
Wijaya dan Manggala sekarang yang melayang di atas awan. Langit yang cerah di penuhi bintang-bintang dan bulan purnama bersinar terang.
Wijaya menepuk pundak Manggala lalu melepaskan pelukannya, Manggala melayang dengan tubuh dipenuhi urat otot berwarna merah lama kelamaan berwarna jingga, yang menonjol keluar.
Wijaya mengaktifkan segel bulatan kepala naga di dahinya, yang dikelilingi 7 bulu berwarna merah, jingga, kuning, hijau dan 3 bulu berwarna hitam. Wijaya menotok 321 titik aliran energi pada tubuh Manggala dengan ajian sagisaga, sewu mwazi tudla.
Wijaya meminumkan 10 pil parantaja efektifitas 25% dan 10 pil tehostin efektifitas 100% pada Manggala. Stamina dan luka di tubuhnya kembali pulih serta kesadarannya kembali. "Wadah jiwa energi apa yang kau punya?" Tanya Wijaya pada pemuda itu yang melayang. "Wadah jiwa energiku dari bayi sudah tingkat Prana, tak ada yang lain?" jawab Manggala dengan suara parau.
"Baik gunakan semua energimu, keluarkan!" pinta Wijaya. Tanpa pikir panjang Manggala melakukannya, tubuhnya bersinar terang, otot urat yang menonjol juga semakin membesar dan lama kelamaan berwarna kuning terang. Lama kelamaan sinar itu hanya membentuk bola sebesar kepalan tangan di dalam dada Manggala. Wijaya memukul bola di dalam dada Manggala dengan menghentakan telapak tangannya.
Manggala memuntahkan bola itu dari mulutnya dan Wijaya secepat kilat menendang bola seukuran kepalan tangan itu ke atas langit menuju atmosfer bumi. Bola itu melesat cepat dan meledak di atmosfer bumi. Suara ledakannya sangat besar dan membentuk ukuran jamur yang besar di atmosfer bumi serta gelombang kejutnya menghempaskan semua awan yang menutupi bulan purnama.
__ADS_1
BANG...SHUA....BOOM...JDAAAR...JGAAAR...
Fenomena ledakan ini juga terlihat sampai di ketiga Kekosawaan yaitu Sriwijaya, Siliwangi dan Majapahit. "Ledakan apa itu?" gumam kosawa Sri maharaja Baduga. "Sungguh menyebalkan ledakan apa lagi ini!" teriak kosawa Kertarajasa Jayawardhana. "Sial, bocah keparat! bajingan kampret itu berhasil selamat! cari bocah tengik itu dan cincang dia!" Umpat Hyang Dapunta Sri Jayanasa.
Pusaka yang dimiliki kosawa Hyang Dapunta Sri Jayanasa bisa membuat racun peledak, jika target yang diserang berhasil selamat dari ledakan. Meskipun hanya terkena gelombang kejut dari serangan pusaka nuolia itu. Racun peledak itu seperti bom waktu semakin banyak mengeluarkan energi maka semakin cepat pula racun itu membentuk bola peledak seperti bola rajahtava di dalam tubuh target.
Wijaya dan Manggala terbang perlahan masuk kembali ke dalam istana Fonsamari, tubuh mereka berdua terlindungi bola air yang dibuat manggala dengan ajian pancer banu, bola binting.
Raja Surya, Ratu Endang, dan Asmarini mendekat ke arah Wijaya, "Bagaimana keadaan pemuda itu?" tanya mereka bertiga serentak. "Semuanya baik-baik saja, hanya tadi terkena racun peledak seperti bom waktu!" ucap Wijaya dengan raut wajah yang tenang.
"Maaf kalau kehadiranku membuat gaduh disini. Aku meminta maaf, namaku Manggala Saputra dari Kerajaan Banjar Betung kekosawaan Sriwijaya, aku Adipati di Kadipaten Bakaheuni. Namun-" Ucap Manggala dengan raut muka yang sangat sedih hingga menitikan airmata.
__ADS_1
"Aku mengerti! jika nak Manggala belum bisa menceritkannya, kita bisa ceritakan lain kali!. Lebih baik kita masuk ke dalam saja!" Ucap Raja Surya.
Mereka semua masuk ke dalam aula singgasana Istana Fonsamari dan semua beraktivitas seperti semula.
****Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
__ADS_1
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong******.