KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
PERANG GERILYA BAGIAN 6


__ADS_3

Jangan lupa berikan like, koment, vote dan gift jika suka setelah membaca.


Selamat menikmati, mohon dukung karya author dengan memberikan kritik dan saran yang membangun agar karya author bisa memberikan kepuasan.


Kondisi pasukan Wasesa Jaya sekarang, sedang dihujani anak panah yang dilesatkan dari dalam dinding pembatas kotaraja Lebak, oleh pasukan kerajaan Bantani.


Nehan menganggukan kepala, sebagai tanda isyarat ke pasukan Wasesa Jaya, yang berada di hadapan Nehan untuk melemparkan bola tahmea ke atas menara pengintai.


10 prajurit Wasesa Jaya melempar bola tahmea ke arah 4 menara pengintai, sambil berguling menghindari lesatan anak panah yang dilontarkan bargawa (pemanah) menara pengintai. Bargawa terus melontarkan anak panahnya tanpa henti membuat pasukan Wasesa Jaya kesulitan untuk menyerang.


SHUA...SHUA..SHUA...BOOB...


10 prajurit lija(petarung) berhasil melemparkan 10 bola tahmea tepat ke menara pengintai. Semua bargawa yang berjaga di empat menara pengintai tidak bisa bergerak karena terkena ledakan bom tahmea yang menempel pada tubuh mereka. Efek lengket bom tahmea tidak bisa dilepas selama satu jam.


20 Hajdut (ninja) dan 30 bargawa sura pasukan Wasesa jaya, segera melompat dan melemparkan kunai ke arah empat menara pengintai. Kunai yang dilemparkan tepat mengenai kening beberapa bargawa yang yang tengah lumpuh terkena bom tahmea.


SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...


Semua bargawa di menara pengintai tewas, 20 hajdut melempar tali ke atas dinding pembatas kotaraja Lebak. Untuk masuk ke dalam dengan memanjat tali yang sudah terpasang di atas dinding pembatas.


100 pasukan baladika adilaga dan 100 ksatria binting bersiap menunggangi kuda yang berada di dalam hutan dekat pintu gerbang kota raja, sementara bersembunyi dari serangan anak panah bargawa yang berada di menara pengintai.


100 lija (pendekar/petarung/fighter) bersiap melempar bola rajahtava menunggu aba-aba pasukan hajdut yang berada di atas untuk membuka pintu gerbang kotaraja. Namun 1000 pasukan bargawa kerajaan Bantani sudah bersiap untuk menembakan nuolia dari balik dinding pembatas.

__ADS_1


"Cepat lembar bola rajahtava sekuat-kuatnya ke balik dinding pembatas sebelum mereka menghujani kita ribuan anak panah!" teriak salah satu pemimpin pasukan hajdut bernama Kombayana. Para lija yang berada dibalik luar dinding dengan tenaga penuh melempar puluhan bom rajahtava.


SHUA...BOOM...BOOM...


1000 pasukan bargawa dan 500 ksatria binting kerajaan Bantani yang berada di balik dinding dalam kotaraja langsung mati jadi debu, terkena ledakan bola rajahtava.


"Apa!" Kombayana dan 19 hajdut yang berada di atas dinding pembatas kotaraja terkesiap dengan mulut menganga sampai-sampai akan menjatuhkan rahangnya, karena melihat efek ledakan bola rajahtava begitu sangat dahsyat. Beberapa dari mereka wajahnya bahkan pucat pasi karena membayangkan jika sampai terkena ledakan bolah rajahtava pasti hancur jadi debu.


3500 bala bantuan pasukan kerajaan Bantani yang sedang mendekat langsung mundur, ketika melihat semua pasukan kerajaan Bantani tewas seketika menjadi debu. Bahkan rumah penduduk rusak parah dan 5000 penduduk yang tak berdosa banyak yang mati terkena ledakan. "Cepat mundur kita tak mungkin untuk menyerang, musuh terlalu kuat!"


Kombayana dan 19 hajdut turun dari atas dinding untuk membuka pintu gerbang kotaraja, Nehan memberi isyarat untuk segera menyerang. "Serang! biarkan penduduk yang tak berdosa, bantai para prajurit kerajaan Bantani tanpa ampun!" Teriak Nehan dengan raut semangat membara.


Pasukan berkuda baladika adilaga bersenjatakan buntar jagala (tombak dan pedang dengan gagang tombak) dan ksatria binting bersenjatakan kilopi (pedang dan perisai), dengan gagah menunggangi kuda berlari cepat masuk ke dalam kotaraja.


