KSATRIA LANGIT NUSANTARA

KSATRIA LANGIT NUSANTARA
MELATIH AJIAN PANCER BANU (ELEMEN AIR)


__ADS_3

Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.


Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.


Untuk update sudah normal 2 chapter/hari pukul 20.00 WIB, maaf belum bisa crazy up lagi, maaf jika alur terlalu lambat. Yang kurang suka skip saja.


Wijaya bangun dari rebahannya dan berdiri langsung menangkupkan tangannya, "ajian pancer banu, bola banu (elemen air, bola air)!" Wijaya menembakan bola air seukuran bola basket.


SWUSH...SHUA...BYAR...


"Ajian pancer banu, magalana (gelombang sunami)" Wijaya menghentakan kedua telapak tangannya ke tanah. Muncul gelombang air dari bawah tanah Wijaya, semakin lama semakin besar mengarah ke arah Manggala.


Manggala yang masih lemas, dalam keadaan yang tak siap menerima serangan Wijaya, terkena sapuan gelombang sunami. Membuat dirinta terseret arus dan basah kuyup seluruh pakaianya.


"Kwamprewt, kwauaw kwang Mwas." Teriak Manggala yang terkena sapuan gelombang sunami hingga terhempas 20 meter mengumpat pada Wijaya. "Hahahaha, katanya aku tak bisa menggunakan ajian pancer banu. Ini aku bisa, hmmm." Wijaya mendengus kesal dan mengibaskan tangan lalu mengupil hidungnya.


"Maafkan aku kang mas. Maafkan aku, aku memang meremhkanmu, hehehehe." Manggala mendekati Wijaya dengan baju yang basah kuyup sambil terkekeh dan menggaruk kepalanya. "Ajian jagat saksana, kusuma jiwa (teknik penyembuhan semesta, regenerasi jiwa).


Muncul rune sihir berwarna hijau di telapak kaki Manggala, seluruh tubuhnya diselimuti aura berwarna hijau. Pakaianya yang basah menjadi kering kembali, semua lukanya sembuh. Tiba-tiba tubuh Manggala bergejolak, aura hijau menyelimuti tubuhnya semakin terang.


BANG...

__ADS_1


Manggala naik tahapan dari dendawa inggil ke praburata asor, energi jiwanya juga punya dua lapis energi wadah jiwa sekarang yaitu prana dan chi. "Kau tahu kenapa tak efektif menggunakan ajian pancer banu?" Tanya Wijaya yang kembali rebahan bersandar pada kedua lipatan tangannya dibawah pohon beringin.


"Kang mas bisa tahu, kalau aku kurang maksimal menggunakan ajian pancer banu. Padahal secara susunan wadah energiku berada di lapis keenam yaitu prana, tapi kenapa setiap kali melepaskan ajian pancer banu selalu kehabisan energi, bahkan hampir saja membuatku mati."


"Karena kau salah menggunakan wadah jiwa energi. Setiap energi itu terkait dengan satu pancer, jika ajiannya tidak terkait dengan pancer yang kau punya maka wadah energi yang kau gunakan akan habis."


Manggala mengelus dagunya mendengar penjelasan Wijaya, mengangguk-anggukan kepalanya. "Lalu bagaimana caranya aku menggunakan ajian pancer banu agar tidak cepat menguras energi pranaku."


"Alah, kau ini kan seorang Adipati pasti pernah mengikuti perguruan kerajaan bukan? masa tidak tahu?, jangan-jangan kau sering membolos ya? padahal itu adalah pelajaran dasar di perguruan kerajaan." Tanya Wijaya dengan muka sinis ada Manggala.


"Hehehe, kang mas tahu saja. Ya waktu di perguruan aku lulus dengan peringkat yang paling depan tapi dari belakang, hahahaha. Itu pun empat tahun aku baru lulus dari tingkat ksatria" Manggala menggaruk-garuk kedua pipinya yang tidak gatal.


"Pantas saja, lihatlah ini. Aku belum pernah belajar di perguruan, baru masuk sehari sudah membuat onar minta ujian kelulusan lebih awal. Hanya dalam sehari aku lulus menjadi ksatria, hahahaha." Wijaya mengeluarkan lencana ksatria dari kerajaan Brabang Sari dari ripela aksanya.


Mereka berdua tak sadar jika sudah di awasi oleh Asmarini dari atas pohon beringin. Sebenarnya sudah dua jam Asmarini berada di atas pohon beringin mengintip mereka berdua berlatih, namun tak ada yang menyadari keberadaanya.


