KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PEREBUTAN WILAYAH BAGIAN 1 MEMPERTAHANKAN IBU PERTIWI


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 1 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf juga jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


"Semua prajurit evakuasi dan ungsikan rakyat dahulu! kita tak boleh ada banyak korban yang berjatuhan!" Terika Prabu Raksa.


"Sendiko gusti prabu!" Ucap Patih Wirabumi sambil membungkuk hormat. Semua penonton berhamburan keluar, Wijaya terbang melesat cepat ke arah Mahapatih Suryadaksa dan menghantamkan beberapa pukulan.


BANG...BANG...BANG...


Suryadaksa berhasil menangkis pukulan Wijaya. Gelombang kejut di udara menghempaskan awan hitam yang menggumpal karena pukulan Suryadaksa dan Wijaya beradu.


"Hanya segitu saja kemampuanmu bocah tengik!" Umpat Suryadaksa lalu memukul Wijaya dengan tendangan sangat cepat. Wijaya hanya memringkan badan dan kepala untuk menghindarinya.


"Pertarungan ini membosankan!" Ucap Wijaya dengan raut muka malas lalu menangkap tendangan Suryadaksa. "Rasakan ini!" Wijaya menendang perut Suryadaksa lalu terpental di udara. Wijaya tubuhnya berkedip lalu muncul di depan Suryadaksa dan menghantam perut Suryadaksa dengan tendangan, Suryadaksa terpental sangat jauh sampai ke hutan di luar kotaraja Kediri.


BANG....SHUA...BANG...SHUA...BANG...SHUA..BOOM...


"Guhak!" Suryadaksa menghantam beberapa pohon lalu berhenti setelah menabrak dinding gua dan memuntahkan darah. "Aaaaaaaaargh! ajian pancer agni, naga lihasa (otot naga)!" Suryadaksa meraung keras lalu merapal ajiannya. Tubuhnya diselimuti aura berwarna merah yang berkobar-kobar, pepohonan di sekitarnya yang terkena gelombang kejut langsung terbakar, otot-otot tubunya menonjol dengan warna merah, kepala Suryadaksa muncul tanduk naga cina dan memegang bedhama vajra (trisula kembar).


Suryadaksa terbang melesat cepat dan menusuk Wijaya dengan vajra miliknya. Wijaya mengeluarkan raivaja untuk menangkis tusukan vajra Suraydaksa.


TRANG...TRANG...TRANG...


Suryadaksa terus menusuk dan menebas Wijaya dengan sangat cepat. Wijaya tak mampu mengimbangi gerakan Suryadaksa dan akhirnya tertebas ujung vajra Suryadaksa. Tubuh Wijaya terkena beberapa luka sayatan, darah menetes dari luka sayatab Wijaya.


SYAT...SYAT...SYAT....

__ADS_1


"Haahahaha, hanya itu kemampuanmu pewaris mahkota kurusetra tak sehebat namanya, cih!" Cibir Suryadaksa lalu meludah. "Ajian bedhama vajra, damastrakunta (teknik senjata trisula taring bulan)!" Trisula Suryadakda diselimuti aura merah hitam lalu menebas secara diagonal secara menyilang. Siluet berbentuk huruf x berwarna hitam pekat melesat ke arah Wijaya.


SLASH...SHUA....BOOM...


Wijaya terkena siluet berbentuk huruf x dan terpental ke permukaan tanah, tubuhnya berlumuran darah. "Hahahaha, permainan yang menarik mahapatih. Aku sangat senang!" Wijaya menyeringai jahat lalu tertawa. "Ajian bedhama braka, sahasra damastra (teknik senjata katana, seribu taring)!"


CWUSZH...


Tubuh Wijaya yang berlumuran darah berkedip lalu muncul di belakang Suryadaksa dan menebasnya dengan sangat cepat secara membabi buta. Beberapa kalibSuryadaksa berhasil menangkis tebasan raivaja Wijaya dengan vajra miliknya. "Aku akan mencincangmu menjadi bubur daging, ajian pancer bhayangkara, sahasra pala (seribu pedang)!"


TRANG...SLASH...TRANG..SLASH...


Muncul ribuan siluet pedang pedang berwarna hitam lalu melesat ke arah Suryadaksa. "Kenapa kekuatanya tiba-tiba langsung meningkat seperti itu?" Batin Suryadaksa sambil menangkis ribuan siluet pedang yang menusuk-nusuk dirinya. "Aaaaargh! ajian pancer agni, agni(perisai api)!" Tubuh Suryadaksa diselimuti perisai berbentuk bola api.


TRANG...TRANG...TRANG...


Siluet ribuan pedang api tak mampu menembus perisai api milik Suryadaksa. Wijaya kini melesat untuk menebas perisai api dengan ajian bedhama, damastra naga (cakar naga).


