KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PERANG GERILYA BAGIAN 1


__ADS_3

Maung Bodas sudah berangkat menuju Kerajaan Dharm Ayu untuk mengirimkan 100 ton ikan yang dipesan oleh Restoran Kala Asta. Wijaya memberitahu Maung Bodas melalui telepati untuk menemuinya di Istana Dharma Ayu jika sudah sampai.


Perjalanan Maung Bodas dan para pasukan Maung Lodaya kali ini lebih cepat sebelumnya, daripada Wijaya pertama kali melewati jalur perdagangan antara Kadipaten Maung Bahari dan Kerajaan Dharm Ayu. Tentu saja alasan utamanya adalah bandit Agrariyin, namun sekarang semua jalur perdagangan ke arah barat sampai Kerajaan Dharma Ayu telah aman dari gangguan para bandit.


Manggala yang bosan menunggu Wijaya akhirnya pergi berlatih di tepi pantai karangsong, bagian tepi pantai yang lain dari tepi pantai di Kerajaan Dharma Ayu.


Pantai yang berpasir putih, pepohon bakau rimbun yang hijau dan air laut yang begitu biru bening, sampai ikan yang di dalamnya terlihat jelas. Manggala bersemedi di atas permukaan batu karang selama 1 jam.


Lalu mengambil pusaka pasopati di samping dirinya, Manggala bingung bagaimana menggunakan pasopati sedangkan biasanya ia menggunakan anak panah khusus untuk pusaka pasopati. Namun sisa anak panahnya Manggala tinggalkan di Kadipaten Bakaheuni.


Manggala yang dilanda kebingungan coba menarik busur panah, ternyata muncul anak panah ditengah busur berwarna biru pekat. Energi prana milik Manggala mulai berkurang meskipun hanya 0,01%.


"Eh ternyata begitu caranya. Kenapa kak Wijaya tak memberitahukannya padaku?" Pikir Manggala Saputea. "Ajian pancer banu, nuolia paluja (hujan panah)" Manggala merapal ajiannya dan melepaskan anak panah yang terbuat dari energi prana ke atas langit.


SHUA...PRANG...SHAT...SHAT..SHAT...


Dari satu anak panah kini turun ribuan anak panah, konsumsi prananya juga cukup besar 10% setara dengan 25% energi chakra. Ribuan anak panah menghujam ke tepi pantai sampai ke tengah laut, sangat banyak memang.


Wijaya yang sedang mengawasi dari atas dengan terbang melayang, tidak disadari keberadaanya oleh Manggala. "Pantas dia menjadi adipati Kadipaten Bakaheuni bakatnya luar biasa!" Gumam Wijaya yang sudah memakai set seragam ereti vrashes dan topeng motif kelinci, lalu melesat ke arah Manggala.


SHUA...DOOM...


Jarak radius 5 meter sensor Manggala menyadari adanya pergerakan dari atas langit dan berhasil menghindari pukulan Wijaya. Manggala terkseiap, "apa maumu dan apa yang kau inginkan? sial! berani-beraninya kau menyerangku!" Tanya Manggal dengan raut wajah yang kesal lalu menembakan anak panah dari Nuolia Pasopati.

__ADS_1


SHUA..SHUA..SHUA...


Tembakan nuolia Manggala sangat cepat dan akurat, tubuh Wijaya banyak yang tergores namun hanya lecet kulitnya saja. Meskipun Wijaya menghindari serangan tembakan Manggala, Wijaya kalah cepat.


Wijaya melepas topengnya dan berteriak, "woy kau ingin membunuhku ya!" Manggala yang melihat ternyata itu Wijaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "ah maaf kak! aku pikir itu bukan kau tapi pembunuh dari kekosawaan Sriwijaya. Lagian kak Wijaya juga siapa suruh menyerangku tiba-tiba dengan pukulan sekeras itu, hmm!"


Wijaya menggunakan ajian jagat saksana, kusuma jiwa, untuk menyembuhkan semua luka ditubuhnya akibat terkena serangan Nuolia Manggala. Tubuh Wijaya diselimuti aura hijau semua lukanya langsung lenyap tak berbekas.


"Kak Wijaya juga bisa ajian zamankhwala?" Tanya Manggala. "Ya benar aku bisa menggunakannya. Apa kau mau bisa juga?" Tanya Wijaya balik.


"Ah tidak kak! aku tidak bisa, namun aku juga punya ajian penyembuhan dari kitab pancer banu aigua rumi. Namanya ajian pancer banu amreta sari, dengan ajian ini aku tidak perlu takut terluka dan terus membantai musuh, meskipun aku terkena banyak serangan stamina dan tubuhku akan meregenerasi kesehatanku secara automatis." Jelas Manggala Saputra.


