran Anarghya sampai tahap Praburata Asor." Jawab Wijaya.


Prabu Raksa muka dan matanya memerah. "Anak selir sialan! aku akan menghukum berat perbuatanmu!" Teriak Prabu Raksa dengan wajah geram.


"Sudah kakek prabu aku sudah menghukumnya dengan mengunci kekuatan pancer agninya dengan ajian aksamala, agni kulungan (penjara api)!" Jelas Wijaya sambil menepuk pundak Prabu Raksa untuk menenangkannya.


"Bukankah itu!-"


"Ya kakek prabu itu adalah ajian aksamala baureksa, jenks ajian terlarang untuk menyegel kekuatan seseorang. Jika ia memaksa menggunakan kekuatannya maka segel kutukan itu akan langsung melemahkan seperti dijatuhi dua gunung, tubuhnya akan berat tertarik 10 kali gravitasi bumi, bahkan bisa membuat tubuh meledak!"


"Gluk!" Patih Wirabumi dan Anarghya menelan salivanya, wajah mereka berdua pucat.


"Patih tangkap selir Kumitri dan Pangeran Mahkota Virna sekarang!" Titah Prabu Raksa.


"Sendiko yang mulia gusti prabu!" Patih Wirabumi membungkuk hormat lalu bergegas masuk ke ndalem keraton di kamar selir Kumitri dan Pangeran Virna.


"Terima kasih yang mulia kosawa telah menyembuhkan putra hamba! dan dengan ini aku serahkan putra hamba ke yanh mulia hamba sebagai murid yang mulia kosawa!" Ucap Prabu Raksa dengan berlutut satu kaki. "Acara sayembaranya akan kami hentikan!"


"Tidak perlu kakek prabu! lanjutkan saja meskipun pasti aku yang menang, hehehehe!" Canda Wijaya Kusuma dengan terkekeh. "Baik kakek prabu aku akan kembali ke penginapan dahulu!"


"Baik yang mulia kosawa, tapi lebih baik yang mulia di ndalem keraton istana kedir saja!" Pinta Prabu Raksa.


"Ya yang mulia paduka guru!" Ucap Anarghya.


"Tidak perlu kakek prabu, nanti merepotkan kalian. Jika kakek prabu membutuhkan bantuan aku siap membantu, dah!" Wijaya melambaikan tangan lalu tubuhnya berkedip menghilang.


"Maafkan ayah anaku, jika terlalu membuatmu susah!" Ucap prabu Raksa sambil memeluk Anarghya dan meneteskan air mata.


"Tidak apa-apa Ayahanda, tapi dengan begini aku jadi bertemu guru. Yang mulia paduka guru sungguh sangay murah hati memberikan aku pusaka tingkat ajisaka namanya agni pitayan!" Anarghya mengeluarkan agni pitayan dari gelang penyimpanannya.


"Pusaka yang sungguh hebat, ayahanda juga sudah mendengar dan menyaksikam sendiri yang mulia kosawa adalah kosawa yang sangat sakti madraguna, seorang pendekar, bawana tingkat Mahadayana dan pandai besi tingkat Empu!" Puji Prabu Raksa.


"Pantas saja ayahanda, yang mulia paduka guru menyembuhkan racunku dengan sekejap mata dan memberikanku pusaka yang hebat!"

__ADS_1


"Ya kau beruntung punya guru seperti yang mulia kosawa, jadilah murid yang baik dan berbakti padanya. Kita sebentar lagi akan memasuki era peperangan kembali setelah 6 bulan. Aku punya firasat kita akan berperang di bawah kepemimpinan kurusetra melawan Majapahit!" Ucap Prabu Raksa dengan suara berat.


__ADS_2