
Sarapan pagi penuh kebahagiaan itu akhirnya selesai. Tuan Riko dan Mama Carissa pergi lebih dulu, karena mereka akan mulai mempersiapkan pernikahan Daffina secepatnya. Sedangkan Daffa, Sekar, Daffina, Gavin dan Aksa juga sudah mulai bersiap, sebab mereka akan segera menuju studio foto yang sudah di persiapkan sekretaris Sasha sebelumnya
Tidak lama, mobil yang dikemudikan Daffa akhirnya tiba didepan studio. Begitu masuk kedalam, tampak dua orang laki laki dan dua orang perempuan yang menunggu mereka. Ke-empat karyawan studio tersebut tampak menunduk singkat pada tamu mereka
"Kami yang sudah di tugaskan untuk membantu Tuan dan Nyonya bersiap. Mari Tuan, nyonya"
Empat orang tersebut mengarahkan mereka semua kedalam dua ruangan yang berbeda. Sekar bersama Daffina dan Aksa berada dalam satu ruangan bersama dua karyawan wanita yang tadi menyambut mereka. Sedangkan Daffa dan Gavin juga berada dalam satu ruangan yang sama, bersama dua pria yang akan membantu persiapan mereka
Sekar duduk berhadapan dengan cermin meja rias yang sudah tersedia. Daffina ikut duduk di kursi meja rias yang berbeda, dan membawa Aksa di sampingnya, dimana sudah tersedia satu bangku kosong disampingnya. Dua orang wanita yang merupakan Mua itu mulai melakukan tugas mereka. Memberikan polesan demi polesan ajaib dari tangan mereka
__ADS_1
Selesai dengan make-up. Kedua wanita itu mengambil baju pengantin yang akan Daffina dan Sekar kenakan untuk foto. Setelah itu, keduanya kembali diminta untuk duduk, dan mulai di pasangkan siger pada kepala keduanya.
Daffina memandang takjub dirinya dalam balutan baju adat kesaibatinan Lampung. Sedangkan Sekar juga menatap dirinya dengan takjub, terlebih dengan pakaian Pepadun Lampung yang saat ini ia kenakan. Pakaian Daffina dan Sekar memang sama sama berasal dari Bumi Rua Jurai, Lampung.
Yang membedakan adalah, jika Daffina menggunakan pakaian adat Lampung Saibatin, dimana seluruh aksesoris dan pakaiannya di dominasi berwarna merah, dengan siger atau mahkota yang berbentuk kerucut dengan tujuh lekukan diatasnya. Maka berbeda dengan Sekar yang tampak anggun dengan balutan pakaian adat Lampung Pepadun, baju brokat berwarna putih, dengan sarung khas berwarna ke-emasan, dan sebuah siger yang hampir mirip dengan milik Daffina, hanya saja jika milik Daffina memiliki tujuh jeruji atau lekukan, maka siger yang di kenakan Sekar memiliki sembilan lekukan
"Kau juga sangat cantik, bahkan aura pengantinmu sudah sangat terlihat Fin" ujar Sekar
"Benarkah?" Daffina meraba wajahnya dan tersenyum saat mendengar pujian Kakak Iparnya. Ia kemudian melirik Aksa yang menatapnyanya tanpa berkedip "Apa Mama cantik?" tanya Daffina, seakan tak cukup hanya mendapat pujian dari Kakak Iparnya
__ADS_1
"Mama cantik" ujar Aksa sembari mengangguk dan tersenyum
"Benarkah? Oh, Mama bahagia sekali mendengarnya Sayang, terima kasih" Daffina memeluk putra sambungnya dengan gemas
Sedangkan di dalam ruangan Daffa dan Gavin. Tidak jauh berbeda, kedua laki laki itu juga sudah tampak gagah dengan setelan pakaian adat yang mereka kenakan. Pakaian adat yang begitu serasi dengan kopiah emas yang ada diatas kepala keduanya, menambah wibawa kedua laki laki itu kian terpancar
"Mari Tuan, sesi pemotretannya akan segera di mulai"
Daffa dan Gavin mengangguk, kemudian mengikuti langkah dua laki laki yang tadi merias mereka menuju sebuah ruangan yang akan mereka gunakan. Disana, sudah ada Daffina dan Sekar yang menunggu kedatangan para pangeran mereka. Melihat Daffa dan Gavin yang begitu gagah dengan setelan pakaian adat yang senada dengan yang mereka kenakan, membuat dua wanita itu begitu terpana. Tidak terkecuali Aksa, yang juga ikut tersenyum melihat sang Papa yang terlihat begitu tampan
__ADS_1