
Dirgajaya dalam keadaan shock mencoba bangkit dan mencerna apa yang terjadi. Dirga jaya tidak mengetahui jika pemuda di depannya adalah pangeran Wijaya Kusuma dari istana Brabang Sari.
"S-s-siapa kau?" tanya Dirgajaya dengan nada ketakutan.
Wijaya beberapa saat diam membisu, dengan sorot buwana aksa yang sangat tajam bagai melihat jurang tanpa dasar.
"A-a-apa yang kau inginkan?" tanya lagi Dirgajaya yang masih ketakutan.
"Aku tidak menginginkan apa-apa hanya menginginkan satu hal yaitu nyawamu," teriak Wijaya menyeringai jahat.
Wijaya hilang dari pandangan Dirgajaya lalu muncul tepat di muka Dirgajaya, lalu melepaskan ajian sagisaga sewu mwazi tudla pada tubuh Dirgajaya dengan sangat cepat. 321 titik energi pada tubuh Dirgajaya di totok sehingga Dirgajaya tidak bisa bergerak dan tak bisa melepaskan ajian, tubuhnya pun lumpuh seketika.
BRUGH...
Tubuh Dirgajaya terlentang tak berdaya di lantai, mulutnya pun terkunci. Wijaya mengeluarkan berdeva agni di ripela aksa tangan kirinya dan melemparnya ke arah tubuh trio naria astuci serta Dirgajaya.
BLAR...KRATAK...KRATAK...
Tubuh Trio naria astuci dan Dirgajaya terbakar menjadi abu seketika, senjata mereka pun meleleh jadi cairan panas.
Wijaya tersentak kaget, "ayayayayay, padahal senjata bandit itu aku menginginkannya. ah sial salah mengeluarkan api, hahahahaha," Wijaya menggaruk kepalanya dan tertawa dengan raut muka bodoh.
Wijaya mengambil semua senjata yang berada di kamar rahasia Trio naria astuci. Totalnya ada 1000 senjata dengan 6 jenis amatia berbeda-beda, semua senjata Wijaya simpan di ripela aksa telapak tangan kanannya.
SYUUUT....SYUUUT...SYUUUT...
"Sayang sekali senjata itu meleleh menjadi cairan padahal senjata itu keren, tunggu!. Aha! aku ada ide, bagaimana aku mencoba membuat senjataku sendiri," gumam Wijaya Kusuma.
Di kamar rahasia hanya ada Wijaya seorang, penjaga pun tidak mendengar suara apapun dari luar karna kamar rahasia sangat kedap suara.
3 cairan kameya milik Trio naria astuci dan cairan katana milik Dirgajaya, Wijaya campur menjadi satu dengan membuat semua cairan itu melayang dan membakarnya kembali menjadi cairan berbentuk bulat.
Wijaya mengeluarkan batu bintang bharatayudha sebesar bola basebal dari ripela aksa telapak tangannya, sementara tangan kirinya mengatur suhu cairan bulat di ripela aksa telapak tangan kiri dengan terus menyalakan berdheva agni.
Wijaya mengontrol cairan bulat lalu mengeluarkannya dari berdeva agni. Wijaya memasukan potongan batu bintang bharatayudha ke berdeva agni dan melelehkannya.
__ADS_1
Batu bintang Bharatayudha sangat keras, hingga Qi milik Wijaya tersisa 2% karna sebelumnya Wijaya menggunakan buwana aksa menguras Qi 10%, Wijaya melanjutkan dengan energi Chi. Kemudian batu bintang Bharatayudha yang sudah meleleh dicampur dengan cairan bulat.
Pencampuran dua bahan yang berbeda ini pun tidak mudah, chi Wijaya langsung turun drastis tersisa 1% . Wijaya menggunakan ajian sagisaga, pagporma untuk membentuk formasi penempa dengan energi mana. Energi mananya langsung berkurang drastis 50% hanya tersisa 10%, ajian sagisaga jika menggunakan selain energi Qi maka akan cepat terkuras habis.
Cairan bulat bekas senjata Trio naria astuci dan Dirgajaya berhasil disatukan dengan batu bintang bharatayudha, Wijaya membayangkan pedang ninjato yaitu sejenis pedang khusus untuk ninja atau para hajdut di level ammatia samura. panjang seperti katana namun tidak melengkung seperti katana, pedang katana berbentuk lurus.
Formasi pembentukan ninjato sudah muncul di depan Wijaya, lalu menuangkan cairan senjata pada formasi.
CES...
Cairan sudah membentuk pola pedang ninjato, senjata para samura di sebut Braza. Wijaya menggigit jarinya, darahnya menetes. Lalu meneteskannya pada cairan braza, braza mulai terbentuk dengan sinar keemasan.
