
"Ada apa kau memanggilku?" tanya Daffa yang kini berangsur memasuki ruang baca, dan ikut duduk bersama Gavin
"Aku ingin menitipkan Aksa padamu. Maksudku, aku ingin memulai hubunganku dengan baik bersama Daffina, dan aku tidak mungkin membawa Aksa" ucap Gavin to the point
"Memang kalian akan kemana? Kau jangan macam macam dengan adikku" ancam Daffa
"Kau tenang Saja, meskipun sebenarnya akupun sulit untuk mengontrol diriku saat berhadapan dengan adikmu yang pecicilan itu, tapi aku akan jamin, bahwa aku tidak akan berbuat macam macam padanya. Aku hanya ingin membuat hubungan kami menjadi lebih akrab, karena selama ini hubungan kami hanya sebatas saling menguntungkan" Ucap Gavin menjelaskan "Jadi bagaimana, kau bisa mengurus Aksa?"
"Kenapa pikiranmu dan istriku bisa sejalan, barusaja aku akan menemuimu untuk membicarakan ini, tapi ternyata tanpa perlu susah payah, kau justru sudah lebih dulu mengatakan keinginanmu"
"Benarkah? Apa itu artinya yang sebenarnya berjodoh itu aku dan istrimu?" goda Gavin saat mendengar jika pikirannya dan calon Kakak Iparnya ternyata begitu sejalan
"Jangan langkahi batasanmu" kata kata keramat kembali Daffa ucapkan, yang membuat senyum Gavin terlihat mengembang
"Baiklah, maafkan aku. Jadi bagaimana tentang ucapanku, kau menyanggupinya?"
"Oke, deal" keduanya berjabat tangan
*
__ADS_1
Daffina sudah siap dengan dress simpel pilihannya. Ia segera mengambil tas bahunya, dan keluar dari kamar. Begitu melewati kamar Kakaknya yang memang tepat bersebelahn dengan kamarnya, ia mengetuk pintu kokoh tersebut. Sebab, ia harus izin terlebih dahulu pada calon anak sambungnya yang saat ini berada dalam pengawasan Kakak dan Kakak Iparnya.
"Kak, boleh aku masuk?"
"Masuklah"
Daffina membuka pintu kamar. Begitu pintu terbuka, terlihat Aksa yang tengah bermain dengan stetoskop anak anak, dan tengah memeriksa perut Sekar, Kakak Iparnya "Kenapa Nak, apa Bunda sakit?" tanya Daffina seolah cemas, tentu saja hal itu ia lakukan untuk membuat anak sambungnya yang terlihat masih fokus itu melihat kearahnya
"Mama..." Aksa segera merentangkan tangannya dan memeluk Daffina
"Apakah Bunda sakit?" tanya Daffina lagi setelah melepas rengkuhannya
"Benarkah?" tanya Daffina tak percaya, ia juga sedikit melirik Kakak Iparnya yang masih berbaring, seolah meminta penjelasan
Mengerti akan tatapan Daffina, Sekar tersenyum "Usianya baru menginjak tiga bulan"
Daffina mengangguk. Jawaban Kakak Iparnya seolah mengatakan segalanya, karena tidak mungkin kehamilan tiga bulan bayi sudah bisa menendang. Daffina kembali melihat Aksa "Aksa senang main bersama Ayah dan Bunda?" tanya Daffina
"Senang Ma, Aksa jadi dokter" tunjuk Aksa pada stetoskop mainan yang menggantung di lehernya
__ADS_1
"Wow, Mama's son is so cool" seru Daffina bangga
"Of course, mom"
"Baiklah, kalau begitu Aksa main lagi dengan Ayah dan Bunda, dan Mama izin keluar sebentar bersama Papa, tidak apa apa kan?"
"It's okay Mom"
"Terima kasih Sayang" Daffina melabuhkan kecupan bertubi tubi pada wajah Aksa, dan membuat Aksa tertawa riang "Kak, aku titip Aksa ya" ujar Daffina pada Sekar
"Nikmati waktumu, dan untuk Aksa, kau tidak perlu khawatir, serahkan Aksa padaku dan Mas Daffa, kami pasti menjaganya"
"Terima kasih, aku berangkat"
Daffina keluar dari kamar Kakak Iparnya, dan langsung saja menuruni tangga menuju lantai satu. Begitu menuruni tangga, terlihat Gavin bersama kedua orangtuanya yang berada di ruang keluarga "Malam Ma"
Sapaan yang barusaja terlontar, membuat Gavin, Daddy Riko, dan Mama Carissa menatap kearah Daffina secara bersamaan. Gavin menatap Daffina takjub, jika awal pertemuan mereka di Singapore waktu itu wajah Daffina terlihat cantik dengan make-up flawless, dan selama berada di Lampung, Daffina justru terlihat cantik tanpa riasan, tapi malam ini Daffina terlihat begitu cantik dengan dress hitam dan make-up naturalnya. Gavin bahkan sulit untuk mengalihkan pandangannya dari Daffina
"Sudah, kalian berangkat saja, takut terlalu malam. Have fun" seru Mama Carissa
__ADS_1