
Strategi perang dasar jika kawanan menyerang dalam jumlah banyak bunuhlah ratunya untuk menjatuhkan moral kawanan. Manggala dari atas langit membidik para senopati pasukan Kerajaan Batavia, Manggala sudah mengamati dari atas langit perbedaan pasukan biasa dan komandannya yaitu dari pakaian yang dikenakan.
Para senopati mempunyai ciri memakai mahkota kecil emas kebiruan, dan memakai zirah perang berlambangkan serigala berwarna coklat. Sedangkan bawahan pasukannya tidak memakai mahkota hanya memakai zirah perang berlambangkan serigala berwarna coklat muda.
Total ada 300 senopati yang memimpin pasukan dan ada satu kamp patih dari kerajaan Batavia. 1000 anggota Wasesa Jaya mulai keluar dari perbatasan Kerajaan Dharma Ayu membawa 100 kereta kuda membawa gerobak beras. Jarak perbatasan tanah gurun antar kerjaaan kurang lebih radius 1 kilometer.
SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...
JLEB...JLEB...JLEB...JLEB...
Manggala melesatkan 10 anak panah beruntun secara cepat lalu mengenai ubun-ubun 10 senopati dan tewas seketika tanpa bisa sama sekali berteriak. Karena langsung tembus melewati badan lalu menancap ke tanah. Anak panah Manggala kali ini berwarna putih bening seperti tidak terlihat karena cahaya matahari menembus bagian anak panah Manggala.
Semua senopati yang mati dengan mulut ternganga dan mata melotot seperti terkena serangan jantung untuk mengaburkan serangan Manggala bahwa pihak musuh tidak ada yang menyerang. Serangan Manggala dilakukan di tempat senopati yang berbeda agar para prajurit kerajaan Batavia tidak menaruh curiga.
Manggala kembali menarik busur Pasopati dengan menghembuskan nafas tiga kali dan mulai membidik, setelah memberikan jeda 10 menit agar musuh tidak curiga. Jika langsung menghabisi semua Senopati Kerajaan Batavia.
Manggala kembali melesatkan 10 anak panah secara beruntun dan acak targetnya 10 senopati Kerajaan Batavia. Lagi-lagi senopati yang mati, selalu dengan mulut ternganga dan mata melotot seperti terkena serangan jantung.
SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...
JLEB...JLEB...JLEB...JLEB...
Manggala terus melakukan pola serangan seperti itu selama 2 jam 30 menit hingga berhasil membunuh 150 senopati. Sementara pasukan Wasesa Jaya dibagi menjadi dua pasukan 500 ditugaskan menuju kotaraja Jayakarta dan 500 pasukan ditugaskan menuju kotaraja Lebak.
Semua pasukan Wasesa Jaya sudah berhasil melewati penjaga pintu perbatasan dan lolos dari pemeriksaan karena tipu muslihat Wijaya. Kereta kuda yang membawa gerobak, atasnya memang berisi beras dan kotak ikan tapi bawahnya berisi bola rajahtava dan senjata, Wijaya memang benar-benar licik. Ditambah pemimpin pasukan di ajari jurus pamungkas Wijaya yaitu menyuap penjaga perbatasan, uang selalu berbicara.
__ADS_1
Strategi perang dasar jika pasukan berkumpul di sayap kanan maka sayap kiri akan melemah. Target Wijaya adalah kotaraja setiap kerajaan. Banyak prajurit berkumpul di perbatasan maka kotaraja pertahanannya melemah.
Matahari tepat berada di atas kepala, semua senopati
dan pasukan beristirahat di dalam kamp, melihat situasi itu, Wijaya turun di dalam hutan kerajaan Batavia, dan berdiri di atas pohon mengamati. Kini tersisa 150 senopati dan semuanya di dalam kamp, Wijaya menyelinap pelan-pelan masuk ke dalam kamp Senopati satu persatu dan menotok titik tubuh mereka supaya lumpuh.
TSUK...TSUK...TSUK...
Lalu memasukan bola rajahtava pada mulut mereka dan menepak kepala mereka supaya menelan bola rajahtava. Wijaya menotok titik bagian muka supaya mereka tidak bisa memuntahkan bola rajahtava.
Lalu wijaya melesat cepat tanpa siapapun menyadari Wijaya berada disana, "Waktunya pertunjukan!" Wijaya menyeringai jahat.
Bolah rajahtava di atur waktunya 3 menit oleh Wijaya, dengan menotok titik tubuh pada bagian perut. Energi yang mengalir dari sumber energi di bagian bawah pusar. Di totok supaya terhambat dengan totokan ajian sagisaga, sewu mwazi tudla yang mengandung energi chakra. Energi chakra yang menghambat aliran energi akan memudar setelah 3 menit.
Pertunjukan Wijaya sudah di mulai, 150 kamp Kerajaan Batavia berisikan 150 senopati semuanya meledak hancur luluh lantak 7500 prajurit tewas seketika terpanggang. Pekikan dan teriakan menggema di wilayah perbatasan Kerajaan Batavia , Wijaya hanya menjauh dan menonton dari atas pohon yang berada di hutan luar kerajaan Batavia.
"Ada serangan! ada serangan!" teriak salah satu prajurit, prajurit lain yang berada di kamp keluar berhamburan. Tapi ketika mereka mengangkat senjata masing-masing dan mau menyerang, mereka mau menyerang siapa. Tak ada satu pun pelaku peledakan yang terlihat, Patih Dananjaya keluar dari kampnya dan mencekik salah satu prajurit lalu mengangkatnya ke atas, "Keparat siapa yang melakukannya?". Patih Dananjaya lalu melempar prajurit yang dicekiknya.
"Uhuk, uhuk, uhuk, ma-ma-maaf gusti kami tidak mengetahuinya! 300 senopati telah tewas. 150 senopati mati seperti terkena serangan jantung. Kami baru saja mau menyelidikinya namun tiba-tiba terjadi ledakan di semua kamp senopati 7500 prajurit setingkat ksatria tewas semua!" Ucap salah satu prajurit yang bersimpuh karena dilempar Patih Dananjaya, wajahnya penuh ketakutan ditekan aura membunuh Patih Dananjaya.
"Apa!" teriak Patih Dananjaya lalu menginjak tanah dengan kakinya begitu kuat penuh kemarahan. Tanah di sekitarnya retak dan ambles.
BAM...KRAK...KRAK...KRAK...
Manggala yang di atas langit melihat Patih Dananjaya sedang marah menyeringai jahat, "Akhirnya sang pemimpin kawanan keluar juga," lalu membidik Patih Dananjaya dan menembakan bola rajahtava yang diikatkan pada anak panah. Manggala menariknya kuat-kuat supaya lesatan anak panahnya lebih cepat dari sebelumnya.
__ADS_1
SHUA....JLEB...BOOOOM...
Patih Dananjaya tewas seketika menjadi bubur darah yang gosong, radius 50 meter prajurit yang berada di sekitar ledakan juga banyak yang tewas dan terluka parah. Total prajurit yang tewas dan terluka 2500 prajurit, tersisa 19699 prajurit tanpa senopati dan patih, moral mereka seketika langsung jatuh karena tak ada lagi yang memimpin.
Kombinasi serangan duo kelinci memang sangat hebat hanya dalam waktu 4 jam berhasil menumbangkan 13001 pasukan Kerajaan Batavia termasuk 300 senopati dan patihnya.
Wijaya dan Manggala menyeringai jahat, "waktunya berpesta." Manggala melepaska ajian pancer banu, nuolia paluja berkali-kali untuk membunub banyak prajurit. Sedangkan Wijaya melesat cepat dengan ajian baladewa, brabata naga sambil melempar 100 bola rajahtava ke sekitar prajurit Kerajaan Batavia yang masih berkumpul karena moral mereka jatuh.
SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB...JLEB...BOOM...BOOM...BOOM...
Suara ledakan dan erangan serta pekikan menggema sekali lagi di perbatasan wilayah Kerajaan Batavia, serangan Manggala dan bola rajahtava milik Wijaya tak bisa dihindari 19699 prajurit kerajaan Batavia tewas tak tersisa.
Para prajurit Kerajaan Bantani melihat asap membumbung dan suara ledakan di perbatasan Kerajaan Batavia sedikit panik Patih Ambarawa keluar dari kampnya, " Berisik sekali! cepat lihat kesana! teriak Patih Ambarawa.
"Musuh yang payah masa kalah sama dua orang saja," gumam Wijaya yang sedang duduk diatas mayat prajurit Kerajaan Batavia yang terpanggang.
*********Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong************.
__ADS_1