
Keesokan paginya Wijaya dan Manggala beserta rombongan Raja Surya kembali ke istana Dharma Ayu untuk mengurus surat kepemilikan tanah dan kamar dagang untuk Wijaya.
Sedangkan Manggala pergi ke restoran Kala Asta menemui para nelayan dan para prajurit Wijaya untuk berkenalan dengan mereka. Kapal dan 100 kereta kuda sudah di siapkan di dermaga pantai Tirtamaya.
Para nelayan dan para prajurit Wijaya pergi meninggalkan dermaga pantai Tirtamaya total kereta kuda yang di bawa 150 kereta kuda dengan milik Kadipaten Maung Bahari. Sedangkan Manggala tidak ikut pergi menuju Kadipaten Maung Bahari menunggu Wijaya menyelesaikan urusan dengan Raja Surya di restoran Kala Asta milik Asmarini.
"Mohon maaf gusti putri! apakah sudah mengenal lama pangeran Wijaya?" tanya Manggala dengan raut muka penasaran, karena ketika perjalanan dari istana Fonsamari ke wilayah kerajaan Dharma Ayu mereka begitu sangat akrab.
"Tidak aku baru saja berkenalan dan bertemunya kemarin." Jawab Asmarini dengan tersenyum ramah. "Memangnya kenapa?". Manggala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Tidak apa-apa, aku pikir kalian berpacaran, heheheh."
"Ah, tidak kami tidak berpacaran. Bagaimana mungkin baru bertemu bisa langsung jatuh cinta?" Asmarini menggembungkan pipinya dengan wajah semerah tomat karena malu.
"Hmmmm, nampaknya kita akan menghadapi perang kembali." Manggala menghela nafas panjang, "dimana-mana peperangan terus berkobar."
__ADS_1
"Bagaimana kamu tahu kerajaan Dharma ayu akan berperang dengan kerajaan Batavia dan Bantani?" Tanya Asmarini dengan raut muka penasaran. "Aku tidak tahu hanya sebuah firasat dan firasatku selalu tepat!" Jawab Manggala dengan muka datar.
Lalu bagaimana sikapmu jika kerajaan Dharma Ayu berperang? aku tahu kau bukan dari Dharma Ayu." Ucap Asmarini dengan raut menyeringai sinis. "Aku sudah tak punya tanah air dan sekarang aku hanya punya kak Wijaya, jika aku memilih tentu aku akan membantu sekuat tenaga, bagaimana pun kalian telah menolongku sebagai balas budi. Meskipun tak sebanding dengan apa yang kalian berikan." Jawab Manggala dengan raut muka sedih.
Asmarini sangat puas terhadap jawaban Manggala, pemuda yang penub prinsip. Asmarini meninggalkan Manggal di meja makannya. Masuk ke dalam ruangannya dan mengambil sebuah baju seragam berwarna hitam bercorak awan merah.
"Inilah baju seragam pasukan khusus Dharma Ayu yang aku buat, aku ingin kau memakainya sebagai bagian dari Dharma Ayu, kapanpun kamu kembali ke Dharma Ayu kami semua menerimamu!" Ucap Asmarini sambil memberikan seragam hitam corak awan merah.
Sementara itu di istana Dharma Ayu, Wijaya dan Raja Surya sedang berdiskusi tentang peperangan yang akan terjadi yang sudah di depan mata.
Wijaya punya ide gila yaitu membantai semua pasukan kerajaan Batavia dan Bantani sendirian, karena tidak ingin melibatkan kerajaan Dharma Ayu. Dengan begitu dalam rencana bisa mengambil 3 tempat sekaligus di kekosawaan Siliwangi dan semuanya berada di jalur pantai utara.
Wijaya ingin memonopoli perikanan, pertanian, dan pertambangan bawah laut, di kekosawaan Siliwangi untuk melemahkan kekuatan mereka sementara waktu sampai Wijaya bisa meredam gejolak api dalam sekam yang dibuat kekosawaan Siliwangi.
__ADS_1
Sehingga target mereka akan berubah tidak lagi Kerajaan Dharma Ayu menjadi target pembunuhan tapu Wijayalah nantinya akan di targetkan. Namun Wijaya juga akan mengumpulkan kekuatan tempur dunia bawah yang sudah Wijaya susun dan rapi tanpa siapapun tahu, yaitu melobi kerajaan Caruban Nagari.
Posisi Kerajaan Caruban Nagari ada di tengah kekosawaan jika berhasil melobi mereka menjadi sekutu maka Wijaya akan diuntungkan secara posisi bisa menyerang semua kerajaan di kekosawaan Siliwangi baik jalur darat, jalur air melalui sungai maupun udara.
******Untuk update author terus usahan sehari empat kali, untuk waktunya tidak menentu ya sahabat ksatria.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong******.
__ADS_1