
Bogadenta meraung keras, tubuhnya yang coklat sawo matang berubah coklat kemerahan. Bogadenta mengeluarkan ajian bedhama amogasakti pamungkas miekha jagat slasha (tebasan dunia) dan menebas ke arah 25 hajdut yang melompat, muncul siluet berwarna coklat kemerahan seperti sabit melesat cepat.
SLASH...SWUSH....SHUA...CRASH...
25 Hajdut yang melayang beberapa saat tubuhnya terbelah dua, terkena serangan ajian miekha jagat slasha. 25 hajdut yang sebelah kiri juga memegang kameya dan segera melompat dengan sasaran kepala Bogadenta.
Bogadenta melepaskan ajian miekha jagat slasha bilah miekha diselimuti aura coklat kemerahan dan menebas ke arah 25 hajdut yang sebelah kiri, muncul lagi siluet berwarna coklat kemerahan seperti sabit melesat cepat.
SLASH...SWUSH....SHUA...CRASH...
25 Hajdut yang melayang beberapa saat kepalanya terpisah dari leher, terkena serangan ajian miekha jagat slasha. 25 hajdut yang di sebelah kanan dan kiri melihat Bogadenta melepaskan ajian terus menerus mengira wadah jiwa energinya telah habis.
Mereka dari sebelah kanan dan kiri kembali melempar kunai serta danai. Tubuh Bogadenta sudah mencapai batasnya, dan ia menurunkan miekhanya ke tanah dengan darah terus bercucuran di tubuhnya.
THUG...SHUA...SHUA...SHUA...JLEB...JLEB..JLEB...
Bogadenta akhirnya tumbang terkena serangan kunai dan danai dari 50 hajdut yang tersisa. Seluruh badannya dipenuhi kunai dan danai yang tertancap di sekujur tubuhnya.
BRUG...
Wijaya yang melihat sambil duduk di singgasana Bogadenta berkata sambil terkekeh, "hahahaha, sayang sekali mainan yang bagus itu mati, hahahaha. Sekarang kalian pilih menjadi pasukanku atau mati! lihatlah 1950 teman kalian semuanya tewas, apa mau kalian juga kucincang seperti mereka?" tanya Wijaya dengan sorot mata yang tajam.
50 hajdut berhenti sejenak dan melihat sekelilingnya, banyak mayat bergelimpangan, markas milik mereka juga hancur luluh lantak, mereka juga tidak punya tempat tinggal.
50 hajdut dengan raut pucat pasi berlutut, dan berkata serentak" kami menyerah gusti! mohon ampuni kami!."Wijaya melemparkan 50 ramuan orja di depan salah satu hajdut, "ambilah! minum satu persatu! jika kalian bertaubat minuman itu akan membuat kalian kuat dan sejahtera, tapi jika kalian berkhianat nasib kalian akan jadi bubur daging seperti 100 teman kalian sebelumnya!."
50 hajdut terbayang teman mereka yang meledak menjadi bubur daging dan berkata dengan raut wajah ketakutan dan berkata serentak, "baiklah gusti kami akan meminumnya!."
Salah satu hajdut membagikan ramuan orja pada 49 temannya satu persatu, mereka semua meminum ramuan orja serentak. "Terima kasih gusti atas pengampunannya, kami akan selau setia kepada gusti!" teriak serentak 50 hajdut sambil menundukan kepala dan meninju telapak tangannya.
__ADS_1
"Mohon maaf gusti, jika hamba lancang! nama gusti siapa? tanya salah satu hajdut yang penasaran.
"Oh, ya saya lupa!" Wijaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu membuka cadarnya. "Nama saya Wijaya Kusuma pangeran Brabang sari sekaligus adipati di kadipaten Maung Bahari yang dulunya desa Lembarawa." Wijaya membungkuk hormat dengan meletakan tangan kanan di dada sebelah kiri.
"Hormat pada pangeran Wijaya!" 50 hajdut yang masih berlutut menundukan kepala sambil meninju telapak tangannya.
"Sudah-sudah bangunlah! jangan seperti itu kita sekarang keluarga!" ucap Wijaya sambil membangunkan satu persatu 50 hajdut yang berlutut.
Tiba-tiba Maung Bodas menghubungi Wijaya, "yang mulia gusti prabu! aku sudah berada di perbatasan desa Soka, kami harus kemana lagi?" tanya Maung Bodas dalam batinnya melalui telepati pada Wijaya Kusuma.
"Kalian ke utara masuklah ke dalam hutan dan berlarilah dengan cepat, kurang lebih dalam perjalanan 30 menit akan sampai!" batin Wijaya melalui telepati pada Maung Bodas.
"Sendiko yang mulia gusti prabu!" batin Maung Bodas. "Mari kita bergegas ke arah utara!" teriak Maung Bodas lalu berubah menjadi siluman harimau putih. Semua pasukan Maung Lodaya juga berubah menjadi siluman harimau.
