
Jangan lupa like, koment, gift, dan vote agar author semangat menulis lanjutan chapter novel ini.
Mohon kritik dan saran yang membangun agar novel ini lebih baik lagi, jangan sungkan langsung berikan komentar cabe sahabat readers di kolom komentar.
Sudah crazy up 3 chapter ya gesss... hehehe. Tapi terhalang kuota, yang mau berbagi tips kuota monggo, canda.
Rah Tengger mengarahkan kedua telapak yang menghadap atas ke arah Wijaya, bola semesta kehancuran meluncur sangat cepat untuk menimpa Wijaya yang sudah terkapar di kawah yang besar.
SWUSH....BOOOM...JDAR....
Muncul siluet seperti jamur yang sangat tinggi dan besar bersinar sangat terang. Gelombang kejutnya menghempaskan sampai ke laut pantai selatan dan getarannya membuat gempa di bimantala javaruka.
GRRRR...GRRRR....KRAK...KRAK...KRAK...
Semua penduduk di bimantala Javaruka panik, "oh dewata agung apalagi yang terjadi, sering sekali terjadi gempa seperti ini. Ampunilah kami dewata agung, jangan berikan lagi bencana seperti ini lagi." Ucap salah satu penduduk di kerajaan Mataram dengan raut muka panik dan ketakutan.
Lokasi pertarungan wijaya dan Rah Tengger sangat dekat dengan perbatasan Kerajaan Demak Bintoro dan Mataram. Awan gelap masih menutupi langit, petir-petir kecil masih menyambar permukaan tanah di sekitar kawah, di mana Wijaya terkena serangan pamungkas Rah Tengger.
"Hahaaha, akhirnya mati juga kau bocah tengik, hahahaha." Rah Tengger tertawa kegirangan sambil menari-nari. "Meskipun aku harus menguras 12 tingkatanku, tapi aku puas bisa membunuh bocah tengik itu. Setelah aku mendapatkan kitab ajian pancer bhayangkara, wasiat iblis. Aku pasti tak terkalahkan, hahahaha."
Rah Tengger yang begitu kuatnya karena mempunyai wadah jiwa Quantum. Meskipun caranya harus menumbalkan 100 darah bayi yang baru lahir, 100 darah perawan, dan 100 darah perjaka untuk dipersembahkan kepada tujuh iblis Rah Pitayan.
Rah Tengger juga bisa naik tahapan secara singkat, karena menyerap energi yin dari para mayat. Semakin banyak yang diserap semakin cepat dan semakin tinggi juga kenaikan tingkatannya. Namun ajian dari kitab wasiat iblis mempunyai resiko yang cukup tinggi, setiap menggunakan ajian pancer bhayangkara, imumatayan (hisapan energi kematian), umurnya akan berkurang 5 tahun.
Dari balik kepulan asap terdengar suara tawa yang sangat keras. "Hahaha, hahahaha, kitab wasiat katamu, hahahaha. Kitab yang isinya lelucon seperti tak akan mempan padaku." Ternyata itu adalah Wijaya, pupil matanya berubah menjadi hitam pekat di kelilingi 7 tomoe berwarna hitam pekat juga.
__ADS_1
Wijaya berhasil membangkitkan bhayangkara aksa (mata kegelapan). "Ajian pancer bhayangkara, braka sewu bhayangkara (seribu pedang kegelapan).!" Muncul ribuan pedang seperti pedang cina berwarna hitam pekat sepanjang 1,5 meter. "Ajian pancer bhayangkara, rantai naga percola!" Dari dalam tanah muncul ribuan rantai berujung tombak yang sangat runcing.
Rah Tengger terbelalak matanya dan berkata dengan nada terbata-bata, "ti-ti-tidak mung-mung-mungkin harusnya kau sudah mati. ajian itu, ajian itu, tidak mung-mungkin. itu adalah ajian terlarang di kitab wasiat iblis, darimana kau mendapatkannya.?"
"Kau tak perlu tahu. Aku ini adalah sang maha jenius yang bisa melakukan apa saja tanpa batas. Bukakhunda (kunci/tutup)!" Wijaya meremas tangan kanannya. Ribuan naga percola menyerang Rah Tengger, dan secepat kilat meliuk-liuk menghindari serangan rantai percola Wijaya lalu melayang di udara. Wijaya mengangkat tangannya untuk menggerakan rantai naga percola agar menyerang Rah Tengger yang melayanh di udara.
SHUA...SHUA...SHUA...SYAT...SYAT...SYAT...
"Ajian pancer bhayangkara, skilda bhayangkara (perisai kegelapan)!" Tubuh Rah Tengger diselimuti bola perisai berdiameter 5 meter berwarna hitam transparan. Ribuan ujung tombak rantai naga percola menusuk Rah Tengger namun berhasil di tahan perisai kegelapan.
SHUA...SHUA...SHUA...JEB..JEB...JEB...
"Ajian pancer bantala, imubhayangkara (penghisap kegelapan)!" Rah Tengger merentangkan kedua telapak tangan, menghadapkannya ke kanan dan ke kiri lalu menangkupkan tangannya. Rah Tengger menghisap rantai naga percola yang terbuat dari pancer bhayangkara ke dalam tubuhnya.
SYUUT...SYUUT...SYUUT...KRAK...KRAK...
Ribuan rantai naga percola hancur dan terhisap ke dalam perisai kegelapan, tubuh Rah Tengger semakin membesar, urat ototnya kembali membesar seperti semula namun lebih kecil setengahnya.
