
Wijaya dan Maung Bodas pun duduk, " oh ya paman aku Wijaya dan ini sahabatku sekaligus saudaraku Maung Bodas," Wijaya sambil menunjuk dengan jempolnya pada Maung Bodas.
Rumor tentang kembalinya putri Shintadewi sudah pulang kembali ke istana Brabang Sari dan membawa anak serta Wijaya Kusuma
"Salam kenal, nama saya Jatmiko Lurai di desa Lembarawa ini. Ada apa gerangan pangeran datang kemari?" tanya jatmiko dengan wajah serius. Karna Jatmiko tahu sering kali para utusan datang ke desa Lembarawa pasti ada hal yang serius.
"Begini paman, aku ditugaskan oleh Kakek Prabu untuk memimpin dan mengurus desa ini. Dan ini surat perintah dan lencana tugasku!" Wijaya memberikan gulungan surat dan lencana kepada Jatmiko.
Jatmiko membuka gulungan surat dan membacanya sambil mengangguk sedikit, "baik aku akan menerimanya namun aku mempunyai 2 syarat. Pertama kau harus mengalahkanku, kedua kau harus menyelesaikan gagal panen karena siluman jauhettu rotta selalu merusak pertanian bahkan mencuri banyak ikan dari lumbung persediaan ikan kami hampir setiap hari. Jika pangeran bisa menyelesaikannya aku akan memberikan jabatan lurai padamu," tegas Jatmiko sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
"Baik, aku akan menerima misi ini," Wijaya menyambut tangan Jatmiko dengan senyum lebar.
"Tapi, gusti bukankah_," Maung Bodas menyela pembicaraan Jatmiko dan Wijaya.
"Sudah saudaraku, tidak apa-apa. Anggap saja aku sedang berlatih, sudah lama aku tidak bertarung," ucap Wijaya sambil mengupil.
"Dasar maniak bertarung baru 3 hari yang lalu bertarung dan melumpuhkan 100 saudaraku, bilang sudah lama," batin Maung Bodas.
"Ehem, ehem, ehem, aku mendengar suara dari batinmu, WOOOOOOYYYYY!" Teriak Wijaya di dalam batin Maung Bodas, mata Wijaya melirik tajam pada Maung Bodas.
"Maaf, maaf aku tak sengaja gusti, heheheh," Maung Bodas cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kapan kita akan bertarung, paman?" tanya Wijaya penuh dengan semangat
"Mari kita ke halaman yang luas, aku tidak mau merusak rumahku yang istimewa ini!" Jatmiko berjalan keluar kediamannya dengan wajah yang datar tapi penuh dengan aura yang menekan.
"Saudaraku, Maung Bodas kembalilah ke para penduduk Maung Bodas untuk membuat kamp dahulu, dan jelaskan kepada mereka tentang situasinya," titah Wijaya Kusuma.
"Baik yang mulia prabu, titah yang mulia akan segera hamba laksanakan!" ucap Maung Bodas dengan membungkuk hormat dan meninju telapak tangannya.
__ADS_1
Maung Bodas pun pergi meninggalkan Wijaya berdua dengan Jatmiko dengan perasaan khawatir terhadap tuannya itu. Bagaimana tidak kekuatan Jatmiko awalnya biasa saja, namun auranya tiba-tiba meningkat drastis mencapai tingkat Suryarama baharu. Kekuatan Maung Bodas sendiri masih di tingkat Suryarama asor, perbedaan kekuatan satu tingkat saja sangat jauh bagai langit dan bumi. Apalagi di tunjang oleh ajian pamungkas dan evolusi energi yang lebih tinggi maka Wijaya yang hanya di tahap Bintara Inggil pun bagai semut di hadapan Jatmiko.
"Aku percaya padamu tuan," gumam Maung Bodas sambil terus berjalan menuju pintu masuk desa Lembarawa di ikuti dua penjaga desa.
Di halam yang luas kediaman lurai Jatmiko
"Mari kita mulai, aku tak akan segan padamu pangeran, bersiaplah," ucap Jatmiko dengan menyeringai sinis, seolah-olah merendahkan Wijaya.
"Dengan senang hati paman, aku menerimanya!" ucap Wijaya yang sudah memasang kuda kuda dan mengaktifkan Wiel Aksanya namun dengan 3 tomoe yang berbeda, merah, jingga, dan kuning.
