KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
RAIVAJA (PEDANG PEMBELAH LANGIT)


__ADS_3

Wijaya menyadari kedua pedang ini seperti mempunyai jiwa sendiri, lalu menangkupkan tangannya.


PLAK...


Tubuh Wijaya diselimuti aura berwarna emas lalu melayang, "hancurlah formasi panca neraka!" teriak Wijaya Kusuma lalu memukul tanah yang sebelumnya di pijak dengan pukulan ajian baladewa, brajamusti.


BAM...GRR...


Gelombang kejut di dalam gua bawah tanah basudara membuat gempa kecil hingga terasa sampai ke atas goa air terjun basudara. Empu Culuk dan Karbara Sayuta yang sedang bersantai di buat terkejut.


"Apa yang terjadi?" jangan sampai gua ini runtuh, aku belum merasakan indahnya jatuh cinta!" teriak Karbara Sayuta dengan raut wajah yang panik.


"Hmm," Wijaya mendengus keras, "masih belum cukup. Seakan tahu Wijaya sedang kesulitan kedua pedang taiga maung loka dan auka nagara tercabut sendiri lalu melayang keduanya berputar seperti menari, sinarnya semakin terang lalu pedang itu menjadi satu.


SRIIING...


Penyatuan dua pedang dengan jenis pedang berbeda taiga maung loka jenis braza (ninjato) dan pedang auka nagara jenis braka (katana) mengeluarkan sinar yang terang.


"Ck," Wijaya Kusuma berdecak kagum karena baru pertama kali melihat dua pedang yang mempunyai jiwa dan bisa menyatu.


Pedang itu melayang lalu bersinar keemasan, pedang yang memiliki motif harimau, dan motif serigala berkepala tiga di sarung pedang, serta gagang pedang yang berwarna putih.



Wijaya menangkap pedang itu lalu menariknya dari sarungnya dan menusuknya ke tanah yang dipijak sebelumnya oleh Wijaya Kusuma.


SREP...KRAK...KRAK...BOOM...GRR...


Gua bawah tanah basudara lagi-lagi berguncang hebat sampai terasa ke atas gua air terjun basudara. Empu Culuk yang sedang di pinggir gua tersentak kaget ternyata guncangan gempa ini, gelombang kejutnya bisa menghancurkan formasi panca neraka.


"Akhirnya kita bisa keluar dari penjara ini! tunggu kau Mahapatih Amuk Marugul, aku akan mencincangmu!" teriak Empu Culuk kegirangan lalu memeluk Karbara Sayuta.


"Minggir kau kakek tua! aku masih normal, bagaimana pun juga aku butuh kasih sayang seorang wanita cantik bukan macam kau kakek reot peot ompong!" teriak Karbara Sayuta sambil mendorong muka Empu Culuk.


"Maaf, maaf, kelepasan, hahahaha!" ucap Empu Culuk sambil menggaruk pantatnya yang tidak gatal.


Formasi panca neraka yang menyegel goa air terjun basudara hancur terkena gelombang kejut yang Wijaya Kusuma berikan.


PRANG...PRANG...PRANG...PRANG...


***

__ADS_1


"Hmm, akhirnya berhasil juga!" Wijaya mendengus panjang. Tiba-tiba tubuh Wijaya di selimuti aura berwarna emas, mahkota kurusetra kembali ke ripela aksa di telapak tangan kanan Wijaya.


BANG...


BANG...


BANG...


Wijaya naik tingkatan dendawa asor.


Wijaya naik tingkatan dendawa baharu.


Wijaya naik tingkatan dendawa inggil.


Wadah jiwa evolusi energi milik Wijaya kini berada di wadah jiwa Chakra 100%, Mana 80%, Chi 60%, Qi 40%, dan Reiki 20%.


Bola-bola kecil yang sangat banyak mengelilingi tubuh Wijaya Kusuma, lalu masuk ke dalam tubuh Wijaya.


Wijaya menyarungkan pedangnya lalu menyimpan ke dalam ripela aksa di telapak tangannya, "braka ini aku beri nama apa ya? raivaja saja! ya raivaja!" gumam Wijaya.


Wijaya lalu berjalan meninggalkan gua bawah tanah basudara menuju goa atas air terjun basudara, di sana sudah menunggu Empu Culuk dan Karbara Sayuta.