TRANG...TRING...TRANG...TRING...


Dentingan pedang, tombak dan perisai beradu di tengah kotaraja, semua penduduk ketakutan dan masuk ke rumah masing-masing. Aktivitas pasar pun terhenti semua penduduk lari tunggang langgang karena ketakutan. Banyak prajurit kerajaan Bantani yang terkena bola kuitava, mereka tidak fokus terhadap serangan pasukan Wasesa Jaya. Akhirnya dimanfaatkan oleh pasukan baladika adilaga dan ksatria binting Wasesa Jaya untuk menebas leher mereka.


SLASH...SLASH...SLASH...


100 pasukan kepalanya terlepas dari badannya, dan terus bertambah karena strategi serta perbedaan kekuatan. Pasukan kerajaan Bantani di tahap Jagatama inggil sedangkan Wasesa Jaya tentu saja di tahap dendawa inggil.


Dalam waktu 10 menit 1000 pasukan kerajaan Bantani mengenaskan masih tersisa 2500 prajurit, "prajurit bergawa mundur ke dalam benteng istana Bantani cepat!" perintah pangeran Natakusuma dengan berteriak.

__ADS_1


Nehan tidak membiarkan mereka untuk mundur, "Lempar bola rajahtava! jangan biarkan mereka lolos!" Nehan berteriak kepada 20 prajurit lija. Mereka melempar 20 bola rajahtava ke arah 1000 pasukan bergawa kerajaan Bantani.


SHUA...BOOM...BOOM...


1500 prajurit kerajaan Bantani mati jadi debu. Semua rumah penduduk pun hancur luluh lantak, pasar rata dengan tanah dan penduduk yang berada di dalam rumah juga, ikut mati hancut jadi debu.


100 hajdut yang di pimpin Kombayana merangsak masuk istana Bantani melompati atap rumah penduduk dengan lincahnya, kakinya begitu ringan seperti kapas yang terbang diterpa angin.


Banyak parajurit Wasesa Jaya terluka juga terkena sabetan dan tebasan prajurit kerajaan Bantani. Pasukan Baladika adilaga tersisa 20 orang, 80 orang terluka parah, pasukan ksatria binting hanya tersisa 10 orang, 90 orang terluka sedang dan pasukan lija masih tersisa 50 orang termasuk 50 orang berah adilaga.


Pasukan Bargawa terus melesatkan anak panah dari atas dinding pembatas kotaraja. Kali ini mereka melepaskan bola tahmea yang diikat ke anak panah, untuk memperlambat gerakan pasukan kerajaan Bantani yang masih tersisa.


Kombayana dan pasukan hajdutnya tengah bertarung dengan Prabu Bagaskara yang dilindungi 100 prajurit ksatria binting, sedangkan Nehan bertarung dengan pangeran Natakusuma yang memimpin 1000 pasukan kerajaan Bantani yang masih tersisa.


"Kita memang kalah jumlah, tapi jangan menyerah. Ingat pepatah seekor semut bisa mengalahkan seekor gajah. Berilah mereka ketakutan!" teriak Nehan menggebu-gebu dan menerjang Pangeran Natakusuma dengan buntar jagalanya.


"Hah!" teriak pasukan Wasesa Jaya dan langsung maju dengan gagah perkasa dan penuh semangat mengangkat senjata. Beberapa pasukan kerajaan Bantani terkena bom tahmea yang dilontarkan pasukan bargawa Wasesa Jaya. Pasukan kerajaan Bantani yang terkena bom lengket langsung diterjang oleh para baladika adilaga, lija, dan ksatria binting.


SHUA...SHUA...SHUA...BOOB...BOOB...SLASH...SLASH...SLASH...


Kombinasi serangan Pasukan Wasesa Jaya membuat pasukan kerajaan Bantani berkurang drastis jumlahnya, kini hanya tersisa 300 prajurit. Pangeran Natakusuma tidak gentar sama sekali, bahkan ritme serangannya pada Nehan semakin cepat dan semangat, sedikit membuat Nehan kewalahan.


Kombayana dan pasukan hajdut berhasil membunuh 100 ksatria binting serta Ratu Gendhis Parawangsa, yang melindungi Prabu Bagaskara. Meskipun 90 pasukan hajdut harus tewas di tangan Prabu Bagaskara setelah mengeluarkan ajian pancer bantala lindola (gempa bumi), berhasil membenamkan 90 pasukan hajdut yang tak sempat menghindar.

__ADS_1


__ADS_2