"Aku tak boleh memandang rendah lawan, aku aktifkan juga semua segel kepala naga, kali ini paman Jatmiko jauh lebih kuat daripada lawanku sebelumnya dan juga tingkatannya lebih tinggi dariku," batin Wijaya dengan tatapan yang tajam kepada Jatmiko.
"Ajian kanuragan bhandayuda : serat jiwa, tahap I chakra manggilingan, sayuta!" Jatmiko merapal ajian pamungkasnya, muncul otot-otot diseluruh tubuh Jatmiko dan bagian dada, lengan, paha, dan betis membesar. Kemudian Jatmiko menghilang dari pandangan Wijaya.
Wijaya tidak menyadari kehadiran Jatmiko, namun gerak reflek Wijaya sangat cakap.
"Woi, pangeran jangan kabur kau, baru juga satu pukulan masa mau kabur begitu saja!, jangan jadi pecundang oplet. Aku tak akan melepaskanmu!"
teriak keras jatmiko sambil terbang mengejar Wijaya.
Ketika Wijaya menoleh kebelakang ia tersentak kaget, " apa paman jatmiko bisa terbang, wow luar biasa. Jika aku bisa mengalahkannya aku minta paman jatmiko mengajariku haha," batin Wijaya sambil mengeluarkan wajah bodohnya dan terus melompati rumah penduduk Lembarawa.
Jatmiko menambah kecepatan terbangnya dan semakin mendekat, " Alah pangeran kampret oplet pecundang, mau terus lari kemana kau?."
"Aku tidak berlari paman, namun aku tak ingin merusak rumah penduduk Lembarawa, apa paman tega sedangkan situasi mereka seperti ini? " tanya Wijaya yang masih melompati atap rumah penduduk Lembarawa.
"Ya juga ya, kenapa aku malah bodoh seperti ini?, aku terlalu bersemangat rupanya, hahahaha," Jatmiko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal masih sembari terbang mengejar Wijaya Kusuma.
Setelah beberapa kejar-kejar seperti film india, akhirnya mereka sampai di tepi hutan perbatasan desa Soka.
__ADS_1
"Baiklah kita mulai saja, jangan kabur lagi, ajian serat jiwa tahap II, serat wadag brajawesi," tubuh kekar berotot besar milik Jatmiko mengecil sedikit namun urat ototnya semakin banyak, Aura hijau tebal mengelilingi tubuhnya.
"Sial! ini tingkat evolusi energi Qi, paman itu sangat kuat tapi kenapa para bandit dan siluman selalu jauhettu rotta selalu menggangu desa ini? "pikir Wijaya.
Wijaya meningkatkan kewaspadaanya. Dua ajian pamungkas Wijaya lepaskan, ajian baladewa Papalaka katawan Pamungkas dan ajian baladewa brabata naga. Wijaya melesat cepat duluan, Jatmiko masih terdiam dengan wajah datar namun mata yang tajam.
"BAM....," Wijaya terpundur 10 meter karena sabetan pukulan Jatmiko, Wijaya kembali melesat dengan tumpuan kakinya.
BAM...BAM...BAM...BAM..BAM...
Mereka berdua beradu ribuan gerakan jurus, Wijaya terkena tendangan Jatmiko sangat keras dan melayang di udara. Jatmiko melompat dengan tumpuan kakinya dan terbang cepat menghantam tubuh Wijaya.
"BAM....BAM...BAM...," Wijaya terpental semakin tinggi ke atas. Jatmiko terus melancarkan serangan tanpa habisnya, tubuh Wijaya menjadi samsak tinju.
Jatmiko mengangkat kakinya ke atas dan menghantamkannya pada perut Wijaya.
"BOOM...," Wijaya melesat ke bawah dengan cepat menabrak tanah.
"BOOOOOM.....," muncul retakan tanah dan terus membesar menjadi kawah sebesar 10 meter dengan kedalaman 3 meter, pepohonan jarak radius 500 meter semuanya tumbang oleh kekuatan Jatmiko. Mengerikan memang, sangat mengerikan namun apa daya Wijaya sudah habis seperti di bantai psikopat yang tiada belas kasihan.
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan. jika suka silahkan klik tombol favorit.
__ADS_1