"Kamu bersiaplah kita berdua akan pergi ke medan perang sekarang! aku membutuhkanmu untuk merubah masa depan" pinta Wijaya Kusuma memberikan seragam set ereti vrashes dan topeng motif kelinci.


Semua pasukan Kerajaan Dharma Ayu sudah berada di perbatasan antara Kerajaan Dharma ayu dan Kerajaan Batavia di sebelah barat, serta perbatasan antara Kerajaan Bantani di sebelah selatan. Kedua perbatasan di batasi tanah yang tandus seperti gurun sahara.


Mereka menyamar memakai pakaian petani dan nelayan khas dengan topi caping bambu dengan membawa kereta kuda yang menarik gerobak, berisikan senjata yang di beli dari Wijaya. Senjata itu ditaruh di dalam kotak yang tutupi karung beras, padahal isinya bukan karung beras tapi bola rajahtava.


Ya Wijaya memberikan bonus tambahan senjata yaitu bola rajahtava asal semua pasukan Kerjaan Dharma Ayu dibawa komandonya demi melindungi Kerajaan Dharma Ayu. Jika suatu saat nanti semua kerajaan di bawah kekosawaan Siliwangi menyerang balik, maka Wijaya sengaja membuat dirinya menjadi kambing hitam.


Wijaya juga meminta sebuah prajurit yang dibawanya mengenakan pakain set ereti vrashes dengan corak awan merah dan topeng motif kelinci menamakan pasukannya Wasesa jaya (wewenang kejayaan).


1000 pasukan lemah yang Wijaya minta, tapi hanya kurun waktu dua jam 1000 pasukan yang ditingkatan jagatama asor berubah menjadi tingkatan dendawa inggil. Wijaya memberikan semua energinya dari tahap chakra 100%, mana kini setelah menyelamatkan Manggala menjadi 100%, chi 60%, Qi 40%, dan reiki 20%.

__ADS_1


Untuk sementara waktu sampai 7 hari Wijaya tidak bisa menggunakan kekuatan matanya. Wijaya berhasil membuat ajian terlarang dengan buwana aksa yaitu ajian aksamala baureksa, tripitaka. Dengan seluruh energi di dalam tubuh Wijaya untuk meningkatkan 1000 pasukan naik dua tahap sekaligus.


Wijaya dan Manggala masih melayang tinggi di atas ketinggian 1000 meter, ternyata Mandala juga bisa mengaktifkan reinka aksa namun hanya di tahap pertama. Dengan reinka aksa milik Manggala ia bisa melihat dengan jelas target yang sangat jauh bahkan sampai 10 kilometer.


Sebagai seorang yang beramatia balakosawa dengan dan bersenjatakan Nuolia tentu sangat penting mempunyai kata reinka aksa. Manggala sebenarnya tidak melayang terbang tapi menggunakan ajian pancer banu, kastepohja (pijakan embun). Pengguna bisa membuat air embun menjadi pijakan seperti kaca yang bening namun sekuat kaca.


"Aku akan turun, panah pasopati sudah aku buat sangat hebat melebihi kakek Empu bisa menyesuaikan semua pancer yang menggunakannya dan ini 100 bola rajahtava untuk membantumu meledakan pasukan keparat itu. Jangan main-main 1 bola bisa membunuh 50 orang!" Wijaya menyerahkan kantung yang berisi 100 bola rajahtava lalu melayang turun perlahan.


"Gluk," Manggala menelan salivanya, "50 orang dalam satu kali lempar. Benar-benar edan, bagaimana kak Wijaya bisa membuat benda sehebat ini!" Manggala memutar-mutar bola rajahtava yang ukuranya sebesar kepalan tangan dan berwarna merah gelap.


Manggala kemudian mengambil Pasopati dari belakang punggungnya dan siap membidik jarak jauh. Terlihat banyak kamp pasukan di perbatasan kedua kerajaan. Total mereka sangat banyak 30.000 pasukan Kerajaan Batavia dan 20.000 pasukan Kerajaan Bantani, lawan yang tidak sepadan melawan 1002 pasukan Wasesa Jaya.


"Arahkan teropongnya ke perbatasan Dharma Ayu!" pinta Senopati Duradaksa dari kerajaan Batavia. "Benar-benar bodoh Prabu Surya masa mengirim 1000 petani, hahahaha!" ledek Senopati Duradaksa sambil tertawa terpingkal-pingkal. "Sudah tembak saja dengan panah pasukan tidak berguna itu, Prabu Surya sudah putus asa! akhirnya mengirim petani, hahahaha!" Tambah balakosawa Brunta. Semua prajurit tertawa mendengar ocehan balakosawa Brunta


********Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong**********.

__ADS_1


__ADS_2