Wijaya mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah Rah Tengger, Ribuan pedang berbentuk pedang cina melesat menuju Rah Tengger untuk menusuknya. "Dasar bodoh ajian terlarang apapun tak akan mempan padaku, hahahaha." Teriak Rah Tengger dengan nada sombongnya.
Ribuan pedang yang menyerang perisai kegelapan Rah Tengger tertahan di bagian luar perisai kegelapan lalu hilang terhisap ke dalam tubuh Rah Tengger, Wijaya menyeringai licik. "Kita lihat sampai kapan tubuhmu itu sanggup menahannya." Batin Wijaya bergumam.
Wijaya berhasil mendapatkan pancer bhayangkara dan bhayangkara aksa, karena terus menghisap energi pancer bhayangkara yang dilesatkan Rah Tengger dengan ripela aksa di telapak tangan kirinya. Kegunaan ripela aksa telapak tangan kiri Wijaya adalah menghisap energi dan membuatnya menjadi energi sendiri.
Semua energi dari jenis wadah jiwa apapun, bisa di hisap dan dijadikan energi bahkan menaikan kapasitas wadah jiwa energi jika menyerap pancer energi yang lebih kuat dan padat. Energi yang dilesatkan Rah Tengger sangat kuat dan padat hingga memicu bhayangkara aksa.
__ADS_1
Wijaya terus melancarkan ajian pancer bhayangkara seribu pedang ke Rah Tengger tanpa henti. Rah Tengger terus menghisap serangan seribu pedang Wijaya hingga tubuhnya membengkak seperti babi gemuk.
DUG...DUG...DUG...
Rah Tengger yang terus menghisap energi Quantum dari serangan Wijaya, wajahnya pucat pasi karna tubuhnya semakin membesar dan terus membesar. Tubuhnya di penuhi urat otot yang terus membesar dengan warna kuning terang. "Apa yang akan kau lakukan mau meledakanku ya, jangan lakukan! jangan lakukan! aku mohon ampuni aku! ampuni aku!" Rah Tengger terus meracau meminta ampun pada Wijaya.
Wijaya menghentikan serangannya dan melayang, lalu mendekati Rah Tengger yang masih melayang di atas udara dengan tubuh sangat bengkak seperti babi gemuk yang di beri air terus menerus. "Baiklah, aku akan mengampunimu meskipun kau ingin membunuhku barusan."
"Maafkan aku gusti maafkan, ampuni aku gusti! ampuni aku!"
"Baiklah minumlah ramuan ini!" Wijaya dengan telekinesisnya memberikan ramuan orja (budak) pada Rah Tengger. Tanpa pikir panjang Rah Tengger langsung meminumnya, "terima kasih gusti terima kasih!"
"Itu adalah ramuan budak. Jika kau berani macam-macam denganku dan berkhianat pada keluargaku, aku jamin kau akan berakhir menjadi bubur darah." Wijaya menerobos perisai kegelapan Rah Tengger.
"Gluk!" Rah Tengger menelan salivanya. "Ternyata gusti hanya mempermainkanku, ajian yang sulit ditembus saja bisa dengan mudah gusti menerobosnya. Syukurlah kalau tidak aku sudah berakhir menjadi babi gosong." Gumam Rah Tengger dalam batinnya.
Wijaya menempelkan telapak tangan kiri dengan ripela aksanya yang sudah aktif untuk menghisap energi Quantum Rah Tengger. "Aku akan menghisap energimu, pejamkan matamu!" Wijaya lalu menghisap dengan sangat cepat energi Quantum yang bersarang di tubuh Rah Tengger.
SYUUUT....BANG...BANG...BANG...
Kapasitas wadah jiwa Quantum Wijaya menembus 100% dan bhayangkara aksa berevolusi menjadi Tayana Aksa (mata kematian). Tubuh Wijaya diselimuti aura hitam pekat, lama kelamaan tubuh Rah Tengger yang seperti babi bengkak menyusut sedikit demi sedikit, lalu kembali seperti semula.
Perisai kegelapannya pun lenyap, taring, bulu, dan cakarnya pun menghilang. Nampak seorang pria dengan wajah yang cukup tampan, kulit putih bersih, berambut hitam panjang, dan berpupil mata bhayangkara aksa. Kondisinya sangat memprihatinkan dalam keadaan telanjang bulat.
Wijaya membalikan badannya, "sekarang tebus dosa-dosamu dan jadilah bagian dari keluargaku!. Namamu siapa?" Tanya Wijaya sambil mengeluarkan pakaian pasukan Wasesa Jaya( pakaian anbu dengan motif topeng kelinci) dari dalam ripela aksanya dan menyerahkan pada Rah Tengger "Pakailah pakain ini!"
__ADS_1
"Namaku aslinya bukan Rah Tengger, aku Anjasmara Sasongko seorang pangeran dari kerajaan Gadang Ambarawa dan pamilya Sasongko." Anjasmara menangkupkan tangannya lalu membungkuk hormat.
"Untuk menjadi kuat itu tak harus bersekutu dengan iblis, ada banyak cara menjadi kuat dan harus punya alasan serta tekad menjadi kuat. Jika kamu ingin menjadi kuat aku berjanji menjadikanmu kuat tapi gunakanlah untuk menegakan keadilan, membela yang lemah dan melindungi orang-orang yang kita sayangi." Ucap Wijaya dengan penuh kharisma dan wibawa.