KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
MATI JUGA MUSUH DALAM SELIMUT


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 2 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


"Cepat katakan! siapa yang menyuruh kalian?" Wijaya menyeringai licik dan menarik kerah baju salah satu pandai besi yang mematung. "Cuih, hahahaha, aku tak sudi mengatakannya pada bocah tengik macam dirimu, hahahha." Pandai besi itu meludah ke tanah sambil terkekeh.


Dengan penuh emosi, Wijaya melancarkan ajian sagisaga sewu mwazi tudla, menotok 321 titik aliran energi pada tubuh pandai besi yang masih mematung di depan Wijaya.


TSUK...TSUK...TSUK...


"Aku peringatkan sekali lagi, cepat katakan aku hitung mundur dari 10." Wijaya mengarahkan telapak tangannya pada dada pandai besi. Wijaya terus menghitung mundur, Pandai besi masih bersikeras diam.


"10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1. Ajian sagisaga zotsalira dewata (telapak dewa)!" Wijaya mengeluarkan energi chakra di telapak tangannya, lalu menekan dada pandai besi dengan sekali hentakan.


BOOM...


Tubuh pandai besi langsung hancur menjadi bubur darah. 199 pandai besi yang mematung bergidik ngeri, mukanya pucat pasi, ingin rasanya ambruk ke tanah namun tidak bisa karena tubuh mereka mematung.


Semua orang menelan salivanya dan berkeringat dingin, semua orang tak menyangka di balik wajah Wijaya yang sangat tampan dan murah tersenyum, tersimpan jiwa psikopat. "Ayo siapa lagi yang mau seperti itu! katakan siapa yang mengutus kalian?" Wijaya yang berteriak mendekati pandai besi lain yang masih mematung dengan wajah pucat pasi.


199 pandai besi di bagian barat dan timur halaman istana masih terdiam, mendengar teriakan pertanyaan Wijaya. "Baiklah jika kalian ingin terdiam selamanya." Wijaya melayang dengan ketinggian 20 meter dari permukaan tanah. "Ajian pancer agni, lanka paluja agni (hujan jarum api)!"

__ADS_1


Wijaya menangkupkan tangannya dengan keras penuh dengan kekesalan. Muncul ribuan jarum berwarna merah terang sepanjang 10 cm di atas langit mengarah ke arah timur dan barat.


"Sayuta (lepas)!" Wijaya berteriak sambil merentangkan kedua telapak tangannya ke arah timur dan barat, ribuan jarum langsung menyerbu ke arah pandai besi di barat dan timur halaman istana.


"Tunggu nak Wijaya tahan!" Teriak Prabu Surya yang berlari ke arah Wijaya. "Aku mengetahui tato itu,mereka adalah pembunuh gelap (ereti vrashes) yang sangat terkenal di kedua kekosawaan Siliwangi dan Majapahit. Nama organisasi mereka adalah Rah Tengger."


"Kalian semua akan menerima pembalasan atas perbuatan kalian, karena berani mengusik di wilayah kurusetra!" Wijaya merentangkan kedua tangan kembali dan melepaskan ribuan jarum api yang tadi ditahannya untuk menusuk 199 pandai besi dari organisasi rah tengger.


SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...JDAAR...JDARR...


199 tubuh pandai besi yang mematung terkena jarum api, suara erangan dan jeritan, serta pekikan seperti melodi kematian terdengar di halaman istana Dharma Ayu. Setelah 5 detik jarum api itu meledak menghancurkan tubuh 199 pandai besi menjadi bubur darah.


Wijaya terdiam beberapa saat lalu turun perlahan, membuat semua orang yang mengenalnya merasa asing dengan Wijaya yang sekarang. Mereka hanya mengetahui Wijaya adalah orang yang murah senyum, baik hati dan juga selalu menolong siapapun tanpa pamrih. Namun melihat kenyataan sekarang, Wijaya orang yang tak pandang bulu dan kejam terhadap musuh-musuhnya, seperti mempunyai kepribadian ganda.