POFF...POFF...POFF...
Mereka segera berlari ke arah utara menuju markas bandit agrariyin.
"Putriku, apa putriku tidak apa-apa?" tanya Sambal pada Rusminda.
Gadis yang berumur 17 tahun, tubuh yang sangat seksi, berambut kuning dengan tinggi 171 centimeter, kulit sawo matang, pupil mata berwarna pink agak sipit kelopak matanya, dan hidung agak mancung kecil serta bibir merah natural alami, dia adalah Rusminda.
"Tidak apa-apa ayah, hanya saja aku sangat takut!" ucap Rusminda dengan wajah pucat, karena sudah hampir 1 minggu belum makan terkurung dalam penjara bawah tanah.
"Ini makanlah nak!" Sambala memberikan roti kering kepada Rusminda, "nak tunggulah di sini bersama yang lain. Di dalam berbahaya, aku akan menemui gusti Wijaya Kusuma."
"Baik ayah, memangnya siapa gusti Wijaya Kusuma?" tanya Rusminda dengan muka polosnya.
"Dia adalah pangeran penyelamat kita dari kerajaan Brabang Sari." Jawab Sambala sambil mengelus lembut kepala Rusminda, "bagilah rote kering kepada saudara kita yang lain." Sambal memberikan kotak berisi banyak roti kering.
__ADS_1
Ketika terjadi ledakan Sambala sempat ke gudang makanan di dekat penjara bawah tanah untuk mengmbil beberapa kotak roti kering.
Sambala pergi ke dalam markas bandit Agrariyin yang sudah hancur dan puing-puing berserakan. Sambala mengendap ke dalam, ia melihat Wijaya sedang berjalan keluar dengan rombongan para hajdut, Sambala mencegat Wijaya.
"Tunggu gusti! bukankah-" ucap Sambala dipotong oleh Wijaya Kusuma," tidak apa-apa paman, mereka bersedia bertaubat dan kembali ke jalan yang benar. Kalian akan kembali ke Kadipaten Maung Bahari bersama saudaraku Maung Bodas nanti."
"Gusti apakah kami bisa tinggal di sana, aku berhasil membebaskan putriku dan 99 tawanan lain?" tanya Sambala dengan raut muka memelas.
"Boleh! kalian boleh tinggal di kadipaten Maung Bahari." Jawab Wijaya sambil mengupil. "Baik gusti aku akan membawa mereka kemari." Sambala membungkuk hormat sambil meninju telapak tangannya, lalu pergi ke dalam hutan di mana tawanan berada.
Suara derap langkah terdengar begitu keras, Maung Bodas terlihat sangat besar memimpin kawanan, para hajdut ketakutan dan berkata, "gusti ayo kita berlari ada banyak harimau menyerang!"
"Jangan takut mereka semua saudaraku, mereka adalah siluman Maung Lodaya!" Wijaya coba menenangkan para hajdut yang ketakutan, Maung Bodas dan pasukan Maung Lodaya berubah menjadi manusia, "hormat pada yang mulia gusti prabu!" teriak Maung Bodas dan pasukan Maung lodaya sambil berlutut satu kaki, menundukan kepala dan meninju telapak tangannya.
"Terima kasih saudaraku Maung Bodas dan Maung Lodaya telah hadir memenuhi panggilanku. 1950 bandit Agrariyin telah tewas aku bantai, 50 lainnya yang ada di belakangku menyerah dan ingin bertaubat kembali ke jalan yang benar."
"100 tawanan juga berhasil dibebaskan oleh paman Sambala, jadi mohon saudaraku Maung Bodas untuk membawa mereka ke Kadipaten Maung Bahari, beri mereka tempat tinggal dan pakaian serta pekerjaan. Kita butuh mereka untuk meningkatkan kekuatan tempur kita."
"Dan ini lencana lurai untukmu, sekarang kamu yang mengurus Kadipaten Maung Bahari. Untuk sementara aku serahkan tugas ini padamu dan berikan surat ini pada paman Jatmiko, jika merasa kekuatan tempur kalian sudah mumpuni serang markas bandit Agrasara! dan ambilah harta jarahan di dalam markas Agrariyin" ucap Wijaya sambil memberikan gulungan surat dan lencana lurai pada Maung Bodas.
"Sendiko yang mulia gusti prabu! titah paduka akan hamba segera laksanakan!" ucap Maung Bodas sambil menundukan kepala dan meninju telapak tangannya.
**Terima kasih para readers masih setia membaca Novel pertama author Ksatria langit nusantara.
mohon maaf jika tulisannya masih amburadul, masih terus memperbaiki.
Semoga para readers bisa menikmatinya.
Yuk nikmati membaca sambil minum kopi jeng gorengan singkong.
__ADS_1
Mohon dukung author dengan memberikan like koment dan gift jika berkenan.
Jika suka silahkan klik tombol favorit**.