Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku

Kugapai Cintamu Mr.Cuek-ku
Bab 106


__ADS_3

Mobil yang Gavin kendarai telah tiba di wisata malam, Kota Tua Jakarta. Gavin melirik Daffina sebelum turun dari mobil. Menunggu, jika ada protes dari calon istrinya tentang wisata yang mereka kunjungi. Namun ternyata, Daffina hanya diam, dan tidak mempertanyakan apapun


"Kau tidak menyukai tempat ini?" tanya Gavin


"Aku tidak tahu, karena aku belum pernah kesini sebelumnya"


"Belum pernah kesini?" Gavin sedikit mengernyit saat mendengar jawaban Daffina. Mana mungkin, anak Jakarta satu ini tidak pernah mengunjungi wisata classic ini "Baiklah, kalau begitu mari kita coba"


Gavin turun dari mobil lebih dulu, lalu beralih menuju pintu mobil yang ditempati Daffina. Ia mengulurkan tangannya yang disambut Daffina dengan sedikit malu malu, benar benar menggemaskan. Gavin mengajak Daffina mengunjungi berbagai tempat di Kota Tua tersebut.


"Jadi, kenapa kau belum pernah mengunjungi tempat ini?" tanya Gavin


"Tidak tahu, aku memang jarang berwisata saat di Jakarta. Tapi aku sangat suka berwisata ke Luar Negeri, itu sangat menyenangkan"


"Kalau begitu, kau juga harus merasakan betapa menyenangkannya wisata disini, ayo"


Gavin menggandeng tangan Daffina untuk berjalan bersamanya. Banyak para pejalan kaki seperti mereka di tempat ini, sebab tempat ini memang melarang sepeda motor dan mobil untuk masuk. Sehingga suasana malam hari yang ramai terasa cukup damai


"Lalu bagaimana denganmu, apa kau sering mengunjungi tempat ini?" tanya Daffina mengembalikan pertanyaan yang sempat diucapkan Gavin

__ADS_1


"Dulu iya, tapi sudah lama aku tidak mengunjungi tempat ini lagi"


"Kenapa?" tanya Daffina penasaran


"Jangan mempertanyakannya sekarang" jawab Gavin, sembari terus melangkah


"Tapi kenapa? Apa ini berhubungan dengan Mama-nya Aksa? Kalau iya, aku tidak apa apa. Aku tetap siap mendengar cerita masa lalumu, meskipun itu menyakitkan untukku"


Gavin menghentikan langkahnya, dan memandang Daffina dengan intens. Tidak mudah baginya melupakan istrinya yang telah tiada itu. Bahkan hingga detik ini, rasa cinta di hatinya sama sekali belum pudar sedikitpun. Ia bahkan merasa sedikit bersalah karena akan menikahi Daffina hanya demi kebahagiaan Aksa


"Belum saatnya Fin, sekarang kita nikmati waktu kita saja dulu. Justru aku penasaran dengan hidupmu, jadi ada berapa mantan pacarmu?" tanya Gavin mencoba mengalihkan pembicaraan


"Berapa?"


"Tiga orang"


"What? Tiga orang? Kau bahkan sudah menginjak usia dua puluh sembilan tahun, dan sebentar lagi usiamu mencapai tiga puluh tahun, dan kau hanya memiliki tiga mantan?" tanya Gavin tak percaya, mengingat profesi Daffina yang merupakan seorang entertainer membuat Gavin sedikit tidak yakin dengan jawaban Daffina


"Kau jangan salah, aku ini tipe wanita setia" ujar Daffina bangga

__ADS_1


"Jadi siapa saja mantan kekasihmu, apa mereka juga satu profesi denganmu?" tanya Gavin


"Ada yang iya, ada yang tidak. Sudahlah, jangan membahas mantanku karena aku tidak suka mengingat masa lalu"


"Baiklah"


Gavin kembali melanjutkan langkahnya membawa Daffina mengelilingi berbagai wisata disana. Setelah cukup lelah berkeliling, kini Gavin membawa Daffina untuk duduk di jembatan yang tidak jauh dari tempat mereka sekarang. Keduanya duduk berdampingan di jembatan tersebut, sembari melihat lampu lampu kota yang terlihat dari tempat mereka saat ini


"Sejujurnya aku penasaran, kenapa kau mau menikah denganku, dengan statusku yang sudah berbeda denganmu" ujar Gavin


"Karena kau tampan, apa lagi?" jawab Daffina cepat


"Selain itu?"


"Karena aku mencintaimu"


Gavin menatap Daffina saat mendengar kata cinta yang bahkan diucapkan Daffina tanpa berpikir lama. Ia tersenyum tipis, karena merasa Daffina benar benar berbeda. Di matanya, Daffina adalah sosok gadis pecicilan yang terkadang bisa menjadi dewasa saat berhadapan dengan Aksa, dan kini ia menemukan satu fakta baru tentang Daffina, bahwa wanita yang akan menjadi istrinya ini adalah wanita yang bisa mengungkapkan isi hatinya secara gamblang


"Terima kasih"

__ADS_1


__ADS_2