
Daffa menutup sambungan teleponnya dengan senyum yang masih terpatri. Ia meraih kopernya dan membawanya mendekati mobil Arga yang sudah menunggu. Ia membuka bagasi mobil Arga, dan segera memasukkan kopernya
"Kenapa cepat sekali kau kembali?" tanya Arga, sebab seingatnya Daffa mengatakan mungkin akan menghabiskan waktu tiga sampai empat hari di luar kota. Namun kenyataannya di hari kedua saja sahabatnya ini sudah kembali ke Ibukota
"Aku merindukan istriku, memangnya kau yang betah bekerja di luar kota dalam waktu yang lama karena tidak ada yang menunggu kepulanganmu"
Daffa berlalu meninggalkan Arga yang masih tampak sebal padanya. Ia membuka pintu mobil Arga, dimana dirinya biasanya duduk. Namun hal yang amat sangat mengejutkan hadir di depan matanya. Ia menutup kembali pintu mobil, dan berjalan mendekati Arga yang masih bersedekap di luar mobil
"Kau menculik anak gadis siapa?" tanya Daffa
"Menculik? Enak saja, dia kekasihku" ujar Arga tak terima
"Kekasih? Sejak kapan?"
__ADS_1
"Sejak kau memecatnya dari perusahaanmu"
Daffa diam, ia mulai mencerna ucapan Arga padanya. Ingatannya seketika melayang pada beberapa bulan yang lalu saat dirinya memarahi seorang Office Girl yang bekerja di kantornya karena tidak membuatkan kopi dengan benar untuknya, atau kata yang lebih tepat adalah karena Office Girl tersebut tidak membuat kopi seenak buatan sang istri. Daffa kemudian melirik Arga dengan tatapan memicing
"Lalu kau apakan dia, kenapa dia terlihat kelelahan, apa jangan jangan kau..."
"Jangan sembarangan kalau bicara. Aku ini masih sangat waras untuk tidak berbuat macam macam pada anak gadis orang" Arga melirik wanita yang masih tidur di dalam mobilnya tersebut "Sejujurnya dia masih belum menjadi kekasihku, aku baru mulai mendekatinya"
"Memangnya, kau sudah benar benar bisa melupakan Hanna?"
Huh
Arga menghela napas kasar, sembari menggeleng "Belum sepenuhnya"
__ADS_1
"Lalu kau akan mulai mendekati seorang gadis, sedangkan urusanmu dengan masa lalumu saja belum selesai? Jangan egois Ga, ingat kau sudah pernah merasakan sakitnya kehilangan, jangan sampai kau merasakan kembali hal yang sama, saat wanita itu pergi dari hidupmu karena kau yang tidak bisa memilih antara dirinya dan masa lalumu" nasehat Daffa
"Jangan karena kau sudah menikah, dan sebentar lagi akan memiliki anak, kau jadi berusaha menceramahiku. Ingat, jika tidak karena bantuanku, kau tidak akan pernah bisa berdamai dengan istrimu" ujar Arga kesal
Menanggapi perkataan Arga, Daffa hanya tersenyum kecil, dan menepuk bahu sahabatnya "Aku sangat percaya kau bisa mengatasi masalah percintaanmu, karena kau adalah seorang pakar cinta"
"Terima kasih. Oh iya, untuk sementara kau tidak bisa duduk di depan, jadi dengan sangat amat terpaksa, silahkan duduk di belakang"
Daffa memberengut kesal, sebelum akhirnya masuk kedalam mobil. Arga ikut masuk, dan duduk di depan kemudi, setelah itu ia mulai melajukan kendaraanya menuju kediaman Dirgantara. Tidak lama, akhirnya mereka tiba di depan kediaman megah keluarga Dirgantara
"Terima kasih bro" Daffa melambaikan tangan singkat
Setelah mobil Arga tidak lagi terlihat dalam pandangan Daffa. Daffa segera masuk kedalam rumah. Kesunyian begitu terasa saat ia menginjakkan kaki di ruang tamu. Ia menarik kopernya, dan meletakkannya di bawah tangga, sedangkan dirinya segera melangkah menuju lantai dua. Begitu membuka pintu kamar, kamar tampak lengang dan kosong
__ADS_1
Daffa melangkah pelan masuk ke kamar. Melihat kesana kemari, tetapi sama sekali tidak melihat keberadaan istrinya. Ia berjalan menuju balkon, saat melihat pintu balkon yang terbuka, dan benar saja, istrinya tengah berbaring santai di sofa balkon, dengan sebuah buku di tangannya
"Assalamu'alaikum Sayang"