TRANG...TRANG...TRANG...


"Ayo Wijaya berpikir-berpikir? perisai itu sangat kuat. Tunggu itu adalah pancer agni kelemahanhya adalah pancer banu, aku akan mencobanya. "Batin Wijaya lalu merapal ajian. "Ajian pancer banu, bola banu (elemen air, bola air)!" Wijaya menembakan bola air dengan jarak 2 meter ke arah perisai api.


SWUSHH....BOOOOM....


Terjadi ledakan membuat kepulan asap menghalangi pandangan, uap kabut menyebar dengan radius 50 meter di udara.


Sementara itu 4 siluman Wijaya mengamuk diperbatasan wilayah perbatasan Kediri dan Singosari membantai semua prajurit Majapahit yang ada dijalur serangnya. Kedua belah pihak banyak yang tewas, semua rakyat mengungsi ke perbatasan kerajaan Mataram.


"Ajian pancer agni, damastra agni (cakar api)!" Cakar Maung Bodas diselimuti api menebas setiap prajurit Majapahit dengan gagah berani.

__ADS_1


Pekikan dan erangan menggema di medan perang. "Jangan menyerah maju terus serang!" Teriak Resi Kuncung Putih.


"Ajian zamankhwala, shuma zamankhwala (teknik penyembuhan, penyembuhan masive)!" Teriak Nyai Situ Bagendit, semua prajurit yang terluka kembali sembuh dan staminanya meningkat.


"Gawat! mereka punya bawana untuk mendukung pasukan. Jika terus begini akan terdesak, aku akan menghalanginya. " Batin Karbara Sayuta lalu melesat ke arah Nyai Situ Bagendit. "Ajian pancer bantala, surakunta (taring berlian)!" Karbara menginjakan kedua kaki depannya ke tanah. Muncul ribuan kristal runcing di segala arah dengan radius 1 kilometer dari permukaan tanah.


KRAAK...KRAK..KRAK..


"Aaaaaaakh!" Banyak prajurit Majapahit tertusuk hingga tewas, Nyai Situ Bagendit melompat-lompat untuk menghindari kristal runcing yang menusuknya.


SHUA...SHUA...SHUA...


"Hihihihi,dasar anjing kurap hanya segitu kemampuanmu! ajian pancer agni, bola agni!" Situ Bagendit menembakan bola api dari mulutnya ke arah Karbara Sayuta dan mengenainya.


SWUUSH...BOOOM...


"Hahaha, sungguh menggelikan! serangan bola itu hanya seperi bola karet tak mempan padaku!" Ucap Karbara Sayuta sambil menangkis bola api dengan ekornya. "Ajian pancer bantala, lembu sura!"


Karbara Sayuta berubah menjadi bentuk manusia kepalan tangannya berubah menjadi berlian dan melesat maju menghantamkan pukulan ke dada Situ Bagendit.


BANG...SHUAA..KRAK...KRAK...KRAK...BOOM....


Situ Bagendit terpental dan menabrak berlian runcing ajian damastra Karbara lalu jatuh menabrak seblungan gondorukem yang sudah di kuasai prajurit Majapahit hingga membuatnya meledak. "Guhak!" Situ Bagendit memuntahkan banyak darah dari mulutnya. "Siluman kampret bisa membuatku luka parah seperti ini! ajian zamankhwala!" Tubuh Situ Bagendit di selimuti aura berwarna hijau yang membuat tubuhnya kembali sembuh seperti semula.


"Sungguh merepotkan melawan nenek tua yang selalu menyembuhkan diri. Aku harus mengurungnya biar nenek tua itu tidak berkeliaran, hmm!" Karbara mendengus kesal lalu berubah kembali menjadi bentuk siluman serigala berkepala tiga lagi.


Karbara terus menempel terus pada Situ Bagendit untuk mengunci pergerakannya, agar jangan sampai mengeluarkan ajiannya. Karbara terus menyerang Situ bagendit secara membabi buta menebas, mencakar dan menusuk membuat Situ Bagendit terpojok.


"Sial! dia tahu kalau aku pendekar tipe erangan jarak jauh. Dia terus menyerangku dengan jarak dekat, kalau terus begini aku bisa mati di ***** olehnya!" Batin Situ Bagendit dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


Bleta Bora menyerang prajurit Majapahit dari udara dengan ajian lanka wisa (teknik jarum beracun) membuat tubuh prajurit Majapahit yang terkena jarum Bleta Bora langsung membusuk. "Rasakan itu rasakan!" Ucap Bleta Bora dengan tatapan mata psikopat yang terus menembakan jarum beracun.


__ADS_2