"Tunggu kang mas." Teriak Asmarini dan Manggala serentak memanggil Wijaya, mereka berdua mengejar Wijaya yang sudah berjalan keluar pintu gerbang istana.


"Ada apa?" Wijaya membalikan badannya.


"Kami ingin ikut dengan kang mas Wijaya mencari Rah tengger."


"Baiklah, tapi nyi mas harus izin dahulu ke paman, bibi, kakek prabu dan nenek ratu dahulu. Dan pakailah baju ini." Ucap Wijaya sambil mengelus rambut Asmarini dengan lembut dan menyerahkan setelan baju pasukan Wasesa Jaya. Perlakuan lembut Wijaya Membuat Asmarini pipinya merah merona dan salah tingkah.


"Baiklah, kang mas." Asmarini dengan wajah memerah membalikan badan lalu pergi ke halama istana untuk meminta izin.

__ADS_1


"Temui aku dan Manggala di padang rumput desa Karangsong ya!" Teriak Wijaya sambil melambaikan tangan.


"Ya kang mas." Teriak Asmarini sambil melambaikan tangan juga.


Wijaya dan Manggala pergi ke padang rumput dekat desa Karangsong, merupakan desa terdekat yang berdekatan dengan kotaraja Dharma Ayu.


Setelah dua jam menunggu mereka rebahan di bawah pohon beringin yang sangat sejuk udaranya, "kang mas lama sekali nyi mas Asmarini. Bagaimana kalau kang mas melatihku untuk menyempurnakan ajian pancer banuku." Pinta Manggala.


"Baiklah tapi aku tak paham ajian pancer banu." Sangkal Wijaya, karena sedikit malas untuk melatih Manggala. Ya Wijaya sudah lama tak bersantai, dalam hatinya ingin sekali bersantai.


Manggala mengeluarkan kitab aigua rumi dari dalam baju yang ia simpan di belakang pinggangnya. "Coba kang mas lihat kitab ini, mungkin kang mas bisa mempelajarinya."


Wijaya yang sedang rebahan, menyandarkan kepalanga pada kedua lipatan tangan, dan memejamkan matanya dengan nada malas, "hoaaaam, apa kamu sudah gila mau menyerahkan kitab berhargamu itu padaku? dan menyuruhku mempelajarinya?"


"Tidak kang mas. Anggap saja aku memberikan kitab ini adalah upah karna kang mas telah memperbaiki pusaka pasopatiku. Dan juga kang mas telah banyak menolongku." Pinta Manggala sambil menyerahkan kitab aigua rumi pada Wijaya.


"Baiklah, kitab itu aku hanya akan melihatnya saja. Kitab itu sangat berharga untukmu, aku tak pantas memilikinya." Tolak Wijaya lalu mengambil kitab aigua rumi (air keabadian), dari tangan Manggala dan melihat-lihat setiap halaman secara cepat.


KRAB...


"Aku sudah selesai melihatnya, ini aku berikan padamu lagi." Wijaya kembali merebahkan badanya dan bersandar pada lipatan tangannya. "Lalu apa yang ingin kau pelajari dari kitab itu?, aku sudah menyerap semua isi kitab itu."


"Kang mas suka bercanda ya. Mana mungkin hanya melihat-lihat sebentar bisa mengajariku, hahahaha." Manggala merasa lucu dengan tingkah Wijaya dan tertawa terbahak-bahak sampai-sampai memegangi perutnya.

__ADS_1


"Oh rupanya kau meremehkan kang mas mu ini ya!" Wijaya menyeringai licik lalu mengelitiki tubuh Manggala sampai puas. "Ampun kang mas, ampun, hahahaaha." Manggala lemas karena dikelitiki Wijaya hingga tertawa mengeluarkan air mata.


__ADS_2