"Aku sudah hafal semua isi kitab dewata adilaga, kemarikan pusaka pasopatimu dan lihatlah!" Pinta Wijaya. Manggala menyerahkan Pasopati dari punggungnya ke tangan Wijaya.


Tubuh Wijaya diselimuti aura berwarna biru dari energi chi yanh dikeluarkannya. "Ajian pancer banu, heija banu(pantulan air). Ajian pancer banu, sulma nuolia(serbuan anak panah)." Wijaya membuat ribuan cermin transparan di area radius 100 meter lalu menembakan satu anak panah dari busur pasopati.


SHUA...SWUSH..SWUSH..CLAK..CLAK..CLAK..

__ADS_1


Satu anak panah itu melesat dan memantul ke ribuan air yang berbentuk cermin. Jika ada ribuan musuh sudah dipastikan akan mati mengenaskan, karena satu anak panah saja sudah bergerak sangat cepat seperti ribuan anak panah yang menyerang.


"Kang mas Wijaya luar biasa." Batin Asmarini yang sedang mengintip di atas pohon dan Manggala dengan mata yang berbinar-binar. Tapi panah itu tiba-tiba melesat ke arah ranting pohon beringin.


SHUA...TRANG...SHUA..KRASAAK..TAP...TAP..


Asmarini menangkis anak panah dengan pusakan karbara binjaka dan terpental keluar dari pohon beringin. Lalu mendarat di tanah dengan telapak kaki bergesekan pada permukaan tanah, dan salto ke belakang dua kali untuk menyeimbangkan tubuhnya.


"Aku sudah tahu nyi mas, kau berada di atas pohon itu sedari tadi, aku menunggu waktu untuk mengerjaimu, hahaha. Ternyata Manggala memberikan aku waktu yang tepat, hahahaha." Wijaya terkekeh dengan mengupil hidungnya


"Sial kau nyi mas, ternyata kau sedari tadi berada di atas pohon itu. Awas saja kau nyi mas, hmmm." Manggala mendengus kesal. "Lalu apa maumu? mau berkelahi denganku, ayo! hmm," Asmarini menggembungkan pipinya membuat Wijaya tak tahan mencubit pipinya. "Aww, kang mas sakit tau."


"Habisnya kamu menggemaskan. Sudah kalian tak usah bertengkar, aku akan mengajarkan kalian beberapa ajian bedhama amogasakti, bersiaplah!" Lerai Wijaya.


"Bleee! bleeee!" Asmarini menjulur-julurkan lidahnya pada Manggala. "Ini, ini, rasakan ini!" Manggala menungging-nunggingkan pantanya ke arah Asmarini, lalu menepuk-nepuknya beberapa kali.


"Hmm," Asmarini memalingkan Wajahnya. "Sudah, ayo kita mulai!" Wijaya mengelus rambut Asmarini dengan lembut lalu merangkul pinggangnya. "Kalian berdua ini sudah dewasa tapi pikiranya seperti bocah, aku yang bocah malah berpikir seperti orang dewasa." Wijaya bergumam dalam batinnya dan membayangkan menepuk jidatnya sendiri.


Manggala dan Asmarini berdiri sebelahan dengan sikap istirahat di tempat (yang pernah ikut pramuka, pmr, dan paskibraka pasti tahu)


"Baik dengarkan! untuk membuat ajian pancer maksimal. Kalian harus menggunakan wadah energi jiwa yang cocok dengan jenis pancernya. Chakra dengan agni (api), chi dengan banu (air), mana dengan bayu (angin), Qi dengan bantala (tanah), reiki dengan petir (bajra), prana dengan baswara (cahaya) dan quantum dengan kegelapan (bhayangkara). Jelas Wijaya sambil mondar-mandir di hadapan Asmarini dan Manggala lalu menggambarkan penjelasannya pada permukaan tanah.

__ADS_1


"Aku mengerti kang mas." Ucap mereka berdua serentak. "Lalu bagaimana kita mendapatkan wadah jiwa energi yang lain, jika kita hanya terlahir dengan satu wadah jia energi." Tanya Manggala dengan raut muka penasaran.


"Sungguh pertanyaan yang sangat bagus, saudaraku Manggala!". Puji Wijaya Kusuma. Wijaya terdiam beberapa saat, dan terus mondar-mandir sambil mengelus dagunya.


__ADS_2