Wijaya lalu menangkupkan tangannya, "bukakhunda." Formasi braza tertutup, cairan mulai memadat menjadi pedang.
Kelebihan ajian sagisaga pagporma ketika senjata sudah terbentuk, maka sudah lengkap dengan asesoris lainya. Misalkan pembentukan formasi pedang maka pedang tersebut sudah ada gagang dan sarung pedangnya sesuai dengan imajinasi pengguna.
Setelah dua jam menunggu lama, akhirnya braza sudah berhasil di buat.
CES...
Kepulan asap keluar dari sela-sela formasi, lalu formasi terbuka dan lenyap perlahan. Braza melayang dengan aura sinar keemasan yang sangat terang.
TAP...
Wijaya memegang braza yang melayang, batu mustika maung loka bereaksi mengeluarkan sinarnya yang berwarna merah terang. Muncul motif harimau di gagang braza yang berwarna emas dan pangkal sarung braza berwarna emas juga. Warna gagang dansl sarung braza berwarna hitam.
BOOOOOM....
Bunyi ledakan sangat besar menghancurkan kawasan pusat kota. Pusat kota dengan jarak radius 50 meter rata dengan tanah. Semua yang berada di sana tewas seketika.
Pelayan dan penjaga toko trio naria astuci semuanya tewas termasuk tokonya luluh lantak rata dengan tanah hanya tersisa Wijaya yang mengenakan jubah kosawa kurusetra dan memegang braza.
Semua penduduk kota yang mendengar suara ledakan berhamburan lari keluar dari pusat kota. Pemimpin kota yang mendengar suara ledakan pun keluar dari kediamannya, dan mencari asal suara ledakan itu.
Letak Kediaman pemimpin kota sekelas bangsawan adipati itu, berdekatan dengan hutan urip mokswa dan juga berkomplot dengan bandit Dirgacitra membangkang terhadap kerajaan Brabang Sari.
__ADS_1
"Balakosawa Sumitra dan baladika adilaga Pokra cari sumber suara ledakan itu!, pastikan tangkap pelakunya segera!, ini pasti penyerangan dari musuh kita!" perintah pemimpin kota bernama Danurdara di tingkatan dendawa inggil beramatia dewata adilaga.
"Sendiko gusti, hamba segera laksanakan!" ucap Pokra dan Sumitra serentak.
Mereka berdua membawa 100 pasukan menuju tempat Wijaya yang sudah luluh lantak karena efek penyatuan energi batu mustika maung loka dengan braza milik Wijaya.
TUKRAK...TUKRAK...TUKRAK...
100 pasukan berkuda menuju Wijaya berada dipimpin Pokra dan Sumitra. Sedangkan Wijaya sambil terbengong dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal serta raut muka bodohnya,
"ah, lagi-lagi keceplosan, hahahaha."
"Hebat juga braza ini aku beri nama apa ya? tunggu! aku lihat dulu jenis senjata tingkat apa?, ajian sagisaga, pagila sabutanga," ucap Wijaya merapal ajian sagisaga dan mengaktifkan maputi aksa untuk melihat tingkatan senjata yang di pegangnya.
*Apa! ini, ini, ini tingkat senjata Ajisaka, gilaaaaa!, aku memang super hebat dan super jenius, hahahaha. Baru pertama kali membuat senjata sudah di tahap Ajisaka!" teriak Wijaya dengan raut muka terkejut dan mengusap-usap mukanya.
Di kekosawaan Siliwangi dan Majapahit senjata tertinggi hanya di tingkat Konta itu pun yang memiliki hanya Kosawa Kertarajasa Jayawardhana dan Kosawa Sri Baduga Maharaja.
Wijaya melepas mahkota kurusetra, pakaian wijaya kembali seperti semula dengan set pakaian ninja anbu, lalu Wijaya memakai kembali topeng bermotif itik.
Wijaya terkesiap setelah mengedarkan pandangannya ada 100 pasukan kuda menuju dirinya, "ayayayay, mengapa masalah selalu menghampiriku, sial. Baiklah aku akan mencoba braza ini, dan merekalah sebagai alat percobaanya, hahahahah. Tapi braza ini aku beri nama apa ya?" ucap Wijaya sambil mengelus dagunya.
"Hmmm, aha, taiga maung loka. Wow keren sekali, hahahaha," Wijaya terkekeh dan dan melompat-lompat kegirangan.
**TUKRAK...TUKRAK...TUKRAK...
Terima kasih kak pak eko eko yang telah memberikan hadiah dan kak nurul fuud yang selalu setia memberikan like
Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.