***


Bleta Bora dan 30 pasukan Bleta Permoda tersentak kaget, ketika mendengar suara ledakan dari dalam gua air terjun basudara.


BOOM...GRR...


Bleta Bora sedang mengedarkan persepsi untuk mencari letak energi kehidupan terakhir Wijaya berada.


"Di sana, aku melihatnya di sana!, aku juga merasakan energi yang mulia gusti prabu sudah bisa terhubung kembali, tidak terhalang oleh sesuatu!" gumam Bleta Bora.


"Yang mulia gusti prabu! yang mulia gusti prabu, apakah kau mendengarku?" tanya Bleta Bora melalui telepati pada Wijaya Kusuma.


"Hmm, sepertinya aku mendengar suara saudaraku Bleta Bora," gumam Wijaya kusuma. "Yang mulia gusti prabu! apakah kau mendengarku?" tanya lagi Bleta Bora.


"Oh, ya itu suara Bleta Bora! sepertinya dengan hancurnya formasi panca neraka, telepatiku dengan saudaraku Bleta Bora dan Saudaraku Maung Bodas bisa terhubung kembali." gumam Wijaya.


"Aku mendengarmu saudaraku!" jawab Wijaya melalui telepati pada Bleta Bora. "Bagaimana keadaan yang mulia sekarang? dan dimana letak yang mulia sekarang?" tanya Bleta Bora dengan raut wajah cemas.


"Aku baik-baik saja, aku sekarang berada di dalam goa air terjun basudara bersama Empu Culuk dan saudara kita yang baru Karbara Sayuta!" jawab Wijaya Kusuma.

__ADS_1


"Empu Culuk? bukankah kita sedang mencarinya? bagaimana yang mulia bisa menemukan Empu Culuk? baik yang mulia gusti prabu kami sekarang akan menjemputmu! posisi kami sedang terbang di atas goa air terjun basudara!" tanya Bleta Bora yang sedang terbang menuju goa air terjun basudara.


"Sudah saudaraku masalah Empu Culuk nanti kita bicarakan, aku akan menunggumu di luar gua!" ucap Wijaya melalu telepati pada Bleta Bora.


"Sendiko yang mulia gusti prabu, hamba akan segera meluncur ke sana!" Bleta Bora sambil melambaikan tangan sebagai isyarat untuk menuju gua air terjun Basudara.


***


Wijaya pun sudah sampai di mulut gua, dan melihat Empu Culuk dan Karbara Sayuta berjalan menuju luar mulut gua dengan wajah yang sangat ceria.


"Kakek Empu dan saudaraku, tunggu!" teriak Wijaya memanggil mereka berdua.


"Ada apa?" tanya mereka berdua serentak sambil menengok ke arah Wijaya.


"Kita jangan pergi dahulu, saudaraku akan menjemput kemari dan kita akan langsung pulang menuju Kadipaten Maung Bahari!" jawab Wijaya sambil berlari.


"Memang saudaramu tahu kita disini? goa air terjun inikan gua tertutup dan sangat susah di jangkau oleh manusia bahkan binatang pun tidak bisa menjangkau kemari kecuali bisa terbang!" tanya Empu Culuk penuh dengan sangsi.


"Tenang saja kakek Empu! Saudaraku bukan manusia maupun binatang tapi siluman raja lebah, dia sedang menuju kemari!" jawab Wijaya Kusuma dengan raut penuh keyakinan.


"Saudara Karbara Sayuta! aku punya satu binatang Suci Maung Bodas dan siluman Bleta sebagai saudaraku. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami jadi mohon bantuan dan kerjasamanya untuk membangun masa depan bersama lebih baik!" ucap Wijaya Kusuma.


"Sendiko yang mulia paduka! pantas saja sepertinya hamba merasakan jiwa kami saling terhubung!" ucap Karbara Sayuta.


"Ya benar, jika kita melakukan kontrak abadi kita akan saling terhubung satu sama lain!" ucap Wijaya Kusuma.


Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Bleta Bora sampai di mulut goa air terjun basudara bersama 30 Bleta Permoda.


Mereka bertiga pun segera naik Bleta Permoda yang sudah bertransformasi menjadi tubuh siluman penuh raja lebah.


**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.


mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.


Semoga para readers bisa menikmatinya.


Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.


Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.


Jika suka silahkan klik tombol favorit**.

__ADS_